A. TUJUAN
Adapun
tujuan dari praktikum pengolahan limbah padat sisa penyamakan kulit adalah
sebagai berikut.
1. Mengurangi daya fermentasi
2. Mengurangi volum limbah padat
3. Mengolah limbah padat menjadi bahan yang lebih bernilai
guna
B. MANFAAT
Setelah
melaksanakan praktikum ini, diharapkan mahasiswa.
1. Dapat
mengurangi daya fermentasi
2. Dapat
mengurangi volum limbah padat
3. Dapat
mengolah limbah padat menjadi bahan yang lebih bernilai
guna
II.
DASAR TEORI
Peningkatan kegiatan perekonomian
terutama sektor industri senantiasa menimbulkan dampak positif dan dampak
negatif. Dampak positif tersebut antara lain adalah meningkatnya
kesempatan kerja, tingkat ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat, serta pertumbuhan
ekonomi secara nasional. Sedangkan dampak negatif adalah menurun-nya
kualitas lingkungan yang disebabkan oleh penanganan limbah yang tidak tepat.
Pada dasarnya limbah adalah bahan
yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun
proses-proses alam dan atau belum mepunyai nilai ekonomi bahkan dapat mempunyai
nilai ekonomi yang negatif. Menurut sumber-nya limbah dapat dibagai
menjadi tiga yaitu :
1.
limbah domestik (rumah
tangga) yang berasal dari perumahan, perdagangan, dan rekreasi;
2.
limbah industri;
3.
limbah rembesan dan
limpasan air hujan.
Sesuai dengan sumbernya maka limbah
mempunyai komposisi yang sangat bervariasi bergantung kepada bahan dan proses
yang dialami-nya (Sugiharto, 1987).
Limbah industri sangat beragam,
sesuai dengan jenis industri. Berbagai jenis industri berpotensi
mencemari lingkungan diantaranya adalah industri tekstil, cat, penyamakan
kulit, farmasi, dan industri pangan. Limbah industri pangan dapat
menim-bulkan masalah dalam penanganannya karena mengandung sejumlah besar
karbohi-drat, protein, lemak, garam-garam mineral, dan sisa-sisa bahan kimia
yang digunakan di dalam proses produksi. Contoh beberapa industri
pangan yang menghasilkan limbah seperti ini adalah produk susu, pengalengan dan
pengawetan buah-buahan dan sayuran, pengalengan dan pengawetan hasil laut,
pemurnian gula, permen, produk daging, pengawetan dan pengalengan daging, serta
penggilingan biji-bijian.
Masalah pencemaran karena buangan
limbah yang tidak dikelola dengan baik seringkali tidak hanya disebabkan oleh
industri besar, tetapi juga oleh industri kecil yang seringkali belum mempunyai
fasilitas pengolah limbah. Mengingat jumlah industri kecil yang sangat
banyak dan lokasi yang menyebar, maka hal ini perlu mendapat perhatian.
Sementara untuk industri besar yang sudah dilengkapi fasilitas pengolah limbah
dan adanya Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik
Indonesia Nomor : KEP 03/MENKLH/II/1991 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi
Kegiatan yang Sudah Beroperasi, seharusnya dapat mengelola limbah yang
dihasilkan dengan prosedur yang benar dan bertanggung jawab, namun dalam
pelaksanaannya masih sering terjadi pelanggaran.
Secara umum pengelolaan limbah
dapat dilakukan dengan cara pengurangan sumber (source reduction),penggunaan kembali (reuse), pemanfaatan (recycling),
pengolahan (treatment), dan
pembuangan (disposal). Untuk
setiap industri pangan, alternatif pengelolaan limbah dapat disesuaikan dengan
karakteristik limbah. Pada makalah ini, pendekatan yang digunakan adalah
cara pemanfaatan, karena dapat meli-batkan masyarakat sebagai mitra kerja
dengan mengingat bahwa dalam upaya pengelolaan lingkungan perlu adanya
kerjasama yang baik antara masyarakat, perguru-an tinggi, lembaga penelitian,
dan juga pemerintah.
Menurut bentuknya limbah dibedakan
menjadi tiga yaitu limbah padat, cair, dan gas. Proses pengolahan limbah
cair dilakukan melalui tiga kegiatan yaitu pengolahan secara fisik, kimiawi,
dan biologis. Proses pengolahan secara fisik adalah pemisahan berdasarkan
ukuran partikel melalui tahapan flokulasi, sedimentasi, dan penyaringan.
