Laporan Praktikum Kimia Analisis, Kimia Organik, Analisis Bahan Kulit, Analisis Karet

Friday, 8 July 2011

ANALISA KADAR DAN BASISITAS KROM OKSIDA DALAM BAHAN PENYAMAK KROM


ANALISA KADAR DAN BASISITAS KROM OKSIDA DALAM
BAHAN PENYAMAK KROM

            I.      TUJUAN PRAKTIKUM
Setelah melaksanakan praktikum diharapkan mahasiswa mampu :
Menetapkan kadar dan basistas  krom  dalam zat penyamak Krom serta untuk mengerti  cara menganalisa kadar Krom  dalam bahan Penyamak Krom.

         II.      DASAR TEORI
Bahan penyamak mineral ada beberapa macam diantaranya garam-garam besi aluminium, zirconium dan yang paling populer adalah crom. Garam besi menghasilkan kulit yang kurang baik warnanya dan mudah regas/patah, sedang garam aluminium menghasilkan kulit berwarna putih namun sebenarnya bukan menyamak, melainkan mengawetkan saja. Garam zirconium menghasilkan kulit denan sifat-sifat baik seperti ulet, berisi dan berwarna putih tetapi karena sukar didapat, mahal dan dalam pemakaian dibutuhkan dalam jumlah banyak, bahan penyamak ini menjadi kurang populer.
Garam krom yang dapat digunakan dalam bahan penyamak adalah garam Cr yang bervalensi 3, biasanya dalam bentuk senyawa crom sulfat basis, dalam garam ini selain sisa asam juga terdapat gugus hidroksida (OH) yang terikat pada atom Cr dapat mengikat OH disebut bsisitas. Selain dari basisitas mutu dari bahan penyamak crom ditentukan terutama oleh kadar kromnya yang bisanya dinyatakan sebagai Cr2O3.
Sifat dari larutan crom adalah sebagai berikut:
·      Dalam larutan pekat molekulnya kecil sehingga penetrasinya mudah.
·      Sebaliknya dalam  larutan pekat molekulnya besar sehingga penetrasinya sukar.
·      Pada basisitas rendah daya ikat (fiksasi) rendah.
·      Sebaliknya dalam basisitas tinggi daya ikat tingggi.
·      Pada basisitas rendah mudah larut.
·      Sebaliknya pada basistas tinggi mengendap.
Bahan mineral chrom yang ada dialam masih bervalensi 6+ sedangkan bahan chrom yang bisa dijadikan sebgai bahan penyamak adalah bahan chrom yang bervalensi 3+ oleh sebab itu dibutuhkan suatu proses (reduce chrom) terlebih dahulu agar chrom yang bervalensi 6+ tersebut menjadi chrome yang bervalensi 3+.
Proses reduce chrome merupakan suatu proses untuk menurunkan valensi chrom dari yang bevalensi 6+ menjadi chrome yang bervalensi 3+ sehingga cocok untuk dijadikan bahan penyamak, chrome bervalensi 6+ tidak dapat dijadikan bahan pennyamak disebabakan chrome yang bervalensi 6+ tidak dapat bereaksi dengan molekul penyusun kulit sehingga bahan tersebut masih perlu direduksi menjadi chrome yang bervalensi 3+, bahan-bahan reduktor yang dapat digunakan adalah glukosa, kanji, gandum, sukrosa,dan lain-lain.
Pembuatan Reduce Chrom
Reduce khrome berasal dari kalium dikromat (K2Cr2O7), dengan bahan reduktor sukrosa (gula pasir) dan reaksi yang terjadi antra kalium dikromat dengan gula pasir adalah sebagai berikut:
8 x K2Cr2O7                K2O  +  Cr2O3  +  3O
8 x (K2O  + H2SO4                K2SO4  + H2O)
8 x (Cr2O3  +  2H2SO4                 Cr2 (OH)2(SO4)2  +  H2O )
   ( C12H22O11  + 24O                12 CO2  +  11H2)
8 K2Cr2O7  +  C12H22O11 + 24 H2SO4                  K2SO4  + 8Cr2(OH)2(SO4)2 + 12 CO2 + 27H2O
Penyamakan Chrome
Pada proses penyamakan dengan Bahan penyamak khrom terjadi ikatan antara bahan penyamak chrom dengan protein kulit dengan melalui jembatan gugus-gugus hidroksil (OH-). Jadi gugus (OH-) berikatan dengan atom Cr yang bervalensi 3+ dan berikatan dengan gugus asam amino protein kalogen sehingga merupakan jembatan.
