Laporan Praktikum Kimia Analisis, Kimia Organik, Analisis Bahan Kulit, Analisis Karet

Saturday, 12 May 2012

PENGOLAHAN LIMBAH PADAT SISA PENYAMAKAN KULIT ANALISIS LIMBAH


LAPORAN RESMI
PENGOLAHAN LIMBAH PADAT SISA PENYAMAKAN KULIT

I.            PENDAHULUAN
A.    TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum pengolahan limbah padat sisa penyamakan kulit adalah sebagai berikut.
1.      Mengurangi daya fermentasi
2.      Mengurangi volum limbah padat
3.      Mengolah limbah padat menjadi bahan yang lebih bernilai guna
B.     MANFAAT
Setelah melaksanakan praktikum ini, diharapkan mahasiswa.
1.      Dapat mengurangi daya fermentasi
2.      Dapat mengurangi volum limbah padat
3.      Dapat mengolah limbah padat menjadi bahan yang lebih bernilai guna

II.            DASAR TEORI

Peningkatan kegiatan perekonomian terutama sektor industri  senantiasa menimbulkan dampak positif dan dampak negatif.  Dampak positif tersebut antara lain adalah meningkatnya kesempatan kerja, tingkat ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat, serta pertumbuhan ekonomi secara nasional.  Sedangkan dampak negatif adalah menurun-nya kualitas lingkungan yang disebabkan oleh penanganan limbah yang tidak tepat.
Pada dasarnya limbah adalah bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam dan atau belum mepunyai nilai ekonomi bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif.  Menurut sumber-nya limbah dapat dibagai menjadi tiga yaitu :
1.      limbah domestik (rumah tangga) yang berasal dari perumahan, perdagangan, dan rekreasi;
2.      limbah industri;
3.      limbah rembesan dan limpasan air hujan.
Sesuai dengan sumbernya maka limbah mempunyai komposisi yang sangat bervariasi bergantung kepada bahan dan proses yang dialami-nya (Sugiharto, 1987).
Limbah industri sangat beragam, sesuai dengan jenis industri.  Berbagai jenis industri berpotensi mencemari lingkungan diantaranya adalah industri tekstil, cat, penyamakan kulit, farmasi, dan industri pangan.  Limbah industri pangan dapat menim-bulkan masalah dalam penanganannya karena mengandung sejumlah besar karbohi-drat, protein, lemak, garam-garam mineral, dan sisa-sisa bahan kimia yang digunakan di dalam  proses produksi.  Contoh beberapa industri pangan yang menghasilkan limbah seperti ini adalah produk susu, pengalengan dan pengawetan buah-buahan dan sayuran, pengalengan dan pengawetan hasil laut, pemurnian gula, permen, produk daging, pengawetan dan pengalengan daging, serta penggilingan biji-bijian.
Masalah pencemaran karena buangan limbah yang tidak dikelola dengan baik seringkali tidak hanya disebabkan oleh industri besar, tetapi juga oleh industri kecil yang seringkali belum mempunyai fasilitas pengolah limbah.  Mengingat jumlah industri kecil yang sangat banyak dan lokasi yang menyebar, maka hal ini perlu mendapat perhatian.  Sementara untuk industri besar yang sudah dilengkapi fasilitas pengolah limbah dan adanya Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor : KEP 03/MENKLH/II/1991 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan yang Sudah Beroperasi, seharusnya dapat mengelola limbah yang dihasilkan dengan prosedur yang benar dan bertanggung jawab,  namun dalam pelaksanaannya masih sering terjadi pelanggaran.
Secara umum pengelolaan limbah dapat dilakukan dengan cara pengurangan sumber (source reduction),penggunaan kembali (reuse), pemanfaatan (recycling), pengolahan (treatment), dan pembuangan (disposal).  Untuk setiap industri pangan, alternatif pengelolaan limbah dapat disesuaikan dengan karakteristik limbah.  Pada makalah ini, pendekatan yang digunakan adalah cara pemanfaatan, karena dapat meli-batkan masyarakat sebagai mitra kerja dengan mengingat bahwa dalam upaya pengelolaan lingkungan perlu adanya kerjasama yang baik antara masyarakat, perguru-an tinggi, lembaga penelitian, dan juga pemerintah.
Menurut bentuknya limbah dibedakan menjadi tiga yaitu limbah padat, cair, dan gas.  Proses pengolahan limbah cair dilakukan melalui tiga kegiatan yaitu pengolahan secara fisik, kimiawi, dan biologis.  Proses pengolahan secara fisik adalah pemisahan berdasarkan ukuran partikel melalui tahapan flokulasi, sedimentasi, dan penyaringan.  Pengolahan secara kimiawi dilakukan dengan menambahkan zat kimia ke dalam limbah untuk menyederhanakan senyawa kimia yang berbahaya melalui tahapan pengendap-an, penyerapan, dan desinfeksi.  Proses pengolahan secara biologis dilakukan dengan cara memanfaatkan mikroorganisme sebagai agen pengurai limbah.  Mikroorganisme tersebut diperoleh dengan cara memanfaatkan kerja lumpur aktif (activated sludge).http://smk3ae.wordpress.com/
Sisa buffing dan shaving cukup banyak dan akan mengganggu dan mencemari lingkungan apabila tidak diolah ataupun dimanfaatkan. Dibeberapa industri penyamakan kulit sisa buffing dan shaving kulit hanya ditaruh dalam karung-karung plastik dan kemudian dibuang ke TPA ataupun dibiarkan di suatu lahan, dimana lama kelamaan akan menjadi kompos karena bercampur dengan tanah. Namun perlu dipikirkan bahwa sisa buffing dan shaving ada yang masih mengandung krom sehingga apabila hanya dibuang ke suatu lahan, maka akan mencemari tanah dan juga sumber air, disamping itu juga mengganggu estetika.(http://ppsdms.org/papan-partikel-dari-limbah-industri-penyamakan-kulit-dan-limbah-kulit-kayu.htm)

