Laporan Praktikum Kimia Analisis, Kimia Organik, Analisis Bahan Kulit, Analisis Karet

Minggu, 02 Desember 2012

Metoda dan proses Pembuatan Fatliquor cara Sulfatasi


BAB III
MATERI DAN METODE
A.    ALAT
Alat yang digunakan dalam praktikum yaitu :
a. Analisis Bahan Baku Minyak (penentuan bilangan asam, penyabunan dan angka iod)
1.      Neraca analitik                             
2.      Gelas arloji
3.      Gelas beker                                  
4.      Erlenmeyer                                   
5.      Pendingin balik                            
6.      Kompor pemanas                         
7.      Buret                                                        
8.      Pro pipet dan Pipet volum           