BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Fatliquoring telah dikembangkan pada abad yang lalu. Awal fatliquoring didasarkan campuran minyak alami dan sabun,bahan
penggemuk lainya yang mampu membentuk air dalam emulsi minyak seperti degra dan
lanolin yang mempunyai banyak
manfaat,kuning telur yang yang mengandung lechitin juga bernilai tinggi
terutama dalam fatliqouring pada sarung tangan kulit.bahkan sabun dan tepung
dignakan dalam campuran ini untuk membentuk emulsi partikel kasar yang dapat
memberikan derajat stabilitasi koloidal tertentu.
Kulit yang tersamak
dalam kondisi basah relatif lemas,kulit samak krom relatif lebih lentur
daripada kulit samak alami,namun air dibuang selama proses pengeringan,kohesi
antara serat terjadi.ini mengakibatkan keras,kulit yang keras sulit di
rehidrat.fenomena ini lebih terlihat pada penyamak krom dari pada penyamak
mineral,buktinya kulit krom tidak mengandung interfibrillary pengisis seperti
bukan penyamak dan tidak larut yang memiliki efek mempermudah dan memisahkan
larutan.
Dengan pengenalan bahan pelumas ke dalam kulit
yang hilang selama proses pengeringan,dan kekuatan pergeseran kulit dalam serat
yang tereduksi.semua itu memberikan serat-serat salaing merubah. pada pokoknya
fatliqouring sederhana lubricantion phenomenom. bagaimana dan apa mencapai ini
apa lebih rumit dan perkara bisa dibantah.
Di kulit yang basah diperlakukan dengan air minyak
tidak dapat larut dan pertolongan tangan.kemudian pengembangan ke luar dan drum mengikuti bulu dan kulit menjadi
lentur.
Akan tetapi, kondisi untuk menangkap dan
meresapnya minyak pelumas sebagian besar tergantung kandungan air dalam kulit.
Jika terlalu basah dan minyak menyebarkan tidak merata ke permukaan kulit,
sehingga terlalu kering dan penyebaran minyak tidak merata.
Dengan kondisi ini, air tidak dapat larut
dengan minyak menyebabkan rata melalui serabut kabut akhirnya memindahkan uap
air masuk ke serabut . panas dan aksi mekanis membantu kecepatan penurunan di
sifat merekat minyak dan pemindahan uap air . ini memudahkan bahkan distribusi
dan kebobolan dari gemuk througtout potongan melintang.
B.
TUJUAN
- Mengetahui Dan
Memahami Analisa Bahan Baku Minyak Sawit Tropical
- Mengetahui Dan
Memahami Cara Pembuatan Minuak Sulfat Dari Minyak Sawit Tropical
- Mengaplikasikan
Minyak Sulfat Yang Telah Dibuat Pada Penyamakan
C.
MANFAAT
- Mahasiswa Mampu
Membuat Fatliquor Dari Minyak Sawit Tropical
- Menambah Pengetahuan
Mahasiswa Terkait Dengan Proses Pembuatan Fatliquor Serta Hubungan Dengan
Penyamakan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. FATLIQUOR
Salah satu proses yang
terdapat dalam penyamakan kulit adalah peminyakan yang lazim disebut
fatliquoring, tujuan dari peminyakan ini adalah untuk memberikan pelicin pada
jaringan kulit, sehingga serat-seratnya lebih bebas digerakkan, dengan demikian
kulit menjadi lemas dan lebih awet. Jenis kulit jadi yang dikehendaki akan
menentukan jenis minyak yang dipakai, jumlah pemakaian dan cara yang kedua ini
lebih memungkinkan penyerapan yang merata. Kemudian dengan menurunkan pHnya,
emulsi minyak akan pecah dan minyaknya tertinggal melekat dalam jaringan kulit. Secara sederhana, minyak untuk pelemasan kulit dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Minyak anionik
2. Minyak kationik
3. Minyak dengan muatan ganda
Minyak anionik didapat dari
proses sulfatasi atau sulfonasi minyak. Yang umum dikenal adalah minyak hasil
sulfatasi atau sulfonasi dari minyak
ikan, minyak jarak, dan minyak terancak atau kuku sapi. Minyak ikan walaupun
mudah didapat tetapi kurang disukai karena baunya. Akan tetapi dalam praktikum
kali ini akan mencoba menggunakan minyak kelapa sawit, untuk mengetahui
kualitas minyak kelapa sawit jika digunakan dalam proses sulfatasi untuk
fatliquoring.
Lemak
dan minyak adalah trigliserida yang berarti merupakan triester dari gliserol.
Perbedaan yang langsung bisa diamai dari lemak dan minyak adalah pada suhu
kamar lemak berwujud padat, sedangkan minyak berwujud cair. Kebanyakan gliseril
dalam hewan adalah lemak sedangkan dalam tumbuhan berupa minyak, sehingga
sering dijumpai istilah hewani dan minyak nabati. Lemak dan minyak
merupakan senyawa organic alami yang tidak larut dalam air dan dapat larut
dalam pelarut organic, seperti alcohol, eter, dan hidrokarbon.
Rumus
bangun minyak atau lemak ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar
1. Rumus Bangun Lemak dan Minyak
R1,
R2, R3 adalah rantai hidrokarbon dengan jumlah atom
hidrokarbon dengan jumlah atom karbon dari 3 hingga 23. Akan tetapi, rantai
hidrokarbon dengan jumlah atom karbon 15 dan 17 paling umum dijumpai. Rantai
karbon tersebut adalah asam-asam karboksilat atau asam lemak yang bisa sama
atau berbeda. Apabila ketiga asam lemak itu sama maka lemaknya disebut lemak
sederhana, sedangkan bila berbeda disebut lemak campuran. Umumnya molekul lemak
terbentuk dari dua atau lebih jenis asam karboksilat. Asam lemak umumnya
mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tak bercabang. Pemberian nama
lemak atau minyak seringkali menggunakan derivat asam-asam lemak, misalnya
gliseril tristearat diberi nama tristearin, dan gliseril tripalmitat disebut
tripalmitin.
