Laporan Praktikum Kimia Analisis, Kimia Organik, Analisis Bahan Kulit, Analisis Karet

Sunday, 2 December 2012

Pembuatan Fatliquor (cara Sulfatasi), Pengaplikasian dan pengujiannya


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Fatliquoring telah dikembangkan pada abad yang lalu. Awal fatliquoring didasarkan campuran minyak alami dan sabun,bahan penggemuk lainya yang mampu membentuk air dalam emulsi minyak seperti degra dan lanolin  yang mempunyai banyak manfaat,kuning telur yang yang mengandung lechitin juga bernilai tinggi terutama dalam fatliqouring pada sarung tangan kulit.bahkan sabun dan tepung dignakan dalam campuran ini untuk membentuk emulsi partikel kasar yang dapat memberikan derajat stabilitasi koloidal tertentu.
Kulit yang tersamak dalam kondisi basah relatif lemas,kulit samak krom relatif lebih lentur daripada kulit samak alami,namun air dibuang selama proses pengeringan,kohesi antara serat terjadi.ini mengakibatkan keras,kulit yang keras sulit di rehidrat.fenomena ini lebih terlihat pada penyamak krom dari pada penyamak mineral,buktinya kulit krom tidak mengandung interfibrillary pengisis seperti bukan penyamak dan tidak larut yang memiliki efek mempermudah dan memisahkan larutan.
Dengan pengenalan bahan pelumas ke dalam kulit yang hilang selama proses pengeringan,dan kekuatan pergeseran kulit dalam serat yang tereduksi.semua itu memberikan serat-serat salaing merubah. pada pokoknya fatliqouring sederhana lubricantion phenomenom. bagaimana dan apa mencapai ini apa lebih rumit dan perkara bisa dibantah.
Di kulit yang basah diperlakukan dengan air minyak tidak dapat larut dan pertolongan tangan.kemudian pengembangan ke luar  dan drum mengikuti bulu dan kulit menjadi lentur.
Akan tetapi, kondisi untuk menangkap dan meresapnya minyak pelumas sebagian besar tergantung kandungan air dalam kulit. Jika terlalu basah dan minyak menyebarkan tidak merata ke permukaan kulit, sehingga terlalu kering dan penyebaran minyak tidak merata.

Dengan kondisi ini, air tidak dapat larut dengan minyak menyebabkan rata melalui serabut kabut akhirnya memindahkan uap air masuk ke serabut . panas dan aksi mekanis membantu kecepatan penurunan di sifat merekat minyak dan pemindahan uap air . ini memudahkan bahkan distribusi dan kebobolan dari gemuk througtout potongan melintang.

B.     TUJUAN
  1. Mengetahui Dan Memahami Analisa Bahan Baku Minyak Sawit Tropical
  2. Mengetahui Dan Memahami Cara Pembuatan Minuak Sulfat Dari Minyak Sawit Tropical
  3. Mengaplikasikan Minyak Sulfat Yang Telah Dibuat Pada Penyamakan  

C.    MANFAAT
  1. Mahasiswa Mampu Membuat Fatliquor Dari Minyak Sawit Tropical
  2. Menambah Pengetahuan Mahasiswa Terkait Dengan Proses Pembuatan Fatliquor Serta Hubungan Dengan Penyamakan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    FATLIQUOR
Salah satu proses yang terdapat dalam penyamakan kulit adalah peminyakan yang lazim disebut fatliquoring, tujuan dari peminyakan ini adalah untuk memberikan pelicin pada jaringan kulit, sehingga serat-seratnya lebih bebas digerakkan, dengan demikian kulit menjadi lemas dan lebih awet. Jenis kulit jadi yang dikehendaki akan menentukan jenis minyak yang dipakai, jumlah pemakaian dan cara yang kedua ini lebih memungkinkan penyerapan yang merata. Kemudian dengan menurunkan pHnya, emulsi minyak akan pecah dan minyaknya tertinggal  melekat dalam jaringan kulit. Secara sederhana, minyak untuk pelemasan kulit dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.      Minyak anionik
2.      Minyak kationik
3.      Minyak dengan muatan ganda
Minyak anionik didapat dari proses sulfatasi atau sulfonasi minyak. Yang umum dikenal adalah minyak hasil sulfatasi atau sulfonasi  dari minyak ikan, minyak jarak, dan minyak terancak atau kuku sapi. Minyak ikan walaupun mudah didapat tetapi kurang disukai karena baunya. Akan tetapi dalam praktikum kali ini akan mencoba menggunakan minyak kelapa sawit, untuk mengetahui kualitas minyak kelapa sawit jika digunakan dalam proses sulfatasi untuk fatliquoring.
Lemak dan minyak adalah trigliserida yang berarti merupakan triester dari gliserol. Perbedaan yang langsung bisa diamai dari lemak dan minyak adalah pada suhu kamar lemak berwujud padat, sedangkan minyak berwujud cair. Kebanyakan gliseril dalam hewan adalah lemak sedangkan dalam tumbuhan berupa minyak, sehingga sering dijumpai istilah hewani dan minyak nabati. Lemak dan minyak merupakan senyawa organic alami yang tidak larut dalam air dan dapat larut dalam pelarut organic, seperti alcohol, eter, dan hidrokarbon.

Rumus bangun minyak atau lemak ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar 1. Rumus Bangun Lemak dan Minyak
R1, R2, R3 adalah rantai hidrokarbon dengan jumlah atom hidrokarbon dengan jumlah atom karbon dari 3 hingga 23. Akan tetapi, rantai hidrokarbon dengan jumlah atom karbon 15 dan 17 paling umum dijumpai. Rantai karbon tersebut adalah asam-asam karboksilat atau asam lemak yang bisa sama atau berbeda. Apabila ketiga asam lemak itu sama maka lemaknya disebut lemak sederhana, sedangkan bila berbeda disebut lemak campuran. Umumnya molekul lemak terbentuk dari dua atau lebih jenis asam karboksilat. Asam lemak umumnya mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tak bercabang. Pemberian nama lemak atau minyak seringkali menggunakan derivat asam-asam lemak, misalnya gliseril tristearat diberi nama tristearin, dan gliseril tripalmitat disebut tripalmitin.
Wujud lemak berkaitan dengan asam lemak pembentuknya. Lemak yang berwujud cair (minyak) banyak mengandung asam lemak tak jenuh, seperti asam oleat (C17H33COOH), asam linoleat (C17H31COOH), dan asam linolenat (C17H29COOH) dan asam palmitat (C15H31COOH). Asam lemak jenuh mempunyai titik cair yang lebih tinggi daripada asam lemak tak jenuh. Minyak yang dihasilkan dari tumbuhan (minyak nabati) mempunyai kandungan asam lemak yang berbeda-beda, seperti yang ditunjukkan di bawah ini:
Tabel 1. Kandungan Asam Lemak Berbagai Minyak Nabati
Minyak
Asam Oleat
Asam Linoleat
Asam Stearat
Asam Miristat
Asam Palmitat
Asam Arasidat
Kelapa
5,0
1,0
3,0
18,5
7,5