Pengolahan secara kimiawi dilakukan dengan menambahkan zat kimia ke dalam
limbah untuk menyederhanakan senyawa kimia yang berbahaya melalui tahapan
pengendap-an, penyerapan, dan desinfeksi. Proses pengolahan secara
biologis dilakukan dengan cara memanfaatkan mikroorganisme sebagai agen
pengurai limbah. Mikroorganisme tersebut diperoleh dengan cara
memanfaatkan kerja lumpur aktif (activated
sludge).http://smk3ae.wordpress.com/
Sisa buffing dan shaving cukup banyak dan akan mengganggu
dan mencemari lingkungan apabila tidak diolah ataupun dimanfaatkan. Dibeberapa
industri penyamakan kulit sisa buffing dan shaving kulit hanya ditaruh dalam
karung-karung plastik dan kemudian dibuang ke TPA ataupun dibiarkan di suatu
lahan, dimana lama kelamaan akan menjadi kompos karena bercampur dengan tanah.
Namun perlu dipikirkan bahwa sisa buffing dan shaving ada yang masih mengandung
krom sehingga apabila hanya dibuang ke suatu lahan, maka akan mencemari tanah
dan juga sumber air, disamping itu juga mengganggu estetika.(http://ppsdms.org/papan-partikel-dari-limbah-industri-penyamakan-kulit-dan-limbah-kulit-kayu.htm)
III.
ALAT DAN BAHAN
1.
Proses
Pembuatan Kertas
Alat yang digunakan
Ø Ayakan
Ø Kaca arloji
Ø Gunting
Ø Gelas beker 500 ml
Ø Labu ukur 500 ml
Ø Gelas ukur 100 ml
Ø Sudip
Ø Mixer
Ø Saringan
Ø Kain basah
Ø Spon
Bahan
yang digunakan
Ø Limbah buffing
Ø Jerami
Ø NaOH
Ø Tapioka
Ø Gondorukem
Ø Tawas
Ø Akuades
2.
Proses
Pembuatan Batako
Alat yang digunakan
Ø Ayakan
Ø Kaca arloji
Ø Sendok
Ø Botol aqua 1500 ml (untuk cetakan)
Ø Timbangan
mekanik
Bahan yang digunakan
Ø Semen
Ø Pasir
Ø Limbah shaving
Ø Air
3.
Proses
Anaisis Krom
Alat yang digunakan
Ø Wadah dari plastik
Ø Saringan
Ø Gelas ukur
Ø Gelas ukur 100 ml
Ø Pipet volume 10 ml, 50 ml
Ø Propipet
Ø Labu ukur 50 ml
Ø Cuvet
Ø Spektrofotometer
Bahan yang digunakan
Ø Batako
Ø Aquades
Ø Diphenil karbazid
Ø Larutan HNO3 1%
IV.
CARA KERJA
1.
Pembuatan kertas
a.
Limbah buffing kulit tersamak
diayak
b.
Bahan-bahan utama yang akan digunakan ditimbang
c.
Bahan -bahan pembantu seperti tapioka, kapur, gondorukem dan
tawas ditimbang
d.
Jerami dipotong
kecil-kecil, lalu ditimbang sebanyak 25 gram dan dimasukkan kedalam gelas beker 500 ml
e.
Dimasukkan sedikit
demi sedikit NaOH sebanyak 500 ml kedalam gelas beker yang berisi jerami
f.
Diaduk-aduk dengan
menggunakan sudip hingga homogen lalu dilanjutnya pengadukan dengan menggunakan
mixer selama 1 jam (sampai larutan tercampur sempurna)
g.
Kemudian ditambahkan
limbah buffingnya
h.
Setelah waktu
tercapai, lalu ditambahkan bahan pembantu seperti tapioka, kapur, gondorukem
dan tawas kedalam campuran tadi sambil dimixer.
i.
Larutan dituangkan
ke atas kain basah yang dibawahnya telah dilapisi dengan spon
j.
Sambil dituang
gabus digoyang-goyangkan agar larutan tersebar merata dipermukaan kain
k.
Kemudian kain
dikeringkan/diangin-anginkan selama ± 1 minggu
l.
Hasil kertas
diamati
2.
Pembuatan batako
a.
Ditimbang
bahan-bahan yang akan digunakan sesuai formulasi (yang
digunakan yaitu formulasi kelompok 2) namun
untuk pasir dilakukan pengayakan terlebih dahulu untuk mendapatkan pasir yang halus dan
homogen
b.
Semua bahan dicampurkan
dengan penambahan air secukupnya
c.
Campuran diaduk
hingga homogen
d.
Setelah homogen
lalu campuran tadi dicetak kedalam cetakan yang disediakan
e.
Batako dikeringkan
selama kurang lebih satu minggu untuk dilakukan pengujian krom
f.
Lalu batako
ditimbang sampai berat konstan
3.
Analisa Krom
a.
Setelah satu minggu
batako direndam didalam aquades secukupnya hingga terendam (volume aquades
dicata) dan dibiarkan lagi selama satu minngu
b.
Setelah satu minggu
batako diangkat lalu air sisa perendama batako disaring dan diukur volumenya
c.
Dipipet 50 ml air
saringan tadi lalu dimasukkan kedalam labu ukur 50 ml
d.