Wujud
lemak berkaitan dengan asam lemak pembentuknya. Lemak yang berwujud cair
(minyak) banyak mengandung asam lemak tak jenuh, seperti asam oleat (C17H33COOH),
asam linoleat (C17H31COOH), dan asam linolenat (C17H29COOH)
dan asam palmitat (C15H31COOH). Asam lemak jenuh
mempunyai titik cair yang lebih tinggi daripada asam lemak tak jenuh. Minyak
yang dihasilkan dari tumbuhan (minyak nabati) mempunyai kandungan asam lemak
yang berbeda-beda, seperti yang ditunjukkan di bawah ini:
Tabel 1. Kandungan Asam
Lemak Berbagai Minyak Nabati
|
Minyak
|
Asam
Oleat
|
Asam
Linoleat
|
Asam
Stearat
|
Asam
Miristat
|
Asam
Palmitat
|
Asam
Arasidat
|
|
Kelapa
|
5,0
|
1,0
|
3,0
|
18,5
|
7,5
|
|
|
Kacang
|
42-72
|
13-28
|
2-4
|
|
6-12
|
5-7
|
|
Biji Kapuk
|
46,1-56,6
|
27,7-34,6
|
4,9-8,6
|
|
10,5-10,8
|
1
|
|
Jagung
|
43,4
|
39,1
|
3,3
|
|
7,3
|
0,4
|
|
Sawit
|
38,4
|
10,7
|
4,2
|
1,1
|
41,1
|
|
Derajat
ketidakjenuhan dinyatakan oleh bilangan iodine, yaitu jumlah gram iodine yang
dapat diserap oleh 100 gram lemak untuk reaksi penjenuhannya. Jadi, semakin
besar bilangan iodin, semakin tinggi ketidakjenuhan suatu lemak. Bilangan
iodine dari beberapa contoh minyak dalam tabel berikut:
Tabel 2. Bilangan Iodin
dari Beberapa Minyak
|
Minyak
|
Bilangan Iodin
|
|
Minyak
kelapa
Sawit
Zaitun
Kacang
Biji
kapuk
Jagung
Kedelai
Bunga
matahari
|
8-10
37-54
75-95
85-100
100-117
115-130
125-100
130-145
|
Lemak
dan minyak mempunyai sifat-sifat diantaranya:
a.
SIFAT FISIK
Sifat-sifat
yang dimiliki oleh lemak atau minyak yang cukup baik untuk konsumsi adalah
tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, berat jenisyang lebih kecil dari
air, kadar air cukup kecil dan tapi mudah larut dalam pelarut organic nonpolar.
b.
SIFAT KIMIA
Sifat-sifat
kimia yang dimiliki oleh lemak atau minyak adalah mudah dihidrolisis, mudah
membentuk sabun, rasa tengik yang disebabkan adanya ikatan rangkap asam lemak
yang putus, minyak yang mengandunng asam lemak sangat tidak jenuh mudah
dioksidasi spontan oleh oksigen pada temperatur biasa rantainya yang tak jenuh
membentuk zat yang keras dan tahan air dan mudah dihidrogenasi menjadi jenuh.
Minyak sulfat (fatliquor) sebagai salah satu bahan
pembantu dalam proses peminyakan turut menentukan kualitas dari kulit jadinya.
Kulit untuk jenis tertentu dibutuhkan tingkat kelemasan yang tertentu pula, dan
untuk mendapatkan kulit dengan kelemasan yang sesuai dibutuhkan minyak sulfat
dalam proses peminyakan.
Menurut Thorstensen (1985), bahan yang dapat digunakan
dalam proses peminyakan adalah minyak yang dapat teremulsi dalam air. Minyak yang dapat teremulsi dapat diperoleh dengan
mereaksikan antara minyak dengan asam sulfat pekat. Jenis minyak yang dapat
direaksikan dengan asam sulfat pekat adalah minyak hewani dan minyak nabati.
Minyak nabati sebagian besar berwujud cair karena
mengandung sejumlah asam lemak tidak jenuh, yaitu : asam oleat, asam linoleat
atau asam linolenat yang mempunyai titik cair rendah. Lemak hewan pada umumnya
berbentuk padat pada suhu kamar, misalnya asam palmitat yang mempunyai titik
cair tinggi (Fessenden, 1985).
Menurut
Sarkar (1991) minyak dan lemak merupakan senyawa lipida dan pada umumnya tidak
larut dalam air. Lemak berbentuk padat pada suhu kamar sedangkan minyak
berbentuk cair. Berdasarkan ketidakjenuhan asam lemak penyusunnya yang diukur
dari bilangan iod, lemak dan minyak dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: non drying oil, dengan bilangan iod
lebih kecil dari 90, semi drying oil
dengan bilangan iod antara 90-130, dan drying
oil dengan bilangan iod lebih besar dari 130.
Suatu fatliquor adalah bahan kimia
yang dapat di emulsikan dalam air yang berfungsi sebagai pelumas, yang
mempunyai kemampuan untuk menghaluskan kulit dengan mereduksikan gaya gesek
antar serat. Fatliquor terdiri dari ikatan parsial dari bahan emulsi dan minyak
didalam substratnya.
Proses yang dikenal sebagai
fatliquoring adalah proses dimana minyak disatukan ke dalam kulit dari emulsi
sebelum kulit dikeringkan. Penerapan minyak dalam bentuk emulsi ini berbeda
antara proses fatliquoring dan alat-alat lain untuk menyatukan minyak, seperti stuffing, currying, dan sebagainya.
Salah satu minyak yang dapat digunakan
adalah minyak sulfat dari minyak sawit tropical. Adapun tujuan dari peminyakan
ini adalah untuk memberikan pelicin pada jaringan kulit sehingga serat-seratnya
lebih bebas untuk digerakkan, dengan demikian kulit menjadi lebih awet dan
lemas. Jenis kulit jadi yang dikehendaki akan menentukan jenis minyak yang
dipakai, jumlah pemakian dan cara yang lebih memungkinkan penyerapan yang
merata. Setelah minyak sulfat berhasil dibuat, maka dilakukan beberpa uji untuk
mengetahui kualitasnya, antara lain uji kadar air, uji kadar SO3,
uji minyak dalam minyak dan sebagainya.
Kemikalia yang digunakan adalah minyak
yang dapat teremulsi serta asam formiat. Agar dapat menyebar secara merata, sejumlah kecil minyak diantara
serat-serat kulit yang tersebar luas adalah sangat penting untuk melarutkan
minyak yang digunakan. Pelarutan minyak dapat dilakukan dengan menggunakan
pelarut minyak seperti bensin, alkohol, tetra klorida dll, tetapi lebih murah,
lemih aman dan lebih memungkinkan untuk menggunakan pelarut metode pengemulsi
minyak. Di dalam emulsi minyak dengan air, minyak secara mikroskopi terdispersi
dalam molekul-molekul yang kecil sehingga memberikan warna putih seperti susu
dan sebagai contoh susu itu sendiri
merupakan emulsi alami.
