ANALISA UJI KADAR NATRIUM SULFIDA (Na2S)
I.
TUJUAN PRAKTIKUM
Setelah melaksanakan praktikum
diharapkan mahasiswa mampu :
1. Untuk mengetahui cara menguji kandungan natrium sulfide
2. Menggunakan alat – alat yang
digunakan dengan baik dan benar
II.
DASAR TEORI
Garam natrium
sulfide yang dihasilkan biasanya tidak murni sebagai Na2S, tetapi
tercampur dengan Na2S2O3 dan Na2SO3
yang juga merupakan reduktor. Natrium sulfide adalah senyawa yang biasanya
digunakan dalam penyamakan kulit pada proses liming sebagai perontok bulu. Hal
ini dapat terjadi, karena senyawa sulfide dapat memutuskan jembatan sulfide
dari bulu/ keratin yang akhirnya lepas dari kulit.
Natrium
sulfide dapat dibuat dengan konvensional yaitu dengan mereaksikan garam Na2SO4
dan serbuk arang yang dipanaskan pada suhu 9000C - 10000C.
dalam perdagangan kadang-kadang Na2S bercampur dengan natrium
hidrosulfit, sehingga perlu pengujian untuk mengetahui kadar Na2S
murni maupun reduktor lain selain Na2S. kadar natrium sulfide yang
baik apabila mempunyai kadar Na2S sebanyak 70%. Prinsip pengujian
kadar Na2S ditambah dengan larutan iodide 0,1 N berlebihan kemudian
kelebihan iod dititrasi kembali menggunakan larutan standar natrium thiosulfat.
Cara
uji jumlah reduktor dilakukan dengan cara sebagai berikut; larutan Na2S
ditambah larutan yod 0,1 N yang berlebihan. Kemudian kelebihan iod dititar
kembali dengan larutan natrium thiosulfat 0,1N. sedangkan cara uji reduktor
selain Na2S, larutan sulfide ditambah seng karbonat supaya
sulfidanya mengendap, disaring dan ditambahkan yod o,1 N berlebihan, kelebihan
yod kembali dititrasi dengan larutan thiosulfat 0,1N. dibuat juga titrasi
blanko, selisih dari jumlah reduktor dan reduktor selain Na2s adalah
kadar Na2S, kualitas Na2S dikatakan baik apabila
mempunyai kadar Na2S 70% keatas. Na2S dikatakan mempunyai
kualitas cukup apabila mempunyai kadar Na2S antara 50%-69%.
Sedangkan Na2S dengan Kualitas kurang baik apabila mempunyai kadar
kurang dari 50%.
Fungsi Natrium Sulfida dalam Proses Penyamakan Kulit
Menurut Mann (1960), bahwa tujuan
proses pengapuran adalah untuk menghancurkan epidermis di mana rambut dan wol juga dihilangkan, menghilangkan
kelenjar keringat dan pembuluh darah yang terdapat pada substansi kulit, serta
membuka tenunan serat sehingga memudahkan penetrasi bahan penyamak dan untuk
membengkakan kulit.
Thorstensen (1976), mengatakan bahwa
proses pengapuran yang biasa dikerjakan dalam larutan dengan menggunakan pH
antara 12,0 – 13,0. Kebengkakan mula-mula terjadi pada grain dan flesh, sedangkan pada corium tergantung lama perendaman dalam kapur. Kebengkakan pada
proses pengapuran akan mengakibatkan diameter serat menjadi lebih besar,
sedangkan panjang serat tetap.
Bienkiewiez (1983), mengatakan bahwa
pada prinsipnya proses pengapuran terjadi karena aksi gugus hidroksi (OH-).
Reaksi antara metil hidroksida dan gugus fungsional pada protein kulit dapat
digambarkan sebagai berikut :
Proses penghilangan bulu dapat
terjadi karena aksi gugus hidroksil yang memutus ikatan antar sistein (- S – S
-) yang terdapat pada protein keratin.
Reaksi :
OH-
Salah satu hasil dari reaksi tersebut
terbentuk H2S yang juga dapat memutuskan ikatan antar sistein (S –
S).
Derajat kebengkakan pada kolagen
dalam media asam maupun basa sama baiknya, tergantung pada nilai pH. Maksud
ketergantungan tersebut terletak pada derajat disosiasi / penyebaran muatan
komponen yang digunakan. Pengaruh pH pada protein kulit kemungkinan dapat
mengakibatkan keadaan kulit tidak bengkak, kebengkakan seimbang (normal) dan
kebengkakan tidak seimbang.
