Laporan Praktikum Kimia Analisis, Kimia Organik, Analisis Bahan Kulit, Analisis Karet

Saturday, 12 May 2012

ANALISA UJI KADAR NATRIUM SULFIDA (Na2S) ANALISIS BAHAN KULIT


ANALISA UJI KADAR NATRIUM SULFIDA (Na2S)

            I.      TUJUAN PRAKTIKUM
Setelah melaksanakan praktikum diharapkan mahasiswa mampu :
1.      Untuk mengetahui cara menguji kandungan natrium sulfide
2.      Menggunakan alat – alat yang digunakan dengan baik dan benar

         II.      DASAR TEORI
Garam natrium sulfide yang dihasilkan biasanya tidak murni sebagai Na2S, tetapi tercampur dengan Na2S2O3 dan Na2SO3 yang juga merupakan reduktor. Natrium sulfide adalah senyawa yang biasanya digunakan dalam penyamakan kulit pada proses liming sebagai perontok bulu. Hal ini dapat terjadi, karena senyawa sulfide dapat memutuskan jembatan sulfide dari bulu/ keratin yang akhirnya lepas dari kulit.
Natrium sulfide dapat dibuat dengan konvensional yaitu dengan mereaksikan garam Na2SO4 dan serbuk arang yang dipanaskan pada suhu 9000C - 10000C. dalam perdagangan kadang-kadang Na2S bercampur dengan natrium hidrosulfit, sehingga perlu pengujian untuk mengetahui kadar Na2S murni maupun reduktor lain selain Na2S. kadar natrium sulfide yang baik apabila mempunyai kadar Na2S sebanyak 70%. Prinsip pengujian kadar Na2S ditambah dengan larutan iodide 0,1 N berlebihan kemudian kelebihan iod dititrasi kembali menggunakan larutan standar natrium thiosulfat.
Cara uji jumlah reduktor dilakukan dengan cara sebagai berikut; larutan Na2S ditambah larutan yod 0,1 N yang berlebihan. Kemudian kelebihan iod dititar kembali dengan larutan natrium thiosulfat 0,1N. sedangkan cara uji reduktor selain Na2S, larutan sulfide ditambah seng karbonat supaya sulfidanya mengendap, disaring dan ditambahkan yod o,1 N berlebihan, kelebihan yod kembali dititrasi dengan larutan thiosulfat 0,1N. dibuat juga titrasi blanko, selisih dari jumlah reduktor dan reduktor selain Na2s adalah kadar Na2S, kualitas Na2S dikatakan baik apabila mempunyai kadar Na2S 70% keatas. Na2S dikatakan mempunyai kualitas cukup apabila mempunyai kadar Na2S antara 50%-69%. Sedangkan Na2S dengan Kualitas kurang baik apabila mempunyai kadar kurang dari 50%. 
Fungsi Natrium Sulfida dalam Proses Penyamakan Kulit
Menurut Mann (1960), bahwa tujuan proses pengapuran adalah untuk menghancurkan epidermis di mana rambut dan wol juga dihilangkan, menghilangkan kelenjar keringat dan pembuluh darah yang terdapat pada substansi kulit, serta membuka tenunan serat sehingga memudahkan penetrasi bahan penyamak dan untuk membengkakan kulit.
Thorstensen (1976), mengatakan bahwa proses pengapuran yang biasa dikerjakan dalam larutan dengan menggunakan pH antara 12,0 – 13,0. Kebengkakan mula-mula terjadi pada grain dan  flesh, sedangkan pada corium tergantung lama perendaman dalam kapur. Kebengkakan pada proses pengapuran akan mengakibatkan diameter serat menjadi lebih besar, sedangkan panjang serat tetap.
Bienkiewiez (1983), mengatakan bahwa pada prinsipnya proses pengapuran terjadi karena aksi gugus hidroksi (OH-). Reaksi antara metil hidroksida dan gugus fungsional pada protein kulit dapat digambarkan sebagai berikut :