Kacang
42-72
13-28
2-4

6-12
5-7
Biji Kapuk
46,1-56,6
27,7-34,6
4,9-8,6

10,5-10,8
1
Jagung
43,4
39,1
3,3

7,3
0,4
Sawit
38,4
10,7
4,2
1,1
41,1

Derajat ketidakjenuhan dinyatakan oleh bilangan iodine, yaitu jumlah gram iodine yang dapat diserap oleh 100 gram lemak untuk reaksi penjenuhannya. Jadi, semakin besar bilangan iodin, semakin tinggi ketidakjenuhan suatu lemak. Bilangan iodine dari beberapa contoh minyak dalam tabel berikut:
Tabel 2. Bilangan Iodin dari Beberapa Minyak
Minyak
Bilangan Iodin
Minyak kelapa
Sawit
Zaitun
Kacang
Biji kapuk
Jagung
Kedelai
Bunga matahari
8-10
37-54
75-95
85-100
100-117
115-130
125-100
130-145

Lemak dan minyak mempunyai sifat-sifat diantaranya:
a.         SIFAT FISIK
Sifat-sifat yang dimiliki oleh lemak atau minyak yang cukup baik untuk konsumsi adalah tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, berat jenisyang lebih kecil dari air, kadar air cukup kecil dan tapi mudah larut dalam pelarut organic nonpolar.
b.        SIFAT KIMIA
Sifat-sifat kimia yang dimiliki oleh lemak atau minyak adalah mudah dihidrolisis, mudah membentuk sabun, rasa tengik yang disebabkan adanya ikatan rangkap asam lemak yang putus, minyak yang mengandunng asam lemak sangat tidak jenuh mudah dioksidasi spontan oleh oksigen pada temperatur biasa rantainya yang tak jenuh membentuk zat yang keras dan tahan air dan mudah dihidrogenasi menjadi jenuh.
Minyak sulfat (fatliquor) sebagai salah satu bahan pembantu dalam proses peminyakan turut menentukan kualitas dari kulit jadinya. Kulit untuk jenis tertentu dibutuhkan tingkat kelemasan yang tertentu pula, dan untuk mendapatkan kulit dengan kelemasan yang sesuai dibutuhkan minyak sulfat dalam proses peminyakan.
Menurut Thorstensen (1985), bahan yang dapat digunakan dalam proses peminyakan adalah minyak yang dapat teremulsi dalam air. Minyak yang dapat teremulsi dapat diperoleh dengan mereaksikan antara minyak dengan asam sulfat pekat. Jenis minyak yang dapat direaksikan dengan asam sulfat pekat adalah minyak hewani dan minyak nabati.
Minyak nabati sebagian besar berwujud cair karena mengandung sejumlah asam lemak tidak jenuh, yaitu : asam oleat, asam linoleat atau asam linolenat yang mempunyai titik cair rendah. Lemak hewan pada umumnya berbentuk padat pada suhu kamar, misalnya asam palmitat yang mempunyai titik cair tinggi (Fessenden, 1985).
Menurut Sarkar (1991) minyak dan lemak merupakan senyawa lipida dan pada umumnya tidak larut dalam air. Lemak berbentuk padat pada suhu kamar sedangkan minyak berbentuk cair. Berdasarkan ketidakjenuhan asam lemak penyusunnya yang diukur dari bilangan iod, lemak dan minyak dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: non drying oil, dengan bilangan iod lebih kecil dari 90, semi drying oil dengan bilangan iod antara 90-130, dan drying oil dengan bilangan iod lebih besar dari 130.
Suatu fatliquor adalah bahan kimia yang dapat di emulsikan dalam air yang berfungsi sebagai pelumas, yang mempunyai kemampuan untuk menghaluskan kulit dengan mereduksikan gaya gesek antar serat. Fatliquor terdiri dari ikatan parsial dari bahan emulsi dan minyak didalam substratnya.
Proses yang dikenal sebagai fatliquoring adalah proses dimana minyak disatukan ke dalam kulit dari emulsi sebelum kulit dikeringkan. Penerapan minyak dalam bentuk emulsi ini berbeda antara proses fatliquoring dan alat-alat lain untuk menyatukan minyak, seperti stuffing, currying, dan sebagainya.
Salah satu minyak yang dapat digunakan adalah minyak sulfat dari minyak sawit tropical. Adapun tujuan dari peminyakan ini adalah untuk memberikan pelicin pada jaringan kulit sehingga serat-seratnya lebih bebas untuk digerakkan, dengan demikian kulit menjadi lebih awet dan lemas. Jenis kulit jadi yang dikehendaki akan menentukan jenis minyak yang dipakai, jumlah pemakian dan cara yang lebih memungkinkan penyerapan yang merata. Setelah minyak sulfat berhasil dibuat, maka dilakukan beberpa uji untuk mengetahui kualitasnya, antara lain uji kadar air, uji kadar SO3, uji minyak dalam minyak dan sebagainya.
Kemikalia yang digunakan adalah minyak yang dapat teremulsi serta asam formiat. Agar dapat menyebar secara merata, sejumlah kecil minyak diantara serat-serat kulit yang tersebar luas adalah sangat penting untuk melarutkan minyak yang digunakan. Pelarutan minyak dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut minyak seperti bensin, alkohol, tetra klorida dll, tetapi lebih murah, lemih aman dan lebih memungkinkan untuk menggunakan pelarut metode pengemulsi minyak. Di dalam emulsi minyak dengan air, minyak secara mikroskopi terdispersi dalam molekul-molekul yang kecil sehingga memberikan warna putih seperti susu dan sebagai contoh susu itu sendiri  merupakan emulsi alami.
Perlunya pembentukan emulsi karena pada peminyakan digunakan air sebagai media penghubung dengan bentuk emulsi, diharapkan minyak dapat berpenetrasi dengan baik ke dalam serat kulit dan tidak tersebar di permukaan kulit, sehingga permukaan kulit tidak berlemak.
Untuk dapat merubah minyak menjadi teremulsi, perlu penambahan kemikalia tertentu yang disebut sebagai pengemulsi seperti detergent, NaOH, natrium bisulfit, asam sulfat, dll. Pengemulsi itu sendiri berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan atau “Surface Tension”, antara molekul minyak dengan molekul air. Dengan turunnya tegangan permukaan antara minyak dan air akan menaikkan kecenderungan minyak dan air untuk tercampur membentuk emulsi yang stabil.
Hal penting sebelum proses pembuatan minyak sulfat adalah pengujian bahan baku minyak. Dalam hal ini, pengujian yang umum dilakukan dapat dapat dibedakan menjadi tiga kelompok berdasarkan tujuannya yaitu;
1. Penentuan sifat fisik dan kimia minyak dan lemak..
Data ini dapat diperoleh dari titik cair, bobot jenis, indeks bias, bilangan asam, bilangan penyabunan, bilangan ester, bilangan iod, bilangan peroksida, bilangan Polenske, bilangan Krischner, bilangan Reichert-Meissel, komposisi asam-asam lemak, dan sebagainya.
2. Penentuan kuantitatif, yaitu penentuan kadar lemak dan minyak yang terdapat dalam bahan makanan atau bahan pertanian.
3. Penentuan kualitas minyak sebagai bahan makanan
   Berkaitan dengan proses pengolahannya (ekstraksi) seperti ada tidaknya penjernihan (refining), penghilangan bau (deodorizing), penghilangan warna (bleaching). Penentuan kualitas minyak ini juga berkaitan dengan tingkat kemurnian minyak, daya tahannya selama penyimpanan, sifat gorengnya, baunya maupun rasanya. Parameter yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas ini semua dapat dilihat dari sebearapa besar angka asam lemak bebasnya (free fatty acid atau FFA), angka peroksida, tingkat ketengikan dan kadar air.