III.            ALAT DAN BAHAN

1.      Proses Pembuatan Kertas

Alat yang digunakan

Ø  Ayakan
Ø  Kaca arloji
Ø  Gunting
Ø  Gelas beker 500 ml
Ø  Labu ukur 500 ml
Ø  Gelas ukur 100 ml
Ø  Sudip
Ø  Mixer
Ø  Saringan
Ø  Kain basah
Ø  Spon

Bahan yang digunakan

Ø  Limbah buffing
Ø  Jerami
Ø  NaOH
Ø  Tapioka
Ø  Gondorukem
Ø  Tawas

Ø  Akuades

2.      Proses Pembuatan Batako

Alat yang digunakan
Ø  Ayakan
Ø  Kaca arloji
Ø  Sendok
Ø  Botol aqua 1500 ml (untuk cetakan)
Ø  Timbangan mekanik

Bahan yang digunakan
Ø  Semen
Ø  Pasir
Ø  Limbah shaving
Ø  Air


3.      Proses Anaisis Krom

Alat yang digunakan

Ø  Wadah dari plastik
Ø  Saringan
Ø  Gelas ukur
Ø  Gelas ukur 100 ml
Ø  Pipet volume 10 ml, 50 ml
Ø  Propipet
Ø  Labu ukur 50 ml
Ø  Cuvet
Ø  Spektrofotometer

Bahan yang digunakan
Ø  Batako
Ø  Aquades
Ø   Diphenil karbazid
Ø  Larutan HNO3 1%



IV.            CARA KERJA
1.      Pembuatan kertas
a.       Limbah buffing kulit tersamak diayak
b.      Bahan-bahan utama yang akan digunakan ditimbang
c.       Bahan -bahan pembantu seperti tapioka, kapur, gondorukem dan tawas  ditimbang
d.      Jerami dipotong kecil-kecil, lalu ditimbang sebanyak 25 gram dan dimasukkan kedalam gelas beker 500 ml
e.       Dimasukkan sedikit demi sedikit NaOH sebanyak 500 ml kedalam gelas beker yang berisi jerami
f.       Diaduk-aduk dengan menggunakan sudip hingga homogen lalu dilanjutnya pengadukan dengan menggunakan mixer selama 1 jam (sampai larutan tercampur sempurna)
g.      Kemudian ditambahkan limbah buffingnya
h.      Setelah waktu tercapai, lalu ditambahkan bahan pembantu seperti tapioka, kapur, gondorukem dan tawas kedalam campuran tadi sambil dimixer.
i.        Larutan dituangkan ke atas kain basah yang dibawahnya telah dilapisi dengan spon
j.        Sambil dituang gabus digoyang-goyangkan agar larutan tersebar merata dipermukaan kain
k.      Kemudian kain dikeringkan/diangin-anginkan selama ± 1 minggu
l.        Hasil kertas diamati
2.      Pembuatan batako
a.       Ditimbang bahan-bahan yang akan digunakan sesuai formulasi (yang digunakan yaitu formulasi kelompok 2) namun untuk pasir dilakukan pengayakan terlebih dahulu  untuk mendapatkan pasir yang halus dan homogen
b.      Semua bahan dicampurkan dengan penambahan air secukupnya
c.       Campuran diaduk hingga homogen
d.      Setelah homogen lalu campuran tadi dicetak kedalam cetakan yang disediakan
e.       Batako dikeringkan selama kurang lebih satu minggu untuk dilakukan pengujian krom
f.       Lalu batako ditimbang sampai berat konstan
3.      Analisa Krom
a.       Setelah satu minggu batako direndam didalam aquades secukupnya hingga terendam (volume aquades dicata) dan dibiarkan lagi selama satu minngu
b.      Setelah satu minggu batako diangkat lalu air sisa perendama batako disaring dan diukur volumenya
c.       Dipipet 50 ml air saringan tadi lalu dimasukkan kedalam labu ukur 50 ml
d.      Ditambahkan 1 ml dphenil karbazid dan 3 tetes larutan HNO3 10%
e.       Larutan digojog hingga homogen
f.       Lalu dipipet 10 ml dan dimasukkan ke dalam cuvet
g.      Larutan tadi dianalisa dengan spektrofotometer
h.      Dicatat data yang dihasilkan

