PEMBUATAN RAYON (REGENERASI
SELULOSA)
I.
TUJUAN PRAKTIKUM
Mengetahui polimerisasi kondensasi
pada pembuatan serat sintetik.
II.
DASAR TEORI
Polimer ialah
molekul raksasa (makromolekul) yang terbentuk dari satuan – satuan sederhana
monomernya (A. J. Hartomo, dkk, 1992). Istilah makromolekul lebih
menggarisbawahi struktur – struktur yang kompleks. Berkembang dari pangkal
polimer alam, kini telah dikembangkan pula berbagai polimer sintetik yang
rumit. Beberapa sistem polimer yang penting secara industri adalah karet,
plastik, serat, pelapis (coating) sampai perekat (adhesive).
Rayon merupakan
salah satu polimer serat yang dibentuk dari regenrasi selulosa. Selulosa
merupakan polisakarida yang termasuk polimer alam yang paling banyak terdapat
dan tersebar di muka bumi. Jutaan ton selulosa digunakan setiap tahun untuk
membuat perabot kayu, tekstil, dan kertas. Sumber utama selulosa adalah kayu.
Umumnya kayu mengandung 50% selulosa, bersama dengan penyusun lainnya, seperti
lignin. Pemisahan selulosa dari kayu melibatkan pencernaan kayu dengan larutan
belerang dioksida dan hydrogen sulfit (bisulfit) dalam air pada proses sulfit,
atau larutan natrium hidroksida dan natrium sulfida dalam air pada proses
sulfat (proses kraft). Pada kedua proses ini lignin dilarutkan sehingga
diperoleh selulosa. Sumber lain dari selulosa adalah kapas yang hamper
seluruhnya adalah selulosa. Ekstraksi pada kapas dilakukan dengan
mereaksikannya dengan larutan natrium hidroksida dibawah tekanan, yang kemudian
dilanjutkan dengan pengelantangan dengan gas klor atau hipoklorit. Rumus
molekul selulosa adalah (C6H10O5)n, dan n dapat berupa angka ribuan.
Sangat sukar untuk
mengukur massa molekul nisbi selulosa, hal ini disebabkan karena :
1.
Tidak banyak pelarut selulosa.
2.
Selulosa sangat cenderung terombak
selama proses.
3.
Cukup rumit menggunkan selulosa
dari sumber yang berbeda.
Cara yang sering
dipilih untuk mencari massa molekul nisbi dari selulosa adalah menitratkan
selulosa dengan cara tak merusak, dan massa molekul nisbi selulosa didapat dari
nitratnya. Dengan cara itu diperoleh massa molekul nisbi selulosa kapas sekitar
satu juta.
Ditinjau dari
strukturnya, seharusnya selulosa mempunyai kelarutan yang besar dalam air,
karena banyaknya kandungan gugus hidroksil yang dapat membentuk ikatan hydrogen
dengan air. Akan tetapi kenyataanya tidak demikian, dan selulosa tidak hanya
tak larut dalam pelarut air tetapi juga dalam pelarut lain. Penyebabnya ialah
kekakuan rantai dan tingginya gaya antar-rantai akibat ikatan hydrogen antar
gugus hidroksil pada rantai yang berdekatan. Factor ini dipandang menjadi
penyebab kekristalan yang tinggi dari serta selulosa. Jika ikatan hydrogen
berkurang, gaya antaraksi pun berkurang, dan oleh karena itu gugus hidroksil
selulosa harus diganti sebagian atau seluruhnya oleh pengesteran. Hal ini dapat
dilekukan, dan ester yang dihasilkan larut dalam beberapa pelarut. Selulosa
juga larut dalam larutan tembaga (II) hidroksida beramonia. Pembentukan
kompleks yang melibatkan gugus hidroksil selulosa, ion Cu2+, dan
amonia menjelaskan gejala larutnya selulosa dalam larutan tembaga (II)
hidroksida beramonia.
Selulosa yang
secara langsung dapat dijadikan serat sangatlah terbatas. Yang lebih lazim
dilakukan ialah memproses larutan turunan selulosa dan kemudian membuat polimer
itu menjadi bentuk yang dikehendaki (misalnya serat atau lapisan tipis) setelah
selulosa dikembalikan lagi. Selulosa yang diperoleh dengan cara ini disebut
selulosa teregenerasi. Serat yang dibuat dari selulosa disebut rayon, dan
pembuatanya dengan menggunakan cara diatas.
Proses awal untuk
menghasilkan serat selulosa teregenerasi dapat dilakukan dengan melibatkan
reaksi selulosa dengan laruten tembaga (II) hidroksida beramonia. Larutan yang
dihasilkan kemudian ditekan melalui kepala pemintal ke dalam larutan asam untuk
meregenerasi selulosa dalam bentuk benang yang panjang. Cara regenerasi
selulosa adalah melarutkan selulosa dalam larutan natrium hidroksida dan karbon
disulfide. Larutan yang yang dihasilkan, disebut viskosa, disemprotkan melalui
kepala pemintal ke dalam larutan asam, dan selulosa teregenerasi sebagai serat
yang dapat diproses lebih lanjut. Hasil proses ini disebut rayon viskosa, yang
kini menjadi serat utama tekstil. Kemunginan lain adalah jimka larutan viskosa
ditekan melalui celah tipis ke dalam larutan asam, lalu selulosa teregenerasi
sebagai lapisan tipis, dan jika diproses lebih lanjut dapat digunakan sebagai
selofan. Reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut :
III.
ALAT
a.
1 buah gelas arloji
b.
1 buah pengaduk
c.
2 buah beker gelas 250 ml
d.
1 buah gelas ukur 25 ml
e.
1 buah pipet tetes
f.
1 buah pipet gondok 25 ml dan 50
ml
g.
1 buah Erlenmeyer 250 ml
h.
1 buah corong dan pinset
IV.
BAHAN
a.
CuSO4.5H2O
b.
Amonia, NH3 pekat
c.
Larutan H2SO4
5%
d.
Kertas saring
e.
Aquades
V.
CARA KERJA
a.
Ditimbang CuSO4.5H2O
seberat 5 gram, kemudian dilarutkan dalam 25 ml aquades.
b.
Larutan tersebut kemudian diaduk
hingga larut sempurna.
c.
Larutan ditetesi dengan NH3
pekat 1 sampai 2 tetes, kemudian digoyang-goyangkan agar endapan memisah.
d.
Endapan disaring menggunakan kertas
saring Whatman no 42.
e.
Endapan dicuci dengan 5 ml
aquades dingin.
f.
Endapan dipindahkan dalam beker
gelas lain, dan filtrat dapat dibuang.
g.
Ditambahkan 25 ml NH3
pekat, kemudian diaduk untuk melarutkan endapan.
h.
Kertas saring disobek – sobek
hingga kecil, kemudian dimasukan kedalam larutan cupri ammoniak yang berwarna
biru tua.
i.
Larutan diaduk hingga kertas
saring larut.
j.
Dimasukan 50 ml larutan asam
sulfat 5% kedalam beker gelas lain.
k.
Larutan cupri amoniak diteteskan
kedalam larutan asam sulfat 5% kemudian warna biru gelap akan berubah menjadi
putih.
l.
Diambil benang rayon yang
terbentuk dalam larutan asam sulfat.