Angka asam
Angka asam menunjukkan banyaknya asam lemak bebas yang terdapat dalam suatu lemak atau minyak . Angka asam dinyatakan sebagai jumlah miligram NaOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terrdapat dalam satu gram lemak atau minyak.


Bilangan Asam =   x BM KOH

Gambar 2. Rumus Angka Asam

Angka penyabunan (Saponifikasi)
Angka penyabunan menunjukkan berat molekul lemak dan minyak secara kasar. Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai karbon yang pendek berarti mempunyai berat molekul ytang relatif kecil, akan mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya bila minyak mempunyai berat molekul yang besar ,maka angka penyabunan relatif kecil . Angka penyabunan ini dinyatakan sebagai banyaknya (mg) NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak.
Adapun tujuannya yaitu untuk mengukur berat molekul rata-rata dari lemak atau minyak.

  Bilangan penyabunan    = 
Gambar 3. Rumus Penyabunan

Angka iodium
Penentuan iodine menunjukkan ketidakjenuhan asam lemak penyusunan lemak dan minyak. Asam lemak tidak jenuh mampu mengikat iodium dan membentuk senyawaan yang jenuh. Banyaknya iodine yang diikat menunjukkan banyaknya ikatan rangkap yang terdapat dalam asam lemaknya. Angka iodine dinyatakan sebagai banyaknya iodine dalam gram yang diikat oleh 100 gram lemak atau minyak. Angka iod juga menunjukkan korelasi dengan kemudahan tingkat oksidasi.


Sulfatasi
Asam sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan, termasuk dalam kebanyakan reaksi kimia. Kegunaan utama termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak.
Reaksi hidrasi (pelarutan dalam air) dari asam sulfat adalah reaksi eksoterm yang kuat. Jika air ditambah kepada asam sulfat pekat, terjadi pendidihan. Senantiasa tambah asam kepada air dan bukan sebaliknya. Sebagian dari masalah ini disebabkan perbedaan isipadu kedua cairan. Air kurang padu dibanding asam sulfat dan cenderung untuk terapung di atas asam. Reaksi tersebut membentuk ion hidronium:
H2SO4 + H2O → H3O+ + HSO4-.
Gambar 5. Reaksi Hidrasi
Disebabkan asam sulfat bersifat mengeringkan, asam sulfat merupakan agen pengering yang baik, dan digunakan dalam pengolahan kebanyakan buah-buahan kering.
Apabila gas SO3 pekat ditambah kepada asam sulfat, ia membentuk H2S2O7. Ini dikenali sebagai asam sulfat fuming atau oleum atau, jarang-jarang sekali, asam Nordhausen. Di atmosfer, zat ini termasuk salah satu bahan kimia yang menyebabkan hujan asam Asam sulfat dipercayai pertama kali ditemukan di iran oleh Al-Razi pada abad ke-9. (http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_sulfat)
Pembuatan minyak sulfat dilakukan dalam suatu wadah yang dapat didinginkan dengan air dan mempunyai pengaduk. Asam sulfat yang ditambahkan sebanyak 10-20% dituang secara perlahan-lahan sambil terus diaduk. Hasil reaksi kemudian dicuci dengan air garam jenuh untuk menghilangkan sisa asam sulfat yang tidak bereaksi, kemudian dilakukan netralisasi dengan soda abu atau kaustik soda (Thorstensen, 1985).
Reaksi antara minyak dan asam sulfat dapat terjadi pada dua tempat. Bila terdapat asam lemah jenuh, maka reaksi akan terjadi pada ikatan rangkap atom karbon, sedangkan bila asam lemaknya mempunyai gugus hidroksil, maka reaksi sulfatasi terjadi pada gugus hidroksil (Swern, 1979).
Ada 2 (dua) proses dalam memproses Asam Sulfat yaitu:
1.   Proses Kontak yaitu proses yang dilakukan di instalasi pabrik-pabrik khusus memproduksi Asam Sulfat. Dan proses ini banyak menghasilkan Asam Sulfat Pekat Berasap.
2.   Proses Bilik Timbel yaitu dengan menggunakan campuran gas NO dan NO2 untuk mengkatalisis pengubahan SO2 menjadi SO3, Reaksi katalis tersebut adalah:
SO2(g) + NO2(g)                         SO3(g) + NO(g)
2NO(g) + O2(g)                   2NO2(g)     Dan seterusnya NO2 mengoksidasi SO2
Gambar 6. Reaksi Proses Bilik Timbel
Gas SO3 yang terjadi kemudian direaksikan dalam air. Asam Sulfat yang dihasilkan dari proses ini adalah Asam Sulfat sampai kadar 80%.
Penggunaan Asam Sulfat banyak digunakan dalam industri pupuk, detergen, pembersihan logam, zat warna, bahan peledak, obat-obatan, pemurnian minyak bumi, pengisi aki dan penyamakan kulit, dalam industri penyamakan kulit Asam Sulfat digunakan sebagai bahan buffer atau penahan agar reaksi reaksi kimia pada kulit tetap stabil serta untuk menaikkan kadar pH  kulit pada saat proses pickling dan deliming.
Sulfatasi adalah proses perlakuan minyak dengan asam sulfat pekat untuk mendapatkan minyak yang dapat teremulsi dalam air. Minyak sulfat ini mempunyai sifat aktif permukaan dan dapat mengemulsikan minyak bebas. Minyak mineral yang disulfonasi juga banyak digunakan karena harganya yang relatif murah dan daya emulsinya yang sangat kuat.