Perlunya pembentukan emulsi
karena pada peminyakan digunakan air sebagai media penghubung dengan bentuk
emulsi, diharapkan minyak dapat berpenetrasi dengan baik ke dalam serat kulit
dan tidak tersebar di permukaan kulit, sehingga permukaan kulit tidak berlemak.
Untuk dapat merubah minyak
menjadi teremulsi, perlu penambahan kemikalia tertentu yang disebut sebagai
pengemulsi seperti detergent, NaOH, natrium bisulfit, asam sulfat, dll.
Pengemulsi itu sendiri berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan atau “Surface Tension”, antara molekul minyak
dengan molekul air. Dengan turunnya tegangan permukaan antara minyak dan air
akan menaikkan kecenderungan minyak dan air untuk tercampur membentuk emulsi
yang stabil.
Hal
penting sebelum proses pembuatan minyak sulfat adalah pengujian bahan baku
minyak. Dalam hal ini, pengujian yang umum dilakukan dapat dapat dibedakan
menjadi tiga kelompok berdasarkan tujuannya yaitu;
1.
Penentuan sifat fisik dan kimia minyak dan lemak..
Data ini dapat diperoleh dari titik
cair, bobot jenis, indeks bias, bilangan asam, bilangan penyabunan, bilangan ester,
bilangan iod, bilangan peroksida, bilangan Polenske, bilangan Krischner,
bilangan Reichert-Meissel, komposisi asam-asam lemak, dan sebagainya.
2.
Penentuan kuantitatif, yaitu penentuan kadar lemak dan minyak yang terdapat
dalam bahan makanan atau bahan pertanian.
3.
Penentuan kualitas minyak sebagai bahan makanan
Berkaitan dengan proses pengolahannya
(ekstraksi) seperti ada tidaknya penjernihan (refining), penghilangan bau
(deodorizing), penghilangan warna (bleaching). Penentuan kualitas minyak ini juga
berkaitan dengan tingkat kemurnian minyak, daya tahannya selama penyimpanan,
sifat gorengnya, baunya maupun rasanya. Parameter yang dapat digunakan untuk
menentukan kualitas ini semua dapat dilihat dari sebearapa besar angka asam
lemak bebasnya (free fatty acid atau FFA), angka peroksida, tingkat ketengikan
dan kadar air.
Angka asam
Angka
asam menunjukkan banyaknya asam lemak bebas yang terdapat dalam suatu lemak
atau minyak . Angka asam dinyatakan sebagai jumlah miligram NaOH yang
dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terrdapat dalam satu gram
lemak atau minyak.
Gambar 2. Rumus Angka Asam
Angka penyabunan
(Saponifikasi)
Angka penyabunan menunjukkan berat molekul lemak
dan minyak secara kasar. Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai karbon
yang pendek berarti mempunyai berat molekul ytang relatif kecil, akan mempunyai
angka penyabunan yang besar dan sebaliknya bila minyak mempunyai berat molekul
yang besar ,maka angka penyabunan relatif kecil . Angka penyabunan ini
dinyatakan sebagai banyaknya (mg) NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu
gram lemak atau minyak.
Adapun tujuannya yaitu untuk
mengukur berat molekul rata-rata dari lemak atau minyak.
Gambar 3. Rumus Penyabunan
Angka iodium
Penentuan
iodine menunjukkan ketidakjenuhan asam lemak penyusunan lemak dan minyak. Asam
lemak tidak jenuh mampu mengikat iodium dan membentuk senyawaan yang jenuh.
Banyaknya iodine yang diikat menunjukkan banyaknya ikatan rangkap yang terdapat
dalam asam lemaknya. Angka iodine dinyatakan sebagai banyaknya iodine dalam
gram yang diikat oleh 100 gram lemak atau minyak. Angka iod juga menunjukkan
korelasi dengan kemudahan tingkat oksidasi.
Sulfatasi
Asam sulfat
mempunyai rumus kimia H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini
larut dalam air pada semua
perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan, termasuk dalam kebanyakan reaksi kimia.
Kegunaan utama termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia,
pemrosesan air limbah dan pengilangan
minyak.
Reaksi hidrasi (pelarutan dalam air) dari asam sulfat adalah reaksi eksoterm yang kuat. Jika air ditambah kepada asam sulfat pekat,
terjadi pendidihan. Senantiasa tambah asam kepada air dan bukan sebaliknya.
Sebagian dari masalah ini disebabkan perbedaan isipadu kedua cairan. Air kurang
padu dibanding asam sulfat dan cenderung untuk terapung di atas asam. Reaksi tersebut
membentuk ion hidronium:
H2SO4 + H2O → H3O+
+ HSO4-.
Gambar 5. Reaksi Hidrasi
Disebabkan asam sulfat bersifat mengeringkan, asam sulfat merupakan agen
pengering yang baik, dan digunakan dalam pengolahan kebanyakan buah-buahan
kering.
Apabila gas SO3 pekat ditambah kepada asam sulfat, ia membentuk
H2S2O7. Ini dikenali sebagai asam sulfat fuming
atau oleum atau, jarang-jarang sekali, asam Nordhausen. Di atmosfer, zat ini
termasuk salah satu bahan kimia yang menyebabkan hujan asam
Asam sulfat dipercayai pertama kali ditemukan di iran oleh Al-Razi pada abad ke-9. (http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_sulfat)
Pembuatan minyak sulfat
dilakukan dalam suatu wadah yang dapat didinginkan dengan air dan mempunyai
pengaduk. Asam sulfat yang ditambahkan sebanyak 10-20% dituang secara
perlahan-lahan sambil terus diaduk. Hasil reaksi kemudian dicuci dengan air
garam jenuh untuk menghilangkan sisa asam sulfat yang tidak bereaksi, kemudian
dilakukan netralisasi dengan soda abu atau kaustik soda (Thorstensen, 1985).
