LAPORAN RESMI
PENGOLAHAN LIMBAH CHROM
I.
PENDAHULUAN
A. TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum pengolahan limbah krom
adalah:
1. Menganalisis
limbah chrom dalam limbah penyamakan chrom.
2. Mengurangi
kadar chrom dalam limbah penyamakan kulit.
3. Menghitung
volume lumpur yang terjadi.
B. MANFAAT
Setelah melakukan praktikum ini, diharapkan
mahasiswa mampu:
1. Dapat
menganalisis limbah chrom dalam limbah penyamakan chrom.
2. Dapat
mengurangi kadar chrom dalam limbah penyamakan kulit.
3. Dapat
menghitung volume lumpur yang terjadi.
II.
DASAR TEORI
Dalam
industri penyamakan kulit digunakan berbagai macam bahan penyamak, yaitu bahan
penyamak nabati, formaldehid, mineral, minyak, dll. Salah satu cotoh dari bahan
penyamak mineral adalah bahan penyamak chrom. Kulit yang dihasilkan dari penyamakan chrom ini misalnya
kulit boks, kulit jaket, kulit glase, kulit suede, dll.
Zat penyamak chrom merupakan zat penyamak yang paling
penting diantara zat penyamak mineral lain
seperti bahan penyamak aluminium, titanium, dan zirkonium. Hal ini dikarenakan adanya sifat-sifat yang
khusus yang dimiliki oleh larutan
penyamak chrom yang berhubungan dengan
struktur molekul atom chrom itu sendiri. Ada dua valensi atom chrom yang
dikenal dalam penyamakan, yaitu atom chrom yang bervalensi 6+ dan
yang bervalensi 3+ atau biasa disebut trivalen. Chrom dengan valensi
6+ tidak punya kemampuan untuk bereaksi atau menyamak kulit sebelum direduksi menjadi
chrom valensi 3+.
Valensi penyamak chrom yang digunakan adalah garam yang
mengandung atom-atom krom yang
bervalensi 3+. Garam krom yang trivalen ini dapat membentuk ikatan dengan asam-asam amino cabang dan strutur protein kolagen yang reaktif. Bila dibandingkan
dengan krom valensi 6+ dengan chrom yang bervalensi 3+
maka atom ini bersifat lebih stabil, yang juga mudah terdispersi di dalam air. Garam
ini juga mempunyai afinitas yang kompleks
yang kuat dengan substansi kulit mentah.
Zat penyamak krom yang lebih banyak digunakan adalah kromium
sulfat basa. Chrom yang terkandung dalam garam ini di batasi sebgai kromium
oksida (Cr2O3) yang banyak dipasar dengan kadarnya 25%.
Kromium sulfat tidak ada dalam bentuk cairan
yang berhubungan dengan formula Cr2(SO4)3
di dalamnya mengandung molekul air dalam ikatan kimia dan telah disesuaikan
basisitasnya untuk penyamakan.
Skema dasar proses penyamakan chrom yang konvensional
melibatkan proses pikel, penyamakan yang benar, dan basifikasi. Jumlah buangan
penyamakan chrom termasuk air pencucian dan air untuk sammying berfluktuasi
pada kisaran 3 sampai 5 m3 per ton kulit mentah. Polutan yang utama
berupa chrom, chlorida, sulfat. Beban polusi standar dari efluent tersebut
berturut-turut sebagai berikut: padatan tersuspensi 5-10, COD 7-11, BOD 2-4, Cr
2-5, NH3-N 0,6-0,9, TKN 0,6-0,9, Cl 40-60, SO4 2-
30-35 (ludvik, 1997).