Minyak yang disulfitasikan juga semakin banyak digunakan karena sifatnya yang khas, yaitu emulsinya tahan terhadap asam dan elektrolit. Sulfitasi dikerjakan dengan larutan Natriun bisulfit dengan sirkulasi udara. Minyak kationik bermuatan positif, karena itu bereaksi dengan zat bermuatan negatif sehingga terjadi netralisasi. Minyak kationik ini diperoleh dengan cara mengemulsikan minyak bebas dengan bahan kationik aktif permukaan yang sangat kuat. Minyak kationik ini digunakan untuk meminyaki permukaan kulit yang sudah diminyaki dengan minyak anionik, juga digunakan untuk meminyaki permukaan kulit corrected grain, hal ini untuk mengurangi kemungkinan mudahnya retaknya nerf. Minyak dengan muatan ganda merupakan campuran secara marata dari minyak anionik dan kationik dengan pemantap anionik. Digunakan untuk menghasilkan kulit yang lembut atau soft.
Sulfatasi adalah suatu proses dimana suatu grup pengemulsi (SO3H) direaksikan dangan minyak. Sulfatasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
·   Penambahan asam sulfat kedalam minyak dengan pengadukan, reaksi yang terjadi eksotermis sehingga diperlukan suatu pendingin air/larutan refrigerant.
·   Netralisasi dengan alkali
·   Pencucian dengan garam dapur
Beberapa faktor yang berpengaruh pada proses sulfatasi sebagai berikut:
1.Jenis minyak yang dipakai
2.Perbandingan antara asam dan minyak
3.Kekuatan asam
4.Suhu sulfatasi
5.Waktu reaksi
6.Cara netralisasi dan pencucian

B.     EMULSI
Emulsi adalah suspensi dispersi campuran koloid suatu zat pada fase lainnya seperti minyak dalam air yang disebut (O/W) atau sebaliknya air dalam minyak (W/O) emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang mencegah koalesensi yaitu penyatuan tetesan kecil menjdi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase tunggal yang memisah titik. Emulsi merupakan preparat parmasi yang terdiri dari dua atau lebih zat cair yang sebetulnya tidak tercampur biasanya air dengan minyak. Salah satu dari zat cair tesebut tersebar berbentuk buturan-butiran kecil ke dalam zat cair yang lain distabilkan dengan zat pengemulsi (emulgator).
Mengingat proses peminyakan dilakukan dalam suasana asam, kulit bernuatan positif, padat dan kulit mempunyai bentuk tiga dimensi dengan ketebalan dan luas tertentu untuk memasukkan fat/oil dalam bentuk emmulsi terttentu tidak mudah, karena koloid/dispersi emulsi dibatasi oleh laju pecah yang berhubungan dengan faktir keasaam (pH), muatan, waktu, dll. Untuk menjamin bahwa emulsi minyak dapat bekerja sesuai dengan yang kita harapkan, maka ada persyaratan minimal untuk emulsi agar dapat digunakan dalam industri kulit yaitu
1.      Emulsi harus mempunyai laju pecah emulsi minimal 2 jam.
2.      Emulsi harus mempunyai laju pecah ketahanan keasaman minimal pada pH 3
3.      Bentuk emulsi harus O/W
4.      Kadar SO3 dalam minyak antara 3-7% dari dry oil basis
5.      Ukuran partikel yang terbentuk <5 mm dan >25 mm
6.      Nilai hidrifilik liofobik balance (HLB) antara 8-10
(Purnomo, 2008)
C.    MINYAK SAWIT
Tanaman Kelapa Sawit merupakan salah satu sumber minyak nabati dan saat ini menjadi komuditas utama dan unggulan Indonesia. Pohon Kelapa Sawit berbentuk silinder dengan diameter sekitar 20–75 cm. Tingginya bertambah sekitar 45 - 100 cm per tahun. Buah terkumpul di dalam tandan, dalam satu tandan terdapat sekitar 1.600 buah. Tanaman normal akan menghasilkan  20–22 tandan per tahun. Jumlah tandan buah pada tanaman tua sekitar 12–14 tandan per tahun. Berat setiap tandan sekitar 25–35 kg. Secara anatomi buah kelapa sawit tersusun dari pericarp atau daging buah dan biji. Pericarp terdiri dari kulit luar buah yang keras dan licin dan mesokarp, yaitu bagian daging buah yang berserabut. Mesokarp merupakan bagian yang mengandung minyak dengan rendemen paling tinggi. Sedangkan biji Kelapa Sawit tersusun dari endokarp (tempurung) yang merupakan lapisan keras dan berwarna hitam, dan endosperm (kernel) yang berwarna putih.  Kernel akan menghasilkan minyak inti atau palm kernel oil.