Reaksi antara minyak dan asam
sulfat dapat terjadi pada dua tempat. Bila terdapat asam lemah jenuh, maka
reaksi akan terjadi pada ikatan rangkap atom karbon, sedangkan bila asam
lemaknya mempunyai gugus hidroksil, maka reaksi sulfatasi terjadi pada gugus
hidroksil (Swern, 1979).
Ada 2 (dua) proses dalam memproses Asam Sulfat yaitu:
1.
Proses Kontak yaitu proses yang
dilakukan di instalasi pabrik-pabrik khusus memproduksi Asam Sulfat. Dan proses
ini banyak menghasilkan Asam Sulfat Pekat Berasap.
2.
Proses Bilik Timbel yaitu
dengan menggunakan campuran gas NO dan NO2 untuk mengkatalisis
pengubahan SO2 menjadi SO3, Reaksi katalis tersebut
adalah:
Gambar 6. Reaksi Proses Bilik
Timbel
Gas SO3 yang terjadi kemudian
direaksikan dalam air. Asam Sulfat yang dihasilkan dari proses ini adalah Asam
Sulfat sampai kadar 80%.
Penggunaan
Asam Sulfat banyak digunakan dalam industri pupuk, detergen, pembersihan logam,
zat warna, bahan peledak, obat-obatan, pemurnian minyak bumi, pengisi aki dan
penyamakan kulit, dalam industri penyamakan kulit Asam Sulfat digunakan sebagai
bahan buffer atau penahan agar reaksi reaksi kimia pada kulit tetap stabil
serta untuk menaikkan kadar pH kulit
pada saat proses pickling dan deliming.
Sulfatasi adalah proses
perlakuan minyak dengan asam sulfat pekat untuk mendapatkan minyak yang dapat
teremulsi dalam air. Minyak
sulfat ini mempunyai sifat aktif permukaan dan dapat mengemulsikan minyak
bebas. Minyak mineral yang disulfonasi juga banyak digunakan karena harganya
yang relatif murah dan daya emulsinya yang sangat kuat.
Minyak yang disulfitasikan
juga semakin banyak digunakan karena sifatnya yang khas, yaitu emulsinya tahan
terhadap asam dan elektrolit. Sulfitasi dikerjakan dengan larutan Natriun
bisulfit dengan sirkulasi udara. Minyak kationik bermuatan positif, karena itu
bereaksi dengan zat bermuatan negatif sehingga terjadi netralisasi. Minyak
kationik ini diperoleh dengan cara mengemulsikan minyak bebas dengan bahan kationik
aktif permukaan yang sangat kuat. Minyak kationik ini digunakan untuk meminyaki
permukaan kulit yang sudah diminyaki dengan minyak anionik, juga digunakan
untuk meminyaki permukaan kulit corrected grain, hal ini untuk mengurangi
kemungkinan mudahnya retaknya nerf. Minyak dengan muatan ganda merupakan
campuran secara marata dari minyak anionik dan kationik dengan pemantap
anionik. Digunakan untuk menghasilkan kulit yang lembut atau soft.
Sulfatasi adalah suatu proses dimana suatu grup
pengemulsi (SO3H) direaksikan dangan minyak. Sulfatasi
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
·
Penambahan asam sulfat
kedalam minyak dengan pengadukan, reaksi yang terjadi eksotermis sehingga
diperlukan suatu pendingin air/larutan refrigerant.
·
Netralisasi dengan alkali
·
Pencucian dengan garam
dapur
Beberapa faktor yang berpengaruh pada proses sulfatasi
sebagai berikut:
1.Jenis
minyak yang dipakai
2.Perbandingan
antara asam dan minyak
3.Kekuatan
asam
4.Suhu
sulfatasi
5.Waktu
reaksi
6.Cara
netralisasi dan pencucian
B. EMULSI
Emulsi adalah suspensi dispersi
campuran koloid suatu zat pada fase lainnya seperti minyak dalam air yang
disebut (O/W) atau sebaliknya air dalam minyak (W/O) emulsi dapat distabilkan
dengan penambahan bahan pengemulsi yang mencegah koalesensi yaitu penyatuan
tetesan kecil menjdi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase tunggal yang
memisah titik. Emulsi merupakan preparat parmasi yang terdiri dari dua atau
lebih zat cair yang sebetulnya tidak tercampur biasanya air dengan minyak.
Salah satu dari zat cair tesebut tersebar berbentuk buturan-butiran kecil ke
dalam zat cair yang lain distabilkan dengan zat pengemulsi (emulgator).
Mengingat proses peminyakan dilakukan
dalam suasana asam, kulit bernuatan positif, padat dan kulit mempunyai bentuk
tiga dimensi dengan ketebalan dan luas tertentu untuk memasukkan fat/oil dalam
bentuk emmulsi terttentu tidak mudah, karena koloid/dispersi emulsi dibatasi
oleh laju pecah yang berhubungan dengan faktir keasaam (pH), muatan, waktu,
dll. Untuk menjamin bahwa emulsi minyak dapat bekerja sesuai dengan yang kita
harapkan, maka ada persyaratan minimal untuk emulsi agar dapat digunakan dalam
industri kulit yaitu
1. Emulsi harus mempunyai laju pecah emulsi minimal 2
jam.
2. Emulsi harus mempunyai laju pecah ketahanan
keasaman minimal pada pH 3
3. Bentuk emulsi harus O/W
4. Kadar SO3 dalam minyak antara 3-7% dari
dry oil basis
5. Ukuran partikel yang terbentuk <5 mm dan >25
mm
6. Nilai hidrifilik liofobik balance (HLB) antara
8-10
(Purnomo, 2008)
C. MINYAK SAWIT
Tanaman
Kelapa Sawit merupakan salah satu sumber minyak nabati dan saat ini menjadi
komuditas utama dan unggulan Indonesia. Pohon Kelapa Sawit berbentuk silinder
dengan diameter sekitar 20–75 cm. Tingginya bertambah sekitar 45 - 100 cm per
tahun. Buah terkumpul di dalam tandan, dalam satu tandan terdapat sekitar
1.600 buah. Tanaman normal akan menghasilkan 20–22 tandan per
tahun. Jumlah tandan buah pada tanaman tua sekitar 12–14 tandan per
tahun. Berat setiap tandan sekitar 25–35 kg. Secara anatomi buah kelapa
sawit tersusun dari pericarp atau daging buah dan biji. Pericarp terdiri
dari kulit luar buah yang keras dan licin dan mesokarp, yaitu bagian daging
buah yang berserabut. Mesokarp merupakan bagian yang mengandung minyak
dengan rendemen paling tinggi. Sedangkan biji Kelapa Sawit tersusun dari
endokarp (tempurung) yang merupakan lapisan keras dan berwarna hitam, dan
endosperm (kernel) yang berwarna putih. Kernel akan menghasilkan minyak
inti atau palm kernel oil.