Ditambahkan 1 ml
dphenil karbazid dan 3 tetes larutan HNO3 10%
e.
Larutan digojog
hingga homogen
f.
Lalu dipipet 10 ml
dan dimasukkan ke dalam cuvet
g.
Larutan tadi
dianalisa dengan spektrofotometer
h.
Dicatat data yang
dihasilkan
V.
DATA PRAKTIKUM
Hari/ tanggal : Rabu, 28 April 2010
Data pengamatan :
1. Pembuatan Batako
Table
1. formulasi 1 pembuatan batako dari limbah penyamakan kulit
Kel
|
Batako
|
Pasir
|
Semen
|
Limbah shaving
|
Berat konstan
|
Abs
rerata
|
1
|
A
|
115 gr
|
50 gr
|
35 gr
|
239,011 gr
|
0,2995
|
B
|
50 gr
|
25 gr
|
25 gr
|
146,133 gr
|
0,1132
|
|
2
|
A
|
120 gr
|
50 gr
|
30 gr
|
234,265 gr
|
0,247
|
B
|
52,2 gr
|
22,5 gr
|
25 gr
|
106,339 gr
|
0,101
|
|
3
|
A
|
125 gr
|
50 gr
|
25 gr
|
210,606 gr
|
0,199
|
B
|
55 gr
|
20 gr
|
25 gr
|
132,158 gr
|
0,132
|
|
4
|
A
|
130 gr
|
50 gr
|
20 gr
|
257,440 gr
|
0,29
|
B
|
57,5 gr
|
17,5 gr
|
25 gr
|
102,469 gr
|
0,279
|
|
5
|
A
|
135 gr
|
50 gr
|
17,5 gr
|
241,167 gr
|
0,257
|
B
|
60 gr
|
15 gr
|
25 gr
|
108,283 gr
|
0,075
|
|
6
|
A
|
140 gr
|
50 gr
|
15 gr
|
220,836 gr
|
0,0435
|
B
|
62,5 gr
|
12,5 gr
|
25 gr
|
144,985 gr
|
0,037
|
|
7
|
A
|
145 gr
|
50 gr
|
10 gr
|
210,607 gr
|
0,199
|
B
|
65 gr
|
10 gr
|
25 gr
|
132,165 gr
|
0,132
|
2.
Pembuat Kertas
Table
2. formulasi I pembuatan kertas dari limbah penyamakan kulit
Kelompok
|
Berat (gr)
|
Berat @1%
|
||||
Buffing
|
Jerami
|
Tapioka
|
Kapur
|
Gondorukem
|
Tawas
|
|
1
|
25
|
10
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
2
|
22,5
|
12,5
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
3
|
20
|
15
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
4
|
17,5
|
17,5
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
5
|
15
|
20
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
6
|
12,5
|
22,5
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
7
|
10
|
25
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
0,35
|
Pembuatan
Kertas
Hasil praktikum tidak sesuai dengan yang diharapkan, karena kertas
tidak berbentuk dan masih pecah-pecah sehingga sulit dipisahkan dari kain cetakannya.
3.
Analisis
Kadar Krom
Volume sampel = 50 ml
sampel dari air sisa rendaman
Volume HNO3 10% = 3 tetes
Volume Diphenil karbazid =
1 ml
Analisis kadar khrom dengan Spektrofothometer
Table 3. hasil spektro
analisis kadar krom
Sampel
|
λ = 550
|
Rerata
|
|
A
|
0,247
|
B
|
0,101
|
Table 4. absorbansi
deret standar
No
|
Deret Larutan Standar
|
λ = 550
|
|||
Abs 1
|
Abs 2
|
Abs 3
|
Rerata
|
||
1.
|
0,1
|
0,054
|
0,056
|
0,053
|
0,0543
|
2.
|
0,2
|
0,121
|
0,122
|
0,120
|
0,121
|
3.
|
0,3
|
0,213
|
0,212
|
0,209
|
0,2113
|
4.
|
0,4
|
0,262
|
0,253
|
0,253
|
0,256
|
5.
|
0,5
|
0,307
|
0,309
|
0,312
|
0,3093
|

Gambar
1. Hubungan Antara Deret Standar dengan Absorbansi Rata – rata
dengan
Panjang Gelombang 550
VI.
PERHITUNGAN
Persamaan
linier y = 0,645x - 0,0031
Untuk
menentukan kadar krom maka absorbansi hasil pemeriksaan dengan spektro
dimasukkan sebagai variable x.
Sampel
|
λ = 550
|
Rerata
|
|
A
|
0,247
|
B
|
0,101
|
Sampel
A
Absorbansi
= 0,247
Maka
Kadar
krom = 0,645x - 0,0031
= 0,645. 0,247–
0,0031
= 0,156215
Sampel
B
Absorbansi
= 0,101
Maka
Kadar
krom = 0,645x - 0,0031
= 0,645. 0,101– 0,0031
= 0,062045