Jembatan-jembatan yang terbentuk ini disebut juga ikatan silang (cross linked). Ikatan silang terbentuk selama proses penyamakan yang menyebabkan kulit mentah berubah sifatnya menjadi kulit tersamak dengan sifat-sifat tertentu baik secara fisis maupun secara kemis.
Zat penyamak yang lebih banyak digunakan adalah dalam bentuk khromium sulphat basa. chrom yang terkandung dalam garam-garam ini dibatasi (dalam analisa) sebagai chromium oksida (Cr2O3) yang banyak terdapat dipasar dengan kadar Cr2O3 =25%. Dan salah satu contoh produknya adalah cromosal B.
Kromium tampak dalam gabungan-gabungan dalam “keadaan bermuatan” yang berbeda-beda, disebut juga dengan valensi-valensi. Gabungan-gabungan itu dapat digunakan untuk penyamakan, adalah turunan dari garam-garam kromium trivalen. Garam-garam kromium hexavalen digunakan dalam proses dua bak, namun garam-garam ini tidak mempunyai pengaruh penyamakan sampai mereka dikurangi (bak kedua) hingga berada dalam keadaan trivalen.
Contoh-contoh berikut ini merupakan gabungan-gabungan trivalen :
                  Cl                                Cr = = SO4                              Cr = = O
Cr              Cl                                            SO4                                          O
                  Cl                                Cr = = SO4                              Cr = = O
Chromium Chlorida                      Chromium sulphate                 Chromium Oxide
Bahan penyamak krom yang paling banyak digunakan adalah bahan penyamak chromium basa sulfat. Kandungan chromium sulfat dari garam-garam ini diperkirakan (dengan analisa) sebagai chromium oksida dan dengan demikian disebut kromium oksida. Kandungan kromium oksida (Cr2O3) dari sebagian besar produk-produk yang dijual di pasaran berjumlah hingga 25%. Akan tetapi terdapat juga produk-produk komersil khusus dengan kandungan Cr2O3 sebanyak 35%.
Bahan penyamak krom adalah salah satu bahan penyamak mineral yang sering dipakai untuk penyamakan kulit box, kulit glase, kulit jaket, kulit upper shoes dan lain sebagainya. Bahan penyamak krom dapat memberikan efek lembut pada kulit, kerapatan nerf sangat halus. Produk bahan penyamak krom yang biasa digunakan antara lain Chrometan B, dan Chromosal B, kandungan bahan penyamak krom adalah krom oksida (Cr2O3). Sifat bahan penyamak krom adalah, basisitas rendah, molekul kecil, daya ikat kecil, dan penetrasi cepat, dalam larutan yang encer molekul akan membesar. Prinsip penetapan kadar krom oksida (Cr2O3) dalam bahan penyamak krom adalah, krom dalam sampel diubah menjadi kalium dikromat (K2Cr2O3), kemudian kalium dikromat direaksikan dengan larutan kalium iodide (KI) dalam suasana asam HCl dan selanjutnya iod yang dibebaskan dititar dengan larutan standar tio sulfat (Na2S2O3) 0,1N dengan menggunakan indicator amylum, kadar krom oksida dihitung berdasarkan mgrek tio yang dibutuhkan untuk titrasi iod yang dibebaskan. Adapun reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut;
K2Cr2O3  +  8KI  +  14HCl               8KCl  +  2CrCl3  +  7H2O  +  3I2
2Na2S2O3  +  I             Na2S4O6  +  2NaI




     III.      PROSEDUR KERJA
A.   Alat dan Bahan yang Digunakan
1.      Alat-alat yang digunkan:


Ø  Erlenmeyer 250 ml
Ø  Gelas arloji
Ø  Pengaduk kaca
Ø  Gelas ukur 50 ml
Ø  Gelas beker 100 ml
Ø  Labu ukur 250 ml
Ø  Pipet gondok 25 dan 10 ml
Ø  Corong kaca
Ø  Kompor listrik
Ø  Botol semprot
Ø  Buret
Ø  Statif dan klem
Ø  Termometer
Ø  Neraca analitis