Tabel 3. Karakteristik Minyak Kelapa Sawit
|
No
|
Karakteristik
|
Satuan
|
Nilai
|
|
1
|
Warna
|
-
|
Kuning jingga sampai
kemerah-merahan.
|
|
2
|
Asam lemak bebas
|
% bobot
|
maksimum 5,00
|
|
3
|
Kadar kotoran
|
% bobot
|
maksimum 0,05
|
|
4
|
Kadar air
|
% bobot
|
maksimum 0,45
|
|
5
|
Free Fatty Acids
|
%
|
2,5 - 4,2
|
|
6
|
Iodine
value
|
mg/gr
|
52 - 54
|
|
7
|
Moisture
|
%
|
0,1
|
|
8
|
Carotene
|
ppm
|
297 - 313
|
|
9
|
Tocopherol
|
ppm
|
386 - 794
|
|
10
|
Cu
|
-
|
Trace
|
|
11
|
Fe
|
-
|
Trace
|
|
12
|
Dobi (Deterioration of Bleachibility Index)
|
-
|
2,3 – 2,4
|
Pemanfaatan
minyak nabati (sawit) di Indonesia sebagian besar digunakan untuk media
menggoreng dan diekspor dalam bentuk minyak kasar (crude oil), hanya sebagian
kecil yang diekspor dalam bentuk produk olahan minyak nabati. Untuk mendapatkan
nilai tambah dan lebih menganekaragamkan ekspor produk olahan dari minyak
sawit, perlu dicari alternatif lain pemanfaatan minyak sawit dengan cara
meningkatkan daya gunanya. Minyak nabati (kelapa, sawit, dan inti sawit)
merupakan trigliseriida yang mempunyai karakteristik asam lemak yang unik yang
tidak dimiliki oleh minyak dan lemak hewani. Keunikan ini berkaitan dengan
produk akhir dari pengolahan minyak nabati melalui proses transesterifikasi
(gliserolisis) yang mengahasilkan bahan pengemulsi (emulsifier) yang berupa mono-
dan digliserida. Bahan pengemulsi (emulsifer) mempunyai peranan yang sangat
penting baik dalam industri pengolahan pangan maupun industri non- pangan. Di
dalam industri pangan, bahan pengemulsi digunakan untuk berbagai tujuan,
seperti meningkatkan kestabilan dan kesamaan mutu produk-produk emulsi.
Produk-produk yang menggunakan bahan pengemulsi yang dapat kita jumpai
sehari-hari adalah es krim, mentega, margarin, keju, krem, sosis, saladresing
dan mayonaise. Produk non-pangan yang menggunakan bahan pengemulsi adalah
kosmetik, farmasi dan pengolahan kulit. http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=laptunilapp-gdl-res-2006-sugihartor-139
Selama ini
minyak kelapa sawit hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan minyak makan
dalam negeri meskipun sudah ada alternatif bahwa minyak sawit akan dimanfaatkan
sebagai sumber energi cadangan sebagai bahan baku biodiesel, namun untuk
pemanfaatan yang lebih beraneka ragam minyak kelapa sawit bisa juga
dimanfaatkan untuk kepentingan industri pengolahan kulit, yaitu sebagai bahan
baku dalam pembuatan minyak sulfat untuk proses fatliquoring. Karena sejauh ini industri kulit
diIndonesia banyak mengimpor minyak sulfat tersebut dari luar negeri, jika ada
bahan baku yang bisa dimanfaatkan dan juga mudah diperoleh serta mempunyai
kualitas yang bagus kenapa hal itu tidak kita kembangkan.
Minyak sawit (Crude Palm Oil) yang digunakan
sebagai bahan baku proses hidrolisa harus memiliki spesifikasi sebagai berikut
:
1.
Bilangan
asam (AV, Acid Value), mgKOH/g = 10,0
2.
Bilangan
penyabunan (SV, Safonificition Value), mgKOH/g =195-205
3.
Bilangan
iodium (IV, Iodin Value), g/100g = 44-54
4.
Kandungan
air, % berat = 0,3 mol
5.
Pengotor
tak terlarut, % berat = 0,3 mol
6.
Materil
tak tersabunkan % berat = 2,5 mol
7.
Distribusi karbon, % berat
C12 = 1,0 mol
C14 = 2,0 mol
C16 = 43-47 mol
C18 = 3-6 mol
C18,1 = 35-45 mol
C18,2 = 5-15 mol
Tabel 4. Parameter Kualitas
Minyak Sawit CPO dan RBDPO
|
Parameter
|
CPO
|
RBDPO
|
|
Angka asam
|
6,9 mgKOH/g oil
|
0,49 – 0,59 mgKOH/g oil
|
|
Angka
penyabunan
|
200-205 mgKOH/g oil
|
199 – 217 mgKOH/g oil
|
|
Kandungan FFA
|
2,5 – 4,2 %-w
|
< 0.1 %-w
|
D. PENYAMAKAN KULIT
Penyamakan adalah suatu proses untuk merubah kulit mentah
( hides atau skins) sehingga menjadi kulit tersamak ( leather ) dengan
menggunakan bahan penyamak. Dimana kulit hasil samakan tersebut perbedaannya
nyata sekali baik sifat-sifat organoleptis, phisis, maupun kimiawi.