Limbah dari proses penyamakan chrom diketahui bersifat
sangat asam, dengan nilai pH antara 2,6-3,2 dan berwarna kehijauan. Limbah ini
mengandung chrom valensi 3 dengan konsentrasi yang tinggi, yaitu 100 sampai 200
mg/l, jika dibandingkan dengan baku mutu yang ditetapkan untuk buangan limbah
limbah industri kulit di indonesia yang hanya membolehkan kandungan chrom
sebesar 0,6 mg/l. Beberapa metode untuk mengambil chromium dari limbah
penyamakan kulit antara lain:
·
Pengendapan
dengan bahan kimia
·
Penukar
ion
·
Membrane
filtrasi
·
Ekstraksi
·
Reverse
osmosis
·
Adsorpsi
Dari beberapa cara diatas, pengendapan dengan bahan kimia
adalah cara yang paling populer. Beberapa larutan alkali (basa) bisa digunakan
sebagai bahan pengendap chrom antara lain: MgO, NaOH, Ca(OH)2, NH3,
NaHCO3, Na2CO3. Berikut beberapa reaksi limbah
penyamakan dengan 50% basisitas:
Cr(SO4)6(OH)12
+ 6 H2O + 6 Ca(OH)2 → 8 Cr(OH)3 + 6 CaSO4
Basisitas
= 50%
+ 12 NaOH → 8 Cr(OH)3 + 6 Na2SO4
+ 12 NH4OH → 8 Cr(OH)3 + 6 (NH4)2SO4
+ 12 NaHCO3 → 8 Cr(OH)3 + 6 Na2SO4
+ 12 CO2
+ 12 Na2CO3 → 8 Cr(OH)3
+ 6 Na2SO4 + 6 CO2
Penentuan kadar chrom dalam sampel limbah penyamakan
chrom dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan metode titrasi iodometri dan
dengan metode spektrofotometri. Prinsip kerja dari analisis kadar chrom dengan
metode titrasi iodometri adalah dengan mengoksidasikan garam chrom dalam
larutan limbah dengan peroksida dan kelebihan peroksida dihilangkan dengan
pendidihan. Selanjutnya larutan diasamkan dan ditambah KI sehingga dibebaskan
iodida yang ekivalen dengan oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi chrom.
Iodium yang dibebaskan selanjutnya dianalisis dengan cara iodometri, yaitu
dengan titrasi menggunakan larutan tiosulfat dengan indikator amilum. Sedangkan
prinsip kerja analisis kadar chrom dengan metode spektrofotometri adalah dengan mengoksidasi chrom valensi 3 menjadi
valensi 6. Selanjutnya ditambahkan larutan diphenil karbazida dalam suasana
asam sehingga terjadi warna ungu yang bisa diukur panjang gelombangnya.
Konsentrasi chrom diketahui dengan cara membandingkan dengan konsentrasi
larutan standar yang telah dibuat.
III. ALAT
DAN BAHAN
1. Alat-alat
yang digunakan:
a. Flokulator
1 buah
b. Spectrophotometer
Hach DR/2400 1 buah
c. Turbidimeter
1 buah
d. pH
meter 1 buah
e. Cuvet
spectrophotometer 6 buah
f. Cuvet
turbudimeter 6 buah
g. Gelas
beker 500 ml 6 buah
h. Gelas
ukur 6 buah
i.
Labu ukur 50 ml 6 buah
j.
Pipet gondok 10 ml 6
buah
k. Pipet
volume 1 ml 2 buah
l.
Pipet volume 50 ml
m. Pipet
tetes 2 buah
n. Penggaris
1 buah
2. Bahan-bahan
yang digunakan:
a. Sampel
limbah chrom
b. Latutan
MgO
c. Larutan
NaOH
d. Larutan
kalium dikromat
e. Larutan
diphenil karbazida
f. Larutan
asam nitrat 10%
g. Larutan
flokulan
IV. LANGKAH
KERJA
1. Ukur
pH, kekeruhan, serta kadar chrom dalam sampel limbah chrom awal.
2. Masukkan
250 ml sampel limbah chrom kedalam gelas beker 500 ml sebanyak 6 buah.
3. Tambahkan
kedalam masing-masing gelas beker dengan koagulan larutan NaOH dengan volume 5
ml, 10 ml, 15 ml, 20 ml, 25 ml, dan 30 ml.
4. Lakukan
pengadukan cepat selama 1 menit dengan menggunakan flokulator.