Proses penghilangan bulu dapat terjadi karena aksi gugus hidroksil yang memutus ikatan antar sistein (- S – S -) yang terdapat pada protein keratin.
Reaksi :
CH-CH2-S-S-CH2-CH                     CH- CH2-SOH + S- CH2-OH
                           OH-
Salah satu hasil dari reaksi tersebut terbentuk H2­­S yang juga dapat memutuskan ikatan antar sistein (S – S).
Derajat kebengkakan pada kolagen dalam media asam maupun basa sama baiknya, tergantung pada nilai pH. Maksud ketergantungan tersebut terletak pada derajat disosiasi / penyebaran muatan komponen yang digunakan. Pengaruh pH pada protein kulit kemungkinan dapat mengakibatkan keadaan kulit tidak bengkak, kebengkakan seimbang (normal) dan kebengkakan tidak seimbang.
Sharphouse (1975), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi hasil dalam proses pengapuran antara lain :
Kadar larutan atau prosentase jumlah kemikalia di antaranya penggunaan Na2S atau sulfida lainnya, walaupun pembuangan bulunya cepat tapi pengaruh terhadap kulit kurang baik karena Na2S dalam air akan membentuk NaOH dan NaSH dengan Ca(OH)2 akan terbentuk NaOH dan Ca(OH)2 basa kuat yang terbentuk akan menambah alkalitas larutan dan langsung menambah kebengkakan kulit sehingga kulit jadinya loose.
Pelepasan atau pembuangan bulu berhubungan dengan penguraian keratin. Keratin adalah substansi yang sangat kuat terhadap zat kimia, karena rantai peptidanya sangat kuat. Ikatan kimia jaringan peptida tersebut adalah jembatan disulfida. Jembatan hidrogen dalam collagen jauh lebih lemah dibandingkan dengan jembatan ikatan disulfida. Dalam collagen juga terdapat ikatan cystin yang merupakan zat asam amino. Jika asam amino berdiri sendiri berarti ikatanya sangat kuat. Mengahancurkan keratin secara kimia dapat terjadi dengan persyaratan sulfida atau sulfhidrat sangat mudah terikat pada keratin. Pengikatan tersebut hanya terjadi pada kebasaan yang tinggi. Berarti ikatan sulfida pada keratin pada wilayah asam atau netral tidak mungkin. Kolagen sama sekali tidak dipengaruhi oleh sulfid, tetapi terdapat suatu kesamaan pada keratin dan collagen, kedua-duanya dapat mengikat alkali.
Proses pemecahan cystin secara kimiawi belum diketahui secara pasti. Digambarkan kira-kira terjadi seperti cystin ditambah Natrium Sulfida sebagai berikut:
NH2                                                NH2


CH2        S        S           CH2          CH              Cystein                                      


COOH                                           COOH

         [ -------- S -------- S -------- ] + 2 Na2S ------------------------------->
                             Cystein                            reaksi reduksi

         [ -------- S -------- Na + Na ------- S -------- ] + Na2S2
                     Cystein                        Reaksi oksidasi
Pada satu sisi terjadi reduksi disisi lain terjadi oksidasi.
Na2S mereduksi jembatan sulfid hingga menjadi ikatan sulfid poly (poly sulfid), yang berarti merupakan peningkatan oksidasi. Bisa juga terjadi Na2S8 dimana ikatan baru yang terjadi disebut Cystein. Proses kimia ini merupakan proses yang mungkin terjadi, tapi apakah persis seperti itu belum diketahui. Pada pengamatan dengan kenaikan jembatan cystein ini karena keratin membengkak. Secara sistematis juga terjadi pemecahan Hydrolisis karena pembengkakan keratin. Dimaksudkan dengan pemecahan hydrolisis tersebut adalah pemecahan rantai sulfida pada keratin. Maka dapat dibayangkan selalu terdapat penghancuran bulu dan rambut jika digunakan bahan kimia yang reduktif. Bagaimanapun juga walaupun dilakukan proses untuk tidak menghancurkan rambut, jika dipakai bahan penghancur epidermis, berarti akan berpengaruh menghancurkan. Proses penghancuran rambut dapat dikendalikan dengan pengaturan suhu, waktu dan pH, jumlah zat yang digunakan, perbandingan air dan kulit, serta pembebanan mekanis dalam drum, bobot bulu dan kulit, sehingga kemungkinanya sangat luas, apakah ingin diperhatikan bulunya atau dihancurkan.
Kapur Ca(OH)2 diperlukan untuk menaikkan nilai pH 12,6 – 13,00 sedangkan Na2S untuk membengkakkan kulit. Dengan penambahan Na2S, maka terjadi penghancuran keratin. Suhunya sebaiknya antara 25o C – 30o C.
Selain proses reduktif ada proses oksidatif dengan Na2O2 (Natirum peroksida) atau dengan anhidrid peroksida (H2O2) + 2 CH3COO, yang bukan merupakan asam. Suatu substansi yang sangat oksidatif adalah NaOCl2 (Chlorid). Ini cukup berbahaya karena harus dalam larutan alkali disamping biayanya sangat tinggi. Hydrogen peroksida memiliki batas ledakan sangat rendah, berarti jika ditambah air atau H2O2 lagi bisa terjadi ledakan. Tetapi memberikan keuntungan peltnya sangat lembut dan putih bersih. Karena sifatnya sangat keras, pigmen dalam rambut akan menjadi putih. Jika hanya ditambah kapur saja dapat terjadi imunisasi.