V.            DATA PRAKTIKUM
Hari/ tanggal                     : Rabu, 28 April 2010
Data pengamatan :
1.      Pembuatan Batako
Table 1. formulasi 1 pembuatan batako dari limbah penyamakan kulit
Kel
Batako
Pasir
Semen
Limbah shaving
Berat konstan
Abs  rerata
1
A
115 gr
50 gr
35 gr
239,011 gr
0,2995
B
50 gr
25 gr
25 gr
146,133 gr
0,1132
2
A
120 gr
50 gr
30 gr
234,265 gr
0,247
B
52,2 gr
22,5 gr
25 gr
106,339 gr
0,101
3
A
125 gr
50 gr
25 gr
210,606 gr
0,199
B
55 gr
20 gr
25 gr
132,158 gr
0,132
4
A
130 gr
50 gr
20 gr
257,440 gr
0,29
B
57,5 gr
17,5 gr
25 gr
102,469 gr
0,279
5
A
135 gr
50 gr
17,5 gr
241,167 gr
0,257
B
60 gr
15 gr
25 gr
108,283 gr
0,075
6
A
140 gr
50 gr
15 gr
220,836 gr
0,0435
B
62,5 gr
12,5 gr
25 gr
144,985 gr
0,037
7
A
145 gr
50 gr
10 gr
210,607 gr
0,199
B
65 gr
10 gr
25 gr
132,165 gr
0,132
2.      Pembuat Kertas
Table 2. formulasi I pembuatan kertas dari limbah penyamakan kulit
Kelompok
Berat (gr)
Berat @1%
Buffing
Jerami
Tapioka
Kapur
Gondorukem
Tawas
1
25
10
0,35
0,35
0,35
0,35
2
22,5
12,5
0,35
0,35
0,35
0,35
3
20
15
0,35
0,35
0,35
0,35
4
17,5
17,5
0,35
0,35
0,35
0,35
5
15
20
0,35
0,35
0,35
0,35
6
12,5
22,5
0,35
0,35
0,35
0,35
7
10
25
0,35
0,35
0,35
0,35

Pembuatan Kertas
Hasil praktikum tidak sesuai dengan yang diharapkan, karena kertas tidak berbentuk dan masih pecah-pecah sehingga sulit dipisahkan dari kain cetakannya.

3.      Analisis Kadar Krom
Volume sampel                                    = 50 ml sampel dari air sisa rendaman
Volume HNO3 10%                 = 3 tetes
Volume Diphenil karbazid       = 1 ml
Analisis kadar khrom dengan Spektrofothometer
Table 3. hasil spektro analisis kadar krom
Sampel
λ = 550
Rerata
A
0,247
B
0,101
                                                            




Table 4. absorbansi deret standar
No
Deret Larutan Standar
λ = 550
Abs 1
Abs 2
Abs 3
Rerata
1.
0,1
0,054
0,056
0,053
0,0543
2.
0,2
0,121
0,122
0,120
0,121
3.
0,3
0,213
0,212
0,209
0,2113
4.
0,4
0,262
0,253
0,253
0,256
5.
0,5
0,307
0,309
0,312
0,3093

Gambar 1. Hubungan Antara Deret Standar dengan Absorbansi Rata – rata
dengan Panjang Gelombang 550



VI.            PERHITUNGAN
Persamaan linier y = 0,645x - 0,0031
Untuk menentukan kadar krom maka absorbansi hasil pemeriksaan dengan spektro dimasukkan sebagai variable x.

Sampel
λ = 550
Rerata
A
0,247
B
0,101


Sampel A
Absorbansi = 0,247
Maka
Kadar krom           = 0,645x - 0,0031
                              = 0,645. 0,247– 0,0031
                              = 0,156215

Sampel B
Absorbansi = 0,101
Maka
Kadar krom           = 0,645x - 0,0031
                              = 0,645. 0,101– 0,0031
                              = 0,062045
iklan banner
iklan banner