Tabel 5. Perbedaan
Sifat Antara Kulit Mentah Dan Kulit Tersamak
|
No
|
Kulit Mentah
|
Kulit tersamak
|
|
1
|
Berbentuk
lembaran, untuk kulit sapi dilipat bagian bulu didalam, dan untuk kulit
kerbau/kuda bagian bulu diluar.
|
Berbentuk
belahan/side tetapi untuk eksport bentuk lembaran ( whole hides ) kecuali
kulit-kulit yang berasal dari kambing atau domba dan reptil.
|
|
2
|
Warna kulit seperti binatang aslinya
|
Warna putih kebiru-biruan untuk kulit samak khrom yang tidak dicat warna
kekuning-kuningan, untuk kulit samak nabati yang tidak dicat warna hitam,
coklat, merah, hijau, kuning dan lain-lain, dan untuk samak khrome/nabati
yang dicat (menurut warna cat tutupnya)
|
|
3
|
Keras dan kaku
(kering)
|
Lemas, elastis,
plastis
|
|
4
|
Mudah busuk
karena bakteri
|
Tidak mudah busuk
|
|
5
|
Tidak tahan panas dan akan terdenaturasi menjadi lem
|
Tidak dapat menjadi lem
|
|
6
|
Penampangnya tersusun dari: bulu, epidermis,
corium, dan subcutis
|
Penampangnya tersusun hanya corium saja kecuali samak bulu.
|
|
7
|
Kulit mentah segar mengandung:
ü
30-33% collagen
ü
2-5% lemak
ü
0,2-2% epidermis
ü
0,1-0,3% mineral
ü
60-65% air
|
Tergantung bahan penyamaknya :
1. kulit samak krom:
ü
kadar air = ± 20%
ü
kadar abu jumlah = ± 20%
ü
kadar Cr2O3 = ±
3%
ü
kadar gemuk = ± 5%
ü
pH = 3,5-7
2. Kulit samak nabati :
ü
Zat larut dalam air = ± 6%
ü
gemuk = ± 6%
ü
abu jumlah = ± 2%
ü
air = ± 17%
ü
derajat penyamakan = ± 50
ü
pH = 3,5-7
|
Dalam suatu proses penyamakan kulit dibutuhkan suatu zat
penyamak (tannin) yaitu zat yang dapat mengubah kulit mentah menjadi kulit
tersamak. Adapun macam zat atau bahan penyamak itu
antara lain:
1. Bahan
penyamak nabati
2. Bahan
penyamak sintetis
3. Bahan
penyamak aldehid
4. Bahan
penyamak minyak
5. Bahan
penyamak mineral
6. Bahan
penyamak alum
BAB III
MATERI DAN METODE
A. ALAT
Alat yang digunakan dalam
praktikum yaitu :
a.
Analisis Bahan Baku Minyak (penentuan
bilangan asam, penyabunan dan angka iod)
1. Neraca
analitik
2. Gelas arloji
3. Gelas
beker
4.
Erlenmeyer
5. Pendingin
balik
6. Kompor pemanas
7. Buret
8.
Pro
pipet dan Pipet volum
9. Pipet
tetes
10. Statif
dan klem
b. Pembuatan Minyak Sulfat
1.
Neraca analitik
2.
Gelas beker
3.
Mixer, pengaduk dan wadahnya
4.
Termometer
5.
Corong pemisah
6.
Pipet tetes
7.
Pipet volum dan propipet
8.
Statifdan klem
c. Pengujian Emulsi,
Pengujian Kadar
Air Dan Pengujian Kadar SO3 Terikat
1)
Neraca analitik
2)
Gelas arloji
3)
Erlenmeyer
4)
Tabung reaksi dan rak tabung reaksi
5)
Pipet tetes
6)
Gelas ukur
7)
Gelas beker
8)
Pengaduk
9)
Termometer
10)
Kompor listrik
11)
Oven
12)
Desikator
13)
Corong pemisah
14)
Pipet volum
15)
Buret
16)
Statif dan klem
17)
Corong
d. Aplikasi Fatliquor
Pada Penyamakan
1) Ember
2) Neraca
analitik
3) Timbangan
kasar
4) Gelas arloji
5) Gelas beker
6) Gelas ukur
7) Pipet tetes
8) Pengaduk
9) Kompor pemanas
10) Thermometer
11) Sarung tangan
e. Pengujian
Kulit Samak
1) Penggaris dan
Gunting
2) Neraca
analitik
3) Gelas arloji
4) Oven dan
desikator
5) Digital Force
gouge
6) Moisture
tester
7) Ticknes
strenght
8) Crough meter
B. BAHAN
Bahan yang
di gunakan dalam praktikum yaitu :
a. Analisis Bahan Baku Minyak (analisa bilangan asam, penyabunan dan angka iod)
1. Minyak Sawit Tropical
2. Minyak sulfat sawit tropical
3. Alkohol 95% netral
4. NaOH 0.1N
5. Indikator PP
6. Larutan KOH alkoholis
7. Larutan HCl standar 0,5 N
8. Khloroform
9. Hanus iodin
10. Akuades
11. Asam asetat glasial
12. Natrium thiosulfat 0.1N
13. Larutan pati/indikator amilum
b. Pembuatan minyak sulfat
1. Minyak Sawit tropical
2. Es batu
3. Akuades
4. H2SO4
5. Larutan Garam Jenuh
6. NaOH
c. Pengujian Emulsi, Pengujian Kadar Air dan Pengujian SO3 terikat
1. Minyak sulfat sawit topical
2. Akuades
3. Asam formiat
4. Eter
5. NaCl jenuh
6. H2SO4 1 N
7. Kertas pH
8. Indikator PP
9. NaOH 0,5 N
d. Aplikasi fatliquor pada penyamakan
1.
Kulit kambing pickle
2.
Air garam
3.
FA
4.
H2SO4
5.
Altan MS
6.
Cromosal B
7.
Sodium format
8.
Soda kue
9.
Air kran
10.
Soda ASH
11.
Tergotan RAP
12.
Tamol
13.
Sintan DLE
14.
Dyestuff blue
15.
Minyak sulfat sawit
tropical
16.
Minyak SAF
17.
indikator BCG
18.
kertas pH
19.
Pigment biru
20.
Binder
21.
Wax
22.
Filler 415
23.
Lak
24.
Thinner
e. pengujian kulit
1. Kulit kambing tersamak
2. Aquadest
3. Air keringat buatan
4. Kain putih
C. CARA KERJA
a.Analisis Bahan Baku Minyak
Penentuan Bilangan Asam
1. Ditimbang minyak sawit
tropical sebanyak 5,002
gram dalam erlenmeyer.
2. Ditambahkan larutan alkohol netral 95% sebanyak 50 ml ke
dalam erlenmeyer yang telah berisi minyak sawit
tropical
3. Pendingin balik dirangkai pada statif di hubungkan dengan
selang kemudian erlenmeyer ditutup dengan pendingin balik, ditempatkan diatas
pemanas listrik.