5.
Ukur pH.
6. Lakukan
pengadukan lambat selama 30 menit dengan menggunakan flokulator.
7. Pindahkan
larutan dalam 6 buah gelas beker tersebut kedalam gelas ukur.
8. Biarkan
mengendap selama 30 menit.
9. Lakukan
pengamatan pH, kekeruhan, kadar chrom, dan ketinggian endapan.
a. Analisis
pH dilakukan dengan menggunakan pH meter.
b. Analisis
kekeruhan dilakukan dengan langkah:
Ø Pipet
10 ml beningan yang terjadi dari masing-masing sampel limbah dan masukkan
kedalam cuvet.
Ø Lakukan
uji kekeruhan dengan menggunakan turbidimeter.
Ø Apabila
tidak terbaca oleh turbidimeter, maka sampel perlu diencerkan lagi.
c. Analisis
kadar chrom dilakukan dengan metode spektrofotometri dengan langkah:
Ø Pembuatan
deret standar
ü Buat
deret standar 0,1 ppm, 0,2 ppm, 0,3 ppm, 0,4 ppm, dan 0,5 ppm sebanyak 50 ml
dengan cara mengencerkan larutan induk.
ü Tambahkan
masing-masing standar dengan 3 tetes HNO3
% dan 1 ml larutan diphenil karbazid.
ü Homogenkan.
ü Tuang
dalam cuvet sampei tanda.
Ø Pembuatan
blangko
ü Pipet
aquades dengan pipet takar 50 ml.
ü Masukkan
dalam labu takar 50 ml.
ü Tambahkan
3 tetes HNO3 10% dan 1 ml diphenil
karbazid.
ü Homogenkan.
ü Tuang
dalam cuvet sampai tanda.
Ø Preparasi
sampel
ü Ambil 1 ml sampel limbah penyamakan chrom lalu encerkan dengan aquades
sampai 1000 ml.
ü Ambil
sampel yang sudah diencerkan 1 ml, masukkan dalam labu takar 50 ml, tambahkan 3 tetes HNO3 10% dan 1 ml diphenil
karbazid.
ü Homogenkan.
ü Tuang
dalam cuvet sampai tanda.
ü Analisis
dengan spektrofotometer.
ü Hitung
kadar Cr dalam sampel limbah penyamakan Chrom.
Ø Pengukuran
panjang gelombang
ü Ambil
salah satu deret standar.
ü Tambahkan
3 tetes HNO3 10% dan 1 ml diphenil
karbazid.
ü Homogenkan.
ü Tuang
dalam cuvet sampai tanda.
ü Nyalakan
spectrophotometer Hach DR/2400.
ü Tekan
single wavelength, masukkan blangko.
ü Tekan
λ
ü Pilih
λ yang akan diisi dengan menekan tombol angka (missal 490).
ü Tekan
zero, muncul 0,0000 keluarkan blangko.
ü Masukkan
standar.
ü Tekan
read, baca hasilnya, ulangi sampai didapat λ max.
d. Analisis
ketinggian endapan dilakukan dengan mengukur ketinggian endapan dengan
penggaris pada waktu sedimentasi selama 5, 10, 15, dan 30 menit.
10. Setelah
diamati dan diketahui pH, kekeruhan, kadar chrom, dan ketinggian endapannya, masukkan
kembali masing-masing sampel limbah kedalam gelas beker 500 ml.
11. Tambahkan
kedalam masing-masing gelas beker 10 tetes flokulan.
12. Lakukan
pengadukan pada kecepatan maksimal selama 1 menit, lalu turunkan pada kecepatan
lambat selama 30 menit.
13. Setelah
waktu pengadukan tercapai, sampel limbah dipindahkan kedalam gelas ukur 250 ml
dan didiamkan selama 30 menit.
14. Setelah
30 menit, lakukan analisis pH, kekeruhan, kadar chrom, dan ketinggian endapan
dengan cara seperti diatas.
15. Ulangi
langkah 1-14 dengan menggunakan larutan koagulan MgO.