Untuk membuat minyak sulfat kita membutuhkan minyak sebagai bahan dasar. Minyak sendiri bervariasi dalam sifat- sifatnya seperti dalam titik beku dan larutannya, tegangan antara permukaan atau bidang pemisah terhadap air ciri- ciri polar, viscositas, dan sebagainya. Penyebab semua perbedaan itu adalah susunan kimiawinya dari berbagai minyak.
Karena glycerine adalah umum pada susunan semua minyak, maka perbedaan diantara mereka ada dalam sifat kimiawi asam lemak yang berkombinasi dengan glicerine. Sifat asam lemak yang ada dalam minyak menentukan ciri – ciri fisiknya yang penting dari sudut pandang fatliquoring dan menetukan cara dimana minyak bereaksi dengan asam sulfat.
Minyak sulfat dapat dibuat dengan mereaksikan asam sulfat pekat dengan beberapa jenis minyak termasuk minyak sawit. Minyak sulfat ini merupakan bahan yang terpenting dalam perkembangan fatliquor. Minyak sulfasian dibuat dengan menggunakan minyak yang dikendalikan, waktu, dan besarnya agitasi, yang diikuti dengan mencuci campuran minyak dan asam dengan larutan garam untuk mengambil asam yang berlebihan. Minyak sulfasian umumnya dinetralkan dengan sodium, potassium, atau amonium hidroksida sampai pH yang diinginkan tercapai.langkah ini membuat kadar lembab, total alkalis dan sebagainya dapat disesuaikan pada level-level yang diinginkan.
Reaksi pendahuluan ketika asam sulfurik bereaksi dengan minyak atau gemuk cair terjadi pada kelompok hidroksil lau disusul dengan reaksi pada ikatan ganda. Minyak sulfasian terutama terdiri dari bahan lemak netral yang terdiri atas gliserida yang tidak tereaksi, digliserid yang dibentuk oleh reaksinya asam lemak yang memiliki sifat aktif permukaan dan glicerida sulfasian serta asam lemak sulfasian yang memiliki sifat aktif permukaan kuat. (Retzsetriec, Clinton E. 1995)
Banyak fakor yang berpengaruh pada proses pembuatan minyak sulfat antara lain jenis minyak yang dipakai. Disini karakteristik dari minyak yang dijadikan bahan dasar pembuatan minyak sulfat akan sangat mempengaruhi kualitas minyak tersebut. Begitu juga dengan perbandingan antara asam dengan minyak, semakin banyak asam yang diberikan akan membuat proses pencucian dan netralisasi menjadi semakin lama.
Pemilihan jenis asam yang digunakan juga akan membuat perbedaan pada proses sulfatasi dimana seharusnya kita menggunakan jenis asam sulfat yang merupakan jenis asam kuat. Suhu dan waktu pereaksian juga merupakan faktor yang tidak kalah penting dalam proses pembuatan minyak sulfat. Misalnya saja pada proses suhu diatur tidak boleh melebihi25 o C dengan waktu reaksi yang ditetapkan sesuai dengan jumlah minyak yang kita reaksikan. Semua faktor yang mempengaruhi proses pembuatan minyak sulfasian tidak terlepas dari proses akhir yang dilakukan yaitu pada proses netralisasi dan pencucian.
- Pengujian Minyak Sulfat
Dalam analisa kualitas minyak sulfat, adapun hal-hal yang perlu dianalisa untuk menetukan paramameter dari minnyak sulfat tersebut antaralain:
- Analisa kadar air
Pengujian kadar air perlu dilakukan karena untuk mengukur seberapa besar kandungan air yang masih terdapat dalam minyak sawit. Semakin besar kandungan air yang terdapat dalam minyak sawit, maka semakin encer minyak tersebut.
- Analisa kadar SO3
SO3 bersifat sangat reaktif. SO3 mudah bereaksi dengan air dan membentuk asam sulfas atau H2SO4. Asam sulfat ini sangat reaktif, mudah bereaksi, dan bersifat merusak. Oleh karena itu sebisa mungkin kadar SO3 yang terdapat pada minysk sulfat dihilangkan.
- Uji emulsi minyak dalam air hangat
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam minyak sulfat adalah mengenai suhu maksimal teremulsinya minyak dalam air. Hal ini digunakan sebagai parameter untuk menentukan suhu yang paling efektif dalam proses fatliquoring. Semakin tinggi temperature pecahnya minyak, maka semakin bagus pula minyak sulfat tersebut.
- Aplikasi penyamakan kulit
Proses penyamakan krom pada dasarnya mengikuti teori atau hukum golden Rule yaitu pada awal penyamakan berlangsung dengan " rate of diffution " (kecepatan ikatan) yang rendah dan tahap selanjutnya rate of fixation naik secara berangsur-angsur, sehingga pada akhir penyamakan dicapai rate of fixation tinggi dan rate of diffision rendah.
Penyamakan dengan garam krom pada prinsipnya mengusahakan agar supaya Cr2O3 dapat masuk, dan menempatkan diri dalam kulit pada tahap awal yang pada akhirnya mengadakan ikatan dengan protein kollagen kulit. Kecepatan masuknya zat penyamak dapat berlangsung dengan baik apabila reaktifitas zat penyamak krom dengan protein kollagen pada kulit sangat rendah. Hal ini dapat berlangsung dengan baik apabila zat penyamak krom mempunyai basisitas yang cukup rendah tetapi jangan terlalu rendah, karena akan menyebabkan sulitnya zat zat penyamak untuk tetap berada diantara serat-serat kulit atau reaktifitasnya sangat rendah.