4. Campuran dipanaskan hingga mendidih selama kurang lebih 60
menit
5. Setelah dingin ditetesi indikator PP sebanyak 3 tetes, lalu titrasi dengan larutan NaOH
0,1N sampai warna
berubah menjadi merah muda yang tidak
hilang selama 30detik. Di amati dan dicatat perubahan yang terjadi.
Penentuan Bilangan Penyabunan
1)
Di timbang minyak
sawit tropical sebanyak 5.002 gram lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer lalu
ditambahkan 50ml larutan KOH alkoholis kedalam erlenmeyer yang berisi minyak
sawit tropical
2)
Di refluks dengan
pendingin balik selama 1,5 jam setelah itu larutan didinginkan dan ditetesi
3tetes indikator PP
3)
Di titrasi dengan
larutan HCl 0.5N
4)
Untuk mengetahui
kelebihan KOH dibut larutan blanko dengan prosedur yang sama tanpa bahan minyak
sawit tropical. Akhir titrasi ditandai dengan berubahnya warna larutan dari
ungu menjadi bening.
Penentuan Bilangan Iod
1.
Ditimbang minyak
sawit tropical sebanyak 0.253gram dimasukkan kedalam erlenmeyer tertutup,
ditambahkan 10ml khloroform dan 25ml hanus iodin dibiarkan ditempat gelap
selama 30menit dan kadang kala digojok.
2.
Ditambahkan 100ml
akuades dengan suhu 50°C diambil 25ml sebanyak 3kali lalu dititrasi dengan
larutan natrium thiosulfat 0.1N sampai berwarna kuning pucat lalu ditambahkan
3tetes larutan pati lalu dititrasi kembali sampai warna biiru hilang(bening).
3.
Larutan blanko
dibuat dari 25ml hanus iodin dan diencerkan dengan 100ml akuades hangat dan
dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat sampai bening.
4.
Di amati dan
dicatat hasil pengamatan yang dilakukan.
b. Pembuatan Minyak Sulfat
1. Minyak sawit tropical ditimbang 100gram dan dimasukkan dalam gelas beker, kemudian gelas beker tersebut dimasukkan ke dalam wadah yang berisi pecahan es batu.
2. Ditambahkan asam sulfat pekat sebanyak 40gram/23,18ml di tambahkan tetes demi tetes sambil diaduk dengan mixer suhu dijaga dibawah
20°C
3. Setelah penambahan asam sulfat selesai larutan
kemudian didiamkan selama 1 malam. Keesokan harinya minyak dipisah dengan air
menggunakan corong pemisah hasil pemisahan kemudian dicuci dengan air garam
sebanyak 300ml, dan dilakukan sebanyak 2kali dan dicuci lagi dengan air garam
sebanyak 150ml lalu didiamkan lagi selama 1 malam.
4. Keesokan harinya proses dilanjutkan dengan proses
penetralan. Ditambahkan NaOH 0.1N sampai pH larutan antara 6,5-7.
5. Di amati dan dicatat perubahan yang terjadi.
c. Pengujian Emulsi, Pengujian Kadar
Air Dan Pengujian Kadar SO3 Terikat
Pengujian emulsi sederhana
1. Dimasukkan 10 ml akuades ke dalam tabung reaksi,
kemudian ditambahkan 3 tetes minyak sulfat dan digokok hingga homogen.
2. Didiamkan dan dicatat waktu pecahnya emulsi
(larutan menjadi 2 fase kembali).
Pengujian emulsi dengan
pemanasan
1. Ditambahkan 50 Ml akuades ke dalam gelas beker dan ditambahkan 15 tetes minyak
sulfat ke dalam gelas beker dan diaduk hingga homogen.
2. Dipanaskan diatas kompor listrik dan diamati suhu
pecahnya minyak sulfat.
Pengujian emulsi dengan asam formiat
1.
Dimasukkan 50 ml akuades ke dalam gelas beker lalu dipanaskan di atas
kompor listrik hingga suhu maksimal 50 C
2.
Di masukkan minyak sulfat sebanyak 15 tetes ke dalam gelas beker yang
lain, kemudian ditambahkan akuades yang telah dipanaskan tadi denan suhu 50 C
dan diaduk hingga homogen.
3.
Ditambahkan asam formiat sebanyak 3 tetes kedalam gelas beker tadi sambil
dipanaskan pada suhu kurang lebih 50 C.
4.
Diamati pecahnya minyak sulfat
Pengujian Kadar Air
1. Di timbang gelas beker kosong yang telah di oven.
2. Ditimbang minyak sulfat menggunakan gelas arloji
pada neraca analitik.
3. Minyak yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam
oven dengan wadah gelas arloji pada suhu 100 c selama 3 jam.
4. Pada setiap 1 jam sekali gelas arloji yang berisi
minyak ditimbang kemudian di oven kembali, penimbangan dilakukan setiap satu
jam sekali selama 3 jam.
Pengujian kadar SO3
terikat
1. Ditimbang minyak sulfat sebanyak 5 gram dengan gelas arloji pada neraca analitik. Dimasukkan dalam corong
pemisah.
2. Ditambahkan 50 ml eter dan 50 ml NaCL jenuh.
Digojok selama 5 menit dan dibuang larutan garam jenuhnya. Dan ditambahkan 3
tetes H2SO4 1N dan 25 ml eter dan digojok kembali selama 5menit
3. Larutan kemudian dipisah antara eter + minyak dan larutan garam nya. Kemudian
ditambahkan lagi 25ml eter dan digojok selama 5menit.
4. Ke dalam corong pemisah ditambahkan NaCL jenuh +
digojok sampai pH nya netral ( bebas asam). Larutan kemudian disaring kembali,
sisa saringan (eter+minyak) dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan dipanaskan
selama 90 menit.
5. Sebelum pemanasan dilakukan ke dalam erlenmeyer
yang berisi eter + minyak ditambahkan 25 ml H2SO4 1N, kemudian dipanaskan
selama 90 menit.
6. Setelah waktu tercapai larutan didinginkan dan
ditambahkan 25 ml eter, 30 gram NaCL, dan 3 tetes indikator pp dan digojok.
7. Larutan kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0,5N,
diamati dan dicatat perubahan yang terjadi selama percobaan.
Keterangan: Untuk Langkah Kerja Pada
Uji Bilangan Penyabunan Dan Bilangan Iod pada Minyak Tersulfatasi Minyak Sawit
Tropical sama seperti Uji Bilangan Penyabunan Dan Bilangan Iod Pada Minyak Sawit
Tropical hanya saja yang membedakannya yaitu pada bahan baku minyak yang
digunakan.
d. Aplikasi Fatliquor Pada Penyamakan
1.