     III.      PROSEDUR KERJA
A.   Alat dan Bahan yang Digunakan
1.      Alat-alat yang digunkan:
No 
Nama alat
Jumlah
1
Beaker glass 250 ml
2
2
Pipet volume 25 ml
2
3
Gelas ukur 100 ml
2
4
Pipet tetes
2
5
Pro pipet
2
6
Corong
1
7
Klem
1
8
Statif
1
9
Erlenmeyer
4
10
Pipet gondok 50 ml
2
11
Buret
1
12
Kertas saring
2
13
Botol semprot
1

2.      Bahan-bahan yang digunakan
Ø  Larutan yodium 0,1 N
Ø  Indikator amilum
Ø  Larutan seng sulfat
Ø  Larutan asam asetat 6%
Ø  Larutan natrium thio sulfat 0,1N
Ø  Larutan natrium karbonat 10%
Ø  Alkohol
Ø  Aquades

B.   Langkah Kerja
1.      Uji Jumlah Reduktor Total
a.       Mencucu alat yang digunakan dengan baik dan benar
b.      Keringkan alat yang telah dicuci
c.       Masukkan 200 ml air suling kedalam erlenmeyer
d.      Pipet 50 ml larutan yodium, 25 ml larutan asam asetat 6% campurkan kedalam erlenmeyer tadi
e.       Tambahkan 20 ml larutan contoh Na2S
f.       Kocok hingga homogen.  Lalu ambil sampel sebanyak 20 ml
g.      Tambahkan larutan yodium sampai larutan berwarna kuning
h.      Titrasi dengan menggunakan larutan thiosulfat yang sudah distandarisasi
i.        Tambahkan indikator amilum apabila mau mencapai tituk equivalen
j.        Titrasi dihentikan jika mengalami perubahan warna dari biru kehitaman menjadi bening
k.      Catat data yang diperoleh

2.      Uji Reduktor Selain Na2S
a.       Mencuci alat yang digunakan dengan bersih dan keringkan
b.      Memipet larutan sampel Na2S sebanyak 100 ml masukkan kedalam beaker glass
c.       Menambahkan 10 ml alkohol, 40 ml air suling (y)
d.      Dalam beaker glass yang lain siapkan 20 ml larutan seng sulfat 20% dan 20 ml larutan natrium karbonat 10%. Aduk dan saring
e.       Endapan yang terbentuk dimasukkan kedalam larutan y
f.       Tambahkan aquadest sampai garis tanda 200 ml
g.      Aduk sampai rata. Lalu saring dan ambil filtratnya
h.      Filtrat diambil 20 ml tambahkan 10 ml asam asetat 6% tambahkan yodium sampai warnanya menjadi kuning
i.        Titrasi dengan larutan tiosulfat dan tambahkan larutan amilum ketika mencapai titik equivalen
j.        Titrasi kembali hingga mencapai perubahan warna dari biru kehitaman menjadi  bening
k.      Catat data yang diperoleh 

     IV.      HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
A.  Hasil Pengamatan
1.      Uji jumlah reduktor
Ø  Volume Na2S           :   50 ml
Ø  Volume air suling     : 200 ml
Ø  Volume Na2S2O3      :  1,8 ml
Ø  Volume sampel        :  20 ml
2.      Uji reduktor selain Na2S
Ø  Volume Na2S           : 100 ml
Ø  Volume Na2S2O3      :  2,2 ml
Ø  Volume sampel        :  20 ml
3.      Data blanko
Ø  Volume Na2S2O3      : 10,6 ml
4.      Data standarisasi
Ø  Na2S2O3                    : 0,1 N
Ø  Na2S                         : 10 gr

5.     Perhitungan
Berdasarkan data yang kami peroleh dari Sampel yang digunakan Na2S sebanyak  10 gram, maka:


A.    Total reduktor
Diketahui : Volume sampel                       : 20 ml
                   Volume Na2S2O3 blanko(b)   : 10,6 ml
                   Volume Na2S2O3 sampl(a)     : 1,8 ml
                   N Na2S2O3                             : 0,1 N
                  Volume Na2S                          : 50 ml
Ditanya     : Total reduktor dalam sampel ?
Jawab        :

B.     Reduktor selain Na2S
Diketahui  : Volume sampel                     : 20 ml
Volume Na2S2O3 blanko(b)   : 10,6 ml
Volume Na2S2O3 sampl(a)     : 2,2ml
 N Na2S2O3                            : 0,1 N
Ditanya   : Total reduktor dalam sampel ?
Jawab      :

C.     Kadar Na2S
Kadar Na2S = Kadar reduktor total – Kadar reduktor selain Na2S
= 17,16% - 16,38%
= 0,78%
iklan banner
iklan banner