Sharphouse (1975), menyatakan bahwa
faktor yang mempengaruhi hasil dalam proses pengapuran antara lain :
Kadar larutan atau prosentase jumlah kemikalia di
antaranya penggunaan Na2S atau sulfida lainnya, walaupun pembuangan
bulunya cepat tapi pengaruh terhadap kulit kurang baik karena Na2S
dalam air akan membentuk NaOH dan NaSH dengan Ca(OH)2 akan terbentuk
NaOH dan Ca(OH)2 basa kuat yang terbentuk akan menambah alkalitas
larutan dan langsung menambah kebengkakan kulit sehingga kulit jadinya loose.
Pelepasan
atau pembuangan bulu berhubungan dengan penguraian keratin. Keratin adalah
substansi yang sangat kuat terhadap zat kimia, karena rantai peptidanya sangat
kuat. Ikatan kimia jaringan peptida tersebut adalah jembatan disulfida.
Jembatan hidrogen dalam collagen jauh lebih lemah dibandingkan dengan jembatan
ikatan disulfida. Dalam collagen juga terdapat ikatan cystin yang merupakan zat
asam amino. Jika asam amino berdiri sendiri berarti ikatanya sangat kuat.
Mengahancurkan keratin secara kimia dapat terjadi dengan persyaratan sulfida
atau sulfhidrat sangat mudah terikat pada keratin. Pengikatan tersebut hanya
terjadi pada kebasaan yang tinggi. Berarti ikatan sulfida pada keratin pada
wilayah asam atau netral tidak mungkin. Kolagen sama sekali tidak dipengaruhi
oleh sulfid, tetapi terdapat suatu kesamaan pada keratin dan collagen,
kedua-duanya dapat mengikat alkali.
Proses
pemecahan cystin secara kimiawi belum diketahui secara pasti. Digambarkan
kira-kira terjadi seperti cystin ditambah Natrium Sulfida sebagai berikut:
NH2 NH2
COOH COOH
[ -------- S -------- S -------- ] + 2
Na2S ------------------------------->
Cystein reaksi reduksi
[ -------- S -------- Na + Na ------- S
-------- ] + Na2S2
Cystein Reaksi oksidasi
Pada satu sisi terjadi reduksi
disisi lain terjadi oksidasi.
Na2S mereduksi jembatan
sulfid hingga menjadi ikatan sulfid poly (poly sulfid), yang berarti merupakan
peningkatan oksidasi. Bisa juga terjadi Na2S8 dimana
ikatan baru yang terjadi disebut Cystein. Proses kimia ini merupakan proses
yang mungkin terjadi, tapi apakah persis seperti itu belum diketahui. Pada
pengamatan dengan kenaikan jembatan cystein ini karena keratin membengkak.
Secara sistematis juga terjadi pemecahan Hydrolisis karena pembengkakan
keratin. Dimaksudkan dengan pemecahan hydrolisis tersebut adalah pemecahan
rantai sulfida pada keratin. Maka dapat dibayangkan selalu terdapat
penghancuran bulu dan rambut jika digunakan bahan kimia yang reduktif.
Bagaimanapun juga walaupun dilakukan proses untuk tidak menghancurkan rambut,
jika dipakai bahan penghancur epidermis, berarti akan berpengaruh
menghancurkan. Proses penghancuran rambut dapat dikendalikan dengan pengaturan suhu, waktu dan pH, jumlah
zat yang digunakan, perbandingan air dan kulit, serta pembebanan mekanis dalam
drum, bobot bulu dan kulit, sehingga kemungkinanya sangat luas, apakah ingin
diperhatikan bulunya atau dihancurkan.
Kapur Ca(OH)2 diperlukan
untuk menaikkan nilai pH 12,6 – 13,00 sedangkan Na2S untuk
membengkakkan kulit. Dengan penambahan Na2S, maka terjadi
penghancuran keratin. Suhunya sebaiknya antara 25o C – 30o
C.
Selain proses reduktif ada proses
oksidatif dengan Na2O2 (Natirum peroksida) atau dengan
anhidrid peroksida (H2O2) + 2 CH3COO, yang
bukan merupakan asam. Suatu substansi yang sangat oksidatif adalah NaOCl2
(Chlorid). Ini cukup berbahaya karena harus dalam larutan alkali disamping
biayanya sangat tinggi. Hydrogen peroksida memiliki batas ledakan sangat
rendah, berarti jika ditambah air atau H2O2 lagi bisa
terjadi ledakan. Tetapi memberikan keuntungan peltnya sangat lembut dan putih
bersih. Karena sifatnya sangat keras, pigmen dalam rambut akan menjadi putih.
Jika hanya ditambah kapur saja dapat terjadi imunisasi.
III. PROSEDUR KERJA
A. Alat dan Bahan yang
Digunakan
1.