2.      Bahan-bahan yang digunakan


Ø  Bahan Penyamak krom paten dan buatan
Ø  NaOH 0,1 N
Ø  Aquades 
Ø  H2O2 3%
Ø  Kertas saring
Ø  HCl 4 N
Ø  KI 1 N
Ø  Indikator amilum
Ø  Indikator PP
Ø  Larutan thio 0,1 N





B.   Langkah Kerja
Langkah kerja dalam melakukan analisa kadar dan basisitas krom yang terkandung dalam bahan penyamak  krom adalah sebagai berikut:
a.       Timbang 1,5 gram bahan penyamak   krom dengan gelas aorloji , larutkan dalam labu ukur kedalam 250 ml air dan tepatkan sampai  batas tambah  lalu homogenkan
b.      Pipet sebanyak 25 ml larutan tadi  masukan kedalam erlenmeyer  sumbat 250 ml  tambahkan  10 ml NaOH dan 10 ml H2O2 panaskan sampai mendidih  lalu dinginkan, setelah dingin  kemudian Tambahkan 10 ml  HCl 4 N  dan 10 ml larutan KI 1 N diamkan di tempat gelap  selama  10 menit  kemudian dititer dengan larutan thio 0,1 N  sampai mendekati titik ekivalen  larutan berwarna  kuning, lalu tambahkan indikator amilum dan titar kembali dengan larutan thio 0,1 N ( perubahan dari biru sampai hijau  muda )
c.       Hitung kadar krom oksida dalam bahan penyamak krom dengan Rumus sebagai berikut
d.      Penetapan Basisitas bahan penyamak krom dilakukan dengan memipet cairan yang telah diencerkan tadi sebanyak 25 ml masukan dalam erlenmeyer 250 ml ditambahkan indikator PP titrasi dengan Larutan NaOH 0,1 N  sampai warna Merah muda. selanjutnya ditambahkan dengan 100 ml aquades panas  dan titrasi kembali dalam keadaan panas catat volume NaOH yang digunakan.
e.       Hitung basdisitas Bahan Penyamak Krom  dengan Rumus

     IV.      HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
A.  Hasil Pengamatan
1.      Penetapan kadar krom oksida
Ø  Berat sampel krom paten              : 1,4967 gram
Ø  Berat sampel krom buatan            : 1,4933 gram
Ø  Volume pengenceran                    : 250 ml
Ø  Volum sampel untuk titrasi           : 25 ml
Ø  Volume NaOH 0,1 N                    : 10 ml
Ø  Volume HCL 4 N                         : 10 ml
Ø  Volume H2O2 3%                                    : 10 ml
Ø  Volume KI 1N                              : 10 ml
Ø  Indikator amilum                          : 3 tetes
Ø  Volume thio untuk krom paten     : 22,35 ml
Ø  Volume thio untuk krom buatan   : 34,5 ml
Ø  Hasil pengamatan                          :
-          Larutan ditambahkan thio 0,1 N menjadi warna kuning,setelah ditambahkan indikator amilum kemudian dititrasi dengan thio 0,1 N larutan dari warna biru menjadi hijau muda.




2.      Uji Basisitas Krom
Ø  Berat sampel krom paten                             : 1,4967 gram
Ø  Berat sampel krom buatan                           : 1,4933 gram
Ø  Volume pengenceran                                   : 250 ml
Ø  Volume sampel untuk titrasi                        : 25 ml
Ø  Volume NaOH 0,1 N untuk Krom paten    : 13 ml
Ø  Volume NaOH 0,1 N untuk Krom buatan  : 7,3 ml
Ø  Volume aquades                                          : 100 ml
Ø  Indikator PP                                                 : 3 tetes
Ø  Hasil pengamatan
-          Larutan ditambahkan indikator pp warnanya tetap berwarna biru, kemudian setelah dititrasi dengan NaOH 0,1 N larutan berubah menjadi warna pink,lalu  ditambahkan aquades 100 ml larutan menjadi warna biru lagi dan dititrasi kembali sampai warna pink.sedangkan pada produk paten terdapat endapan.

B.   Perhitungan
Kadar Krom
Ø  Untuk paten
Ø  Untuk buatan

Basisitas Krom
Ø  Untuk paten
Ø  Untuk buatan
iklan banner
iklan banner