Ditimbang kulit
pickle, lalu ditambahkan air garam 80BE.
2. Repickle
v
diambil
80% larutan garam 8o BE
dimasukkan dalam ember yang berisi kulit kemudian diremas-remas selama 20
menit.
v
Ditambah
1%
FA diencerkan 10 X dengan aquadest lalu
diremas-remas selama 45 menit.
v
Dilakukan
pengecekan pH (pH 3) dengan cek BCG bila
tercapai akan berwarna kuning, bila belum ditambahkan 0,5 % H2SO4 remas selama
3 X 15 menit.
3. Pre Tanning
v Ditambahkan 1% Altan MS diencerkan sebanyak 10X dengan
aquadest diremas selama 1 jam
4.
Tanning
v
Ditambahkan
8%
chromosal sebanyak 21 gram dimasukkan dalam ember yang berisi kulit
kemudian diremas-remas selama 7 jam.
v
Lalu
di over night selama 1 malam. Lalu cairan
tanning dibuang.
5.
Ageing
v Kulit di kering anginkan pada pentangan kayu, dengan bagian rajah kulit diatas. Penjemuran
dilakukan tanpa sinar matahari.
6.
Netralisasi
v
Ditambahkan 150% air dimasukkan dalam ember yang berisi kulit.
v
Ditambah
1,5% soda kue
kemudian diremas-remas selama 30 menit. Cek pH
(4,5-5,50) dan cek BCG warna biru.
v
Ditambahkan 0,5 %
soda ASH dan diremas selama 20 menit.
7.
Retanning
v
Diambil 100% air dimasukkan dalam ember yang berisi kulit.
v
Ditambahkan 2 %
Tergotan RAP dan 2% Basintan DLE diremas selama 1 jam.
8. Dyeing
v
Ditambah
1,5%
Dyestuff
warna biru kemudian
diremas-remas selama 30 menit.
v Ditambahkan 3% Tamol sebanyak gram diremas selama 30 menit.
v Lalu di ageing kembali
9.
Fatliquoring
v
Ditambahkan 100%
air kran dengan suhu 75º
C kemudian diremas-remas selama 15 menit..
v
Ditambah
15% minyak
sulfat sawit tropical dan 5% SAF diremas selama 90 menit.
v
Ditambah
1,5% FA dilakukan pengenceran sebanyak 5X, lalu diremas selama
2X20 menit.
10. Hanging
v Kulit dibentang atau dijemur tanpa ada sinar matahari
hingga kering atau tidak mengandung air lagi.
11. Steaking
v
Dilakukan
steaking dengan mesin steaking, agar kulit lebih lebar dan lemas.
12. Toggling
v Dilakukan toggling pada papan kayu, menggunakan paku
13. Finishing
v
Membuat
larutan untuk finishing dengan diambil 1
bagian pigment biru,
ditambah 2,5 bagian binder, ditambah 0,3
bagian wax, dan 6,2 bagian aquadest,
kemudian diaduk-aduk hingga homogen.
v
Larutan
dimasukkan dalam alat yang dihubungkan dengan compressor
kemudian disemprotkan pada kulit yang telah dibentangkan pada kayu ( base coat
).
v
Penyemprotan
dilakukan dengan arah silang agar pengecatan bisa merata, kemudian dikeringkan.
v
Setelah
kering kulit disemprot lagi ( middle coat ), kemudian dikeringkan.
v
Penyemprotan
diulang sekali lagi ( top coat ) lalu
dikeringkan.
v
Setelah
kering kulit disemprot dengan campuran lak dan thinner.
14. Flatting
Flatting dilakukan
di pabrik Fajar Makmur agar kulit lebih mengkilap.
e. Pengujian
kulit
1.
Uji Shear Stress Dan Uji
Tensile Strength
·
Uji Shear Stress
a.
Kulit yang sudah dipersiapkan,
kemudian dipasangkan pada mesin uji Tensile Strength Tester.
b. Jarak dijaga agar tetap 5 cm di antara dua
jepitan tersebut.
c. Mesin dihidupkan sampai kulit tertarik
sampai putus.
d.
Beban dicatat dan penambahan
panjang dicatat untuk evaluasi.
e. Kekuatan tarik dihitung, demikian juga
kemuluran.
·
Ujian Tensile Strength
a. Kulit yang sudah dipersiapkan, kemudian
dipasangkan pada mesin uji Tensile Strength Tester.
b. Jarak dijaga agar tetap 5 cm di antara dua
jepitan tersebut.
c. Mesin dihidupkan sampai kulit tertarik
sampai putus.
d.
Beban dicatat dan penambahan
panjang dicatat untuk evaluasi.
e. Kekuatan tarik dihitung, demikian juga
kemuluran.
f. Tebal kulit diukur dengan Gauge Thicknes.
2.
Uji Kadar Air
a. kulit yang sudah dipotong sekecil-kecil
mungkin, kemudian ditimbang, dan berat di catat.
b. Dinyalakan alat moisture tester, atur suhu
dan waktu.
c. dimasukkan kulit yang sudah dipotong pada
alat.
d. Tunggu hingga wakrtu yang telah
ditentukan.
e. Dicatat hasil yang telah diperoleh.
f. Dihitung kadar air dan kadar solid.
3.
Uji Kelunturan Warna
a.
Kulit yang sudah dipotong
sesuai pola, kemudian dipasang pada pesawat Crock meter.
b. Ambil kain, satu basah dan satunya lagi
kering, pasang pada pesawat uji Crock meter.
c. Tempelkan kain pada kulit, baik kain
kering maupun basah.
d. Hidupkan mesin sehingga kulit akan
tergosok maju mundur 10 kali selama 10 detik.
e. Mesin dimatikan
f. Ambil kain yang sudah ternoda tadi, untuk
kain basah dikeringkan dengan Hair Dryer.
g. Data dicatat untuk dievaluasi.
4.
Uji Ketebalan Kulit
1. Kulit diletakkan pada meja datar.
2. Dari tepi kulit / garis punggung 15 cm.
3. Kemudian diukur tiga titik pada bagian
punggung.
4.
Bagian perut diukur dua titik
5.
Kemudian hasil dirata-rata.
No comments:
Post a Comment