Tabel 3. Karakteristik Minyak Kelapa Sawit
No
Karakteristik
Satuan
Nilai
1
Warna
-
Kuning jingga sampai kemerah-merahan.
2
Asam lemak bebas
% bobot
maksimum 5,00
3
Kadar kotoran
% bobot
maksimum 0,05
4
Kadar air
% bobot
maksimum 0,45
5
Free Fatty Acids
%
2,5 - 4,2
6
Iodine value   
mg/gr
52 - 54
7
Moisture
%
0,1
8
Carotene
ppm
297 - 313
9
Tocopherol 
ppm
386 - 794
10
Cu
-
Trace
11
Fe
-
Trace
12
Dobi (Deterioration of Bleachibility Index)
-
2,3 – 2,4
Pemanfaatan minyak nabati (sawit) di Indonesia sebagian besar digunakan untuk media menggoreng dan diekspor dalam bentuk minyak kasar (crude oil), hanya sebagian kecil yang diekspor dalam bentuk produk olahan minyak nabati. Untuk mendapatkan nilai tambah dan lebih menganekaragamkan ekspor produk olahan dari minyak sawit, perlu dicari alternatif lain pemanfaatan minyak sawit dengan cara meningkatkan daya gunanya. Minyak nabati (kelapa, sawit, dan inti sawit) merupakan trigliseriida yang mempunyai karakteristik asam lemak yang unik yang tidak dimiliki oleh minyak dan lemak hewani. Keunikan ini berkaitan dengan produk akhir dari pengolahan minyak nabati melalui proses transesterifikasi (gliserolisis) yang mengahasilkan bahan pengemulsi (emulsifier) yang berupa mono- dan digliserida. Bahan pengemulsi (emulsifer) mempunyai peranan yang sangat penting baik dalam industri pengolahan pangan maupun industri non- pangan. Di dalam industri pangan, bahan pengemulsi digunakan untuk berbagai tujuan, seperti meningkatkan kestabilan dan kesamaan mutu produk-produk emulsi. Produk-produk yang menggunakan bahan pengemulsi yang dapat kita jumpai sehari-hari adalah es krim, mentega, margarin, keju, krem, sosis, saladresing dan mayonaise. Produk non-pangan yang menggunakan bahan pengemulsi adalah kosmetik, farmasi dan pengolahan kulit. http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=laptunilapp-gdl-res-2006-sugihartor-139
Selama ini minyak kelapa sawit hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan minyak makan dalam negeri meskipun sudah ada alternatif bahwa minyak sawit akan dimanfaatkan sebagai sumber energi cadangan sebagai bahan baku biodiesel, namun untuk pemanfaatan yang lebih beraneka ragam minyak kelapa sawit bisa juga dimanfaatkan untuk kepentingan industri pengolahan kulit, yaitu sebagai bahan baku dalam pembuatan minyak sulfat untuk proses fatliquoring. Karena sejauh ini industri kulit diIndonesia banyak mengimpor minyak sulfat tersebut dari luar negeri, jika ada bahan baku yang bisa dimanfaatkan dan juga mudah diperoleh serta mempunyai kualitas yang bagus kenapa hal itu tidak kita kembangkan.
Minyak sawit (Crude Palm Oil) yang digunakan sebagai bahan baku proses hidrolisa harus memiliki spesifikasi sebagai berikut :
1.      Bilangan asam (AV, Acid Value), mgKOH/g = 10,0 
2.      Bilangan penyabunan (SV, Safonificition Value), mgKOH/g =195-205
3.      Bilangan iodium (IV, Iodin Value), g/100g = 44-54
4.      Kandungan air, % berat = 0,3 mol
5.      Pengotor tak terlarut, % berat = 0,3 mol
6.      Materil tak tersabunkan % berat = 2,5 mol

7.      Distribusi karbon, % berat
C12 = 1,0 mol
C14 = 2,0 mol
C16 = 43-47 mol
C18 = 3-6 mol
C18,1 = 35-45 mol
C18,2 = 5-15 mol
Tabel 4. Parameter Kualitas Minyak Sawit CPO dan RBDPO
Parameter
CPO
RBDPO
Angka asam
6,9 mgKOH/g oil
0,49 – 0,59 mgKOH/g oil
Angka penyabunan
200-205 mgKOH/g oil
199 – 217 mgKOH/g oil
Kandungan FFA
2,5 – 4,2 %-w
< 0.1 %-w

D.      PENYAMAKAN KULIT
Penyamakan adalah suatu proses untuk merubah kulit mentah ( hides atau skins) sehingga menjadi kulit tersamak ( leather ) dengan menggunakan bahan penyamak. Dimana kulit hasil samakan tersebut perbedaannya nyata sekali baik sifat-sifat organoleptis, phisis, maupun kimiawi.
Tabel 5. Perbedaan Sifat Antara Kulit Mentah Dan Kulit Tersamak
No
Kulit Mentah
Kulit tersamak
1
Berbentuk lembaran, untuk kulit sapi dilipat bagian bulu didalam, dan untuk kulit kerbau/kuda bagian bulu diluar.
Berbentuk belahan/side tetapi untuk eksport bentuk lembaran ( whole hides ) kecuali kulit-kulit yang berasal dari kambing atau domba dan reptil.
2
Warna kulit seperti binatang aslinya
Warna putih kebiru-biruan untuk kulit samak khrom yang tidak dicat warna kekuning-kuningan, untuk kulit samak nabati yang tidak dicat warna hitam, coklat, merah, hijau, kuning dan lain-lain, dan untuk samak khrome/nabati yang dicat (menurut warna cat tutupnya)
3
Keras dan kaku (kering)
Lemas, elastis, plastis
4
Mudah busuk karena bakteri
Tidak mudah busuk
5
Tidak tahan panas dan akan terdenaturasi menjadi lem
Tidak dapat menjadi lem
6
Penampangnya tersusun dari: bulu, epidermis, corium, dan subcutis
Penampangnya tersusun hanya corium saja kecuali samak bulu.
7
Kulit mentah segar mengandung:
ü  30-33% collagen
ü  2-5% lemak
ü  0,2-2% epidermis
ü  0,1-0,3% mineral
ü  60-65% air
Tergantung bahan penyamaknya :
1. kulit samak krom:
ü  kadar air =  ± 20%
ü  kadar abu jumlah  =  ± 20%
ü  kadar Cr2O3  =  ± 3%
ü  kadar gemuk  =  ± 5%
ü  pH  =  3,5-7
2. Kulit samak nabati :
ü  Zat larut dalam air = ± 6%
ü  gemuk = ± 6%
ü  abu jumlah = ± 2%
ü  air = ± 17%
ü  derajat penyamakan = ± 50
ü  pH = 3,5-7