Alat-alat yang digunkan:
|
No
|
Nama alat
|
Jumlah
|
|
1
|
Beaker glass 250 ml
|
2
|
|
2
|
Pipet volume 25 ml
|
2
|
|
3
|
Gelas ukur 100 ml
|
2
|
|
4
|
Pipet tetes
|
2
|
|
5
|
Pro pipet
|
2
|
|
6
|
Corong
|
1
|
|
7
|
Klem
|
1
|
|
8
|
Statif
|
1
|
|
9
|
Erlenmeyer
|
4
|
|
10
|
Pipet gondok 50 ml
|
2
|
|
11
|
Buret
|
1
|
|
12
|
Kertas saring
|
2
|
|
13
|
Botol semprot
|
1
|
2. Bahan-bahan yang digunakan
Ø Larutan yodium 0,1 N
Ø Indikator amilum
Ø Larutan seng sulfat
Ø Larutan asam asetat 6%
Ø Larutan natrium thio sulfat 0,1N
Ø Larutan natrium karbonat 10%
Ø Alkohol
Ø Aquades
B. Langkah Kerja
1.
Uji Jumlah Reduktor Total
a.
Mencucu
alat yang digunakan dengan baik dan benar
b.
Keringkan
alat yang telah
dicuci
c.
Masukkan 200
ml air suling kedalam erlenmeyer
d.
Pipet 50 ml
larutan yodium, 25 ml larutan asam asetat 6% campurkan kedalam erlenmeyer
tadi
e.
Tambahkan 20
ml larutan contoh Na2S
f.
Kocok hingga
homogen. Lalu ambil sampel sebanyak 20 ml
g.
Tambahkan
larutan yodium sampai larutan berwarna kuning
h.
Titrasi
dengan menggunakan larutan thiosulfat yang sudah distandarisasi
i.
Tambahkan
indikator amilum apabila mau mencapai tituk equivalen
j.
Titrasi
dihentikan jika mengalami perubahan warna dari biru kehitaman menjadi bening
k.
Catat data
yang diperoleh
2.
Uji Reduktor Selain Na2S
a.
Mencuci alat yang digunakan
dengan bersih dan keringkan
b.
Memipet
larutan sampel Na2S sebanyak 100 ml masukkan kedalam beaker glass
c.
Menambahkan
10 ml alkohol,
40 ml air suling (y)
d.
Dalam beaker
glass yang
lain siapkan 20 ml larutan seng sulfat 20% dan 20 ml larutan natrium karbonat
10%. Aduk dan saring
e.
Endapan yang
terbentuk dimasukkan kedalam larutan y
f.
Tambahkan
aquadest sampai garis tanda 200 ml
g.
Aduk sampai
rata. Lalu saring dan ambil filtratnya
h.
Filtrat
diambil 20 ml tambahkan 10 ml asam asetat 6% tambahkan yodium sampai warnanya
menjadi
kuning
i.
Titrasi
dengan larutan tiosulfat dan tambahkan larutan amilum ketika mencapai titik
equivalen
j.
Titrasi
kembali hingga mencapai perubahan warna dari biru kehitaman menjadi bening
k.
Catat data
yang diperoleh
IV. HASIL PENGAMATAN DAN
PERHITUNGAN
A. Hasil
Pengamatan
1. Uji jumlah reduktor
Ø Volume Na2S : 50 ml
Ø Volume air suling : 200 ml
Ø Volume Na2S2O3 : 1,8 ml
Ø Volume sampel : 20
ml
2. Uji reduktor selain Na2S
Ø Volume Na2S : 100 ml
Ø Volume Na2S2O3 : 2,2 ml
Ø Volume sampel :
20 ml
3. Data blanko
Ø Volume Na2S2O3 : 10,6 ml
4. Data standarisasi
Ø Na2S2O3 : 0,1 N
Ø Na2S :
10 gr
5. Perhitungan
Berdasarkan data yang kami peroleh dari Sampel yang digunakan Na2S sebanyak 10 gram, maka:
A. Total reduktor
Diketahui : Volume sampel : 20 ml
Volume Na2S2O3
blanko(b) : 10,6 ml
Volume Na2S2O3 sampl(a) : 1,8 ml
N Na2S2O3 : 0,1 N
Volume Na2S : 50 ml
Ditanya : Total reduktor dalam sampel ?
Jawab :
B. Reduktor selain Na2S
Diketahui : Volume sampel : 20 ml
Volume Na2S2O3
blanko(b) : 10,6 ml
Volume Na2S2O3
sampl(a) : 2,2ml
N Na2S2O3 : 0,1 N
Ditanya : Total reduktor dalam sampel ?
Jawab :
C. Kadar Na2S
Kadar
Na2S = Kadar reduktor
total – Kadar reduktor
selain Na2S
= 17,16% - 16,38%
= 0,78%