Dalam suatu proses penyamakan kulit dibutuhkan suatu zat penyamak (tannin) yaitu zat yang dapat mengubah kulit mentah menjadi kulit tersamak. Adapun macam zat atau bahan penyamak itu antara lain:
1.      Bahan penyamak nabati
2.      Bahan penyamak sintetis
3.      Bahan penyamak aldehid
4.      Bahan penyamak minyak
5.      Bahan penyamak mineral
6.      Bahan penyamak alum
BAB III
MATERI DAN METODE
A.    ALAT
Alat yang digunakan dalam praktikum yaitu :
a. Analisis Bahan Baku Minyak (penentuan bilangan asam, penyabunan dan angka iod)
1.      Neraca analitik                             
2.      Gelas arloji
3.      Gelas beker                                  
4.      Erlenmeyer                                   
5.      Pendingin balik                            
6.      Kompor pemanas                         
7.      Buret                                                        
8.      Pro pipet dan Pipet volum           
9.      Pipet tetes                                    
10.  Statif dan klem                            
b.  Pembuatan Minyak Sulfat
1.      Neraca analitik
2.      Gelas beker
3.      Mixer, pengaduk dan wadahnya
4.      Termometer  
5.      Corong pemisah
6.      Pipet tetes
7.      Pipet volum dan propipet
8.      Statifdan klem

c. Pengujian Emulsi, Pengujian Kadar Air Dan Pengujian Kadar SO3 Terikat
1)      Neraca analitik
2)      Gelas arloji
3)      Erlenmeyer
4)      Tabung reaksi dan rak tabung reaksi
5)      Pipet tetes
6)      Gelas ukur
7)      Gelas beker
8)      Pengaduk
9)      Termometer
10)  Kompor listrik
11)  Oven
12)  Desikator
13)  Corong pemisah
14)  Pipet volum
15)  Buret
16)  Statif dan klem
17)  Corong

d. Aplikasi Fatliquor Pada Penyamakan
1)      Ember
2)      Neraca analitik
3)      Timbangan kasar
4)      Gelas arloji
5)      Gelas beker
6)      Gelas ukur
7)      Pipet tetes
8)      Pengaduk
9)      Kompor pemanas
10)  Thermometer
11)  Sarung tangan

e. Pengujian Kulit Samak
1)      Penggaris dan Gunting
2)      Neraca analitik
3)      Gelas arloji
4)      Oven dan desikator
5)      Digital Force gouge
6)      Moisture tester
7)      Ticknes strenght
8)      Crough meter
B.     BAHAN
Bahan yang di gunakan dalam praktikum yaitu :
a. Analisis Bahan Baku Minyak (analisa bilangan asam, penyabunan dan angka iod)
1.      Minyak Sawit Tropical
2.      Minyak sulfat sawit tropical
3.      Alkohol 95% netral
4.      NaOH 0.1N
5.      Indikator PP
6.      Larutan KOH alkoholis
7.      Larutan HCl standar 0,5 N
8.      Khloroform
9.      Hanus iodin
10.  Akuades
11.  Asam asetat glasial
12.  Natrium thiosulfat 0.1N
13.  Larutan pati/indikator amilum

b.       Pembuatan minyak sulfat
1.      Minyak Sawit tropical
2.      Es batu
3.      Akuades
4.      H2SO4
5.      Larutan Garam Jenuh
6.      NaOH

c.  Pengujian Emulsi, Pengujian Kadar Air dan Pengujian SO3 terikat
1.      Minyak sulfat sawit topical
2.      Akuades
3.      Asam formiat
4.      Eter
5.      NaCl jenuh
6.      H2SO4 1 N
7.      Kertas pH
8.      Indikator PP
9.      NaOH 0,5 N

d.      Aplikasi fatliquor pada penyamakan
1.      Kulit kambing pickle
2.      Air garam
3.      FA
4.      H2SO4
5.      Altan MS
6.      Cromosal B
7.      Sodium format
8.      Soda kue
9.      Air kran
10.  Soda ASH
11.  Tergotan RAP
12.  Tamol
13.  Sintan DLE
14.  Dyestuff blue
15.  Minyak sulfat sawit tropical
16.  Minyak SAF
17.  indikator BCG
18.  kertas pH
19.  Pigment biru
20.  Binder
21.  Wax
22.  Filler 415
23.  Lak
24.  Thinner
e. pengujian kulit
1.      Kulit kambing tersamak
2.      Aquadest
3.      Air keringat buatan
4.      Kain putih
C.    CARA KERJA
a.Analisis Bahan Baku Minyak
Penentuan Bilangan Asam
1.      Ditimbang minyak sawit tropical sebanyak 5,002 gram dalam erlenmeyer.
2.      Ditambahkan larutan alkohol netral 95% sebanyak 50 ml ke dalam erlenmeyer yang telah berisi minyak sawit tropical
3.      Pendingin balik dirangkai pada statif di hubungkan dengan selang kemudian erlenmeyer ditutup dengan pendingin balik, ditempatkan diatas pemanas listrik.
4.      Campuran dipanaskan hingga mendidih selama kurang lebih 60 menit
5.      Setelah dingin ditetesi indikator PP sebanyak 3 tetes, lalu titrasi dengan larutan NaOH 0,1N sampai warna berubah menjadi merah muda yang tidak hilang selama 30detik. Di amati dan dicatat perubahan yang terjadi.

Penentuan Bilangan Penyabunan
1)        Di timbang minyak sawit tropical sebanyak 5.002 gram lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer lalu ditambahkan 50ml larutan KOH alkoholis kedalam erlenmeyer yang berisi minyak sawit tropical
2)        Di refluks dengan pendingin balik selama 1,5 jam setelah itu larutan didinginkan dan ditetesi 3tetes indikator PP
3)        Di titrasi dengan larutan HCl 0.5N
4)        Untuk mengetahui kelebihan KOH dibut larutan blanko dengan prosedur yang sama tanpa bahan minyak sawit tropical. Akhir titrasi ditandai dengan berubahnya warna larutan dari ungu menjadi bening.

Penentuan Bilangan Iod
1.        Ditimbang minyak sawit tropical sebanyak 0.253gram dimasukkan kedalam erlenmeyer tertutup, ditambahkan 10ml khloroform dan 25ml hanus iodin dibiarkan ditempat gelap selama 30menit dan kadang kala digojok.
2.        Ditambahkan 100ml akuades dengan suhu 50°C diambil 25ml sebanyak 3kali lalu dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat 0.1N sampai berwarna kuning pucat lalu ditambahkan 3tetes larutan pati lalu dititrasi kembali sampai warna biiru hilang(bening).
3.        Larutan blanko dibuat dari 25ml hanus iodin dan diencerkan dengan 100ml akuades hangat dan dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat sampai bening.
4.        Di amati dan dicatat hasil pengamatan yang dilakukan.

b.       Pembuatan Minyak Sulfat
1.      Minyak sawit tropical ditimbang 100gram dan dimasukkan dalam gelas beker, kemudian gelas beker tersebut dimasukkan ke dalam wadah yang berisi pecahan es batu.
2.      Ditambahkan asam sulfat pekat sebanyak 40gram/23,18ml di tambahkan tetes demi tetes sambil diaduk dengan mixer suhu dijaga dibawah 20°C
3.      Setelah penambahan asam sulfat selesai larutan kemudian didiamkan selama 1 malam. Keesokan harinya minyak dipisah dengan air menggunakan corong pemisah hasil pemisahan kemudian dicuci dengan air garam sebanyak 300ml, dan dilakukan sebanyak 2kali dan dicuci lagi dengan air garam sebanyak 150ml lalu didiamkan lagi selama 1 malam.
4.      Keesokan harinya proses dilanjutkan dengan proses penetralan. Ditambahkan NaOH 0.1N sampai pH larutan antara 6,5-7.
5.      Di amati dan dicatat perubahan yang terjadi.

c. Pengujian Emulsi, Pengujian Kadar Air Dan Pengujian Kadar SO3 Terikat
Pengujian emulsi sederhana
1.    Dimasukkan 10 ml akuades ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes minyak sulfat dan digokok hingga homogen.
2.    Didiamkan dan dicatat waktu pecahnya emulsi (larutan menjadi 2 fase kembali).
Pengujian emulsi dengan pemanasan
1.    Ditambahkan 50 Ml akuades ke dalam gelas beker dan ditambahkan 15 tetes minyak sulfat ke dalam gelas beker dan diaduk hingga homogen.
2.    Dipanaskan diatas kompor listrik dan diamati suhu pecahnya minyak sulfat.



Pengujian emulsi dengan asam formiat
1.    Dimasukkan 50 ml akuades ke dalam gelas beker lalu dipanaskan di atas kompor listrik hingga suhu maksimal 50 C
2.    Di masukkan minyak sulfat sebanyak 15 tetes ke dalam gelas beker yang lain, kemudian ditambahkan akuades yang telah dipanaskan tadi denan suhu 50 C dan diaduk hingga homogen.
3.    Ditambahkan asam formiat sebanyak 3 tetes kedalam gelas beker tadi sambil dipanaskan pada suhu kurang lebih 50 C.
4.    Diamati pecahnya minyak sulfat

 Pengujian Kadar Air
1.    Di timbang gelas beker kosong yang telah di oven.
2.    Ditimbang minyak sulfat menggunakan gelas arloji pada neraca analitik.
3.    Minyak yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam oven dengan wadah gelas arloji pada suhu 100 c selama 3 jam.
4.    Pada setiap 1 jam sekali gelas arloji yang berisi minyak ditimbang kemudian di oven kembali, penimbangan dilakukan setiap satu jam sekali selama 3 jam.
Pengujian kadar SO3 terikat
1.    Ditimbang minyak sulfat sebanyak 5 gram dengan gelas arloji pada neraca analitik. Dimasukkan dalam corong pemisah.
2.    Ditambahkan 50 ml eter dan 50 ml NaCL jenuh. Digojok selama 5 menit dan dibuang larutan garam jenuhnya. Dan ditambahkan 3 tetes H2SO4 1N dan 25 ml eter dan digojok kembali selama 5menit
3.    Larutan kemudian dipisah antara eter +  minyak dan larutan garam nya. Kemudian ditambahkan lagi 25ml eter dan digojok selama 5menit.
4.    Ke dalam corong pemisah ditambahkan NaCL jenuh + digojok sampai pH nya netral ( bebas asam). Larutan kemudian disaring kembali, sisa saringan (eter+minyak) dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan dipanaskan selama 90 menit.
5.    Sebelum pemanasan dilakukan ke dalam erlenmeyer yang berisi eter + minyak ditambahkan 25 ml H2SO4 1N, kemudian dipanaskan selama 90 menit.
6.    Setelah waktu tercapai larutan didinginkan dan ditambahkan 25 ml eter, 30 gram NaCL, dan 3 tetes indikator pp dan digojok.
7.    Larutan kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0,5N, diamati dan dicatat perubahan yang terjadi selama percobaan.

Keterangan: Untuk Langkah Kerja Pada Uji Bilangan Penyabunan Dan Bilangan Iod pada Minyak Tersulfatasi Minyak Sawit Tropical sama seperti Uji Bilangan Penyabunan Dan Bilangan Iod Pada Minyak Sawit Tropical hanya saja yang membedakannya yaitu pada bahan baku minyak yang digunakan.

d.      Aplikasi Fatliquor Pada Penyamakan
1.      Ditimbang kulit pickle, lalu ditambahkan air garam 80BE.
2.      Repickle
v  diambil 80% larutan garam 8o BE dimasukkan dalam ember yang berisi kulit kemudian diremas-remas selama 20 menit.
v  Ditambah 1% FA diencerkan 10 X dengan  aquadest lalu diremas-remas selama 45 menit.
v  Dilakukan pengecekan pH (pH 3) dengan cek BCG  bila tercapai akan berwarna kuning, bila belum ditambahkan 0,5 % H2SO4 remas selama 3 X 15 menit.
3.      Pre Tanning
v  Ditambahkan 1% Altan MS diencerkan sebanyak 10X dengan aquadest diremas selama 1 jam
4.      Tanning
v  Ditambahkan 8% chromosal sebanyak 21 gram dimasukkan dalam ember yang berisi kulit kemudian diremas-remas selama 7 jam.
v  Lalu di over night selama 1 malam. Lalu cairan tanning dibuang.
5.      Ageing
v  Kulit di kering anginkan pada pentangan kayu, dengan bagian rajah kulit diatas. Penjemuran dilakukan tanpa sinar matahari.
6.      Netralisasi
v  Ditambahkan 150% air dimasukkan dalam ember yang berisi kulit.
v  Ditambah 1,5% soda kue kemudian diremas-remas selama 30 menit. Cek pH (4,5-5,50) dan cek BCG warna biru.
v  Ditambahkan 0,5 % soda ASH dan diremas selama 20 menit.
7.      Retanning
v  Diambil 100% air dimasukkan dalam ember yang berisi kulit.
v  Ditambahkan 2 % Tergotan RAP dan 2%  Basintan DLE  diremas selama 1 jam.
8.      Dyeing
v  Ditambah 1,5% Dyestuff warna biru kemudian diremas-remas selama 30 menit.
v  Ditambahkan 3% Tamol sebanyak  gram diremas selama 30 menit.
v  Lalu di ageing kembali
9.      Fatliquoring
v  Ditambahkan 100% air kran dengan suhu 75º C kemudian diremas-remas selama 15 menit..
v  Ditambah 15% minyak sulfat sawit tropical dan 5% SAF diremas selama 90 menit.
v  Ditambah 1,5% FA dilakukan pengenceran sebanyak 5X, lalu diremas selama 2X20 menit.
10.  Hanging
v  Kulit dibentang atau dijemur tanpa ada sinar matahari hingga kering atau tidak mengandung air lagi.
11.  Steaking
v  Dilakukan steaking dengan mesin steaking, agar kulit lebih lebar dan lemas.
12.  Toggling
v  Dilakukan toggling pada papan kayu, menggunakan paku
13.  Finishing
v  Membuat larutan untuk finishing dengan diambil 1 bagian pigment biru, ditambah 2,5 bagian binder, ditambah 0,3 bagian wax, dan 6,2 bagian aquadest, kemudian diaduk-aduk hingga homogen.
v  Larutan dimasukkan dalam alat yang dihubungkan dengan compressor kemudian disemprotkan pada kulit yang telah dibentangkan pada kayu ( base coat ).
v  Penyemprotan dilakukan dengan arah silang agar pengecatan bisa merata, kemudian dikeringkan.
v  Setelah kering kulit disemprot lagi ( middle coat ), kemudian dikeringkan.
v  Penyemprotan diulang sekali lagi ( top coat )  lalu dikeringkan.
v  Setelah kering kulit disemprot dengan campuran lak dan thinner.
14.  Flatting
Flatting dilakukan di pabrik Fajar Makmur agar kulit lebih mengkilap.

e.  Pengujian kulit
1.      Uji Shear Stress Dan Uji Tensile Strength
·         Uji Shear Stress
a.    Kulit yang sudah dipersiapkan, kemudian dipasangkan pada mesin uji Tensile Strength Tester.
b.    Jarak dijaga agar tetap 5 cm di antara dua jepitan tersebut.
c.    Mesin dihidupkan sampai kulit tertarik sampai putus.
d.   Beban dicatat dan penambahan panjang dicatat untuk evaluasi.
e.    Kekuatan tarik dihitung, demikian juga kemuluran.
·         Ujian Tensile Strength
a.       Kulit yang sudah dipersiapkan, kemudian dipasangkan pada mesin uji Tensile Strength Tester.
b.      Jarak dijaga agar tetap 5 cm di antara dua jepitan tersebut.
c.       Mesin dihidupkan sampai kulit tertarik sampai putus.
d.      Beban dicatat dan penambahan panjang dicatat untuk evaluasi.
e.       Kekuatan tarik dihitung, demikian juga kemuluran.
f.       Tebal kulit diukur dengan Gauge Thicknes.
2.      Uji Kadar Air
a.       kulit yang sudah dipotong sekecil-kecil mungkin, kemudian ditimbang, dan berat di catat.
b.      Dinyalakan alat moisture tester, atur suhu dan waktu.
c.       dimasukkan kulit yang sudah dipotong pada alat.
d.      Tunggu hingga wakrtu yang telah ditentukan.
e.       Dicatat hasil yang telah diperoleh.
f.       Dihitung kadar air dan kadar solid.

3.      Uji Kelunturan Warna
a.       Kulit yang sudah dipotong sesuai pola, kemudian dipasang pada pesawat Crock meter.
b.      Ambil kain, satu basah dan satunya lagi kering, pasang pada pesawat uji Crock meter.
c.       Tempelkan kain pada kulit, baik kain kering maupun basah.
d.      Hidupkan mesin sehingga kulit akan tergosok maju mundur 10 kali selama 10 detik.
e.       Mesin dimatikan
f.       Ambil kain yang sudah ternoda tadi, untuk kain basah dikeringkan dengan Hair Dryer.
g.      Data dicatat untuk dievaluasi.

4.    Uji Ketebalan Kulit
1.    Kulit diletakkan pada meja datar.
2.    Dari tepi kulit / garis punggung 15 cm.
3.    Kemudian diukur tiga titik pada bagian punggung.
4.    Bagian perut diukur dua titik
5.    Kemudian hasil dirata-rata.

No comments:

Post a Comment

iklan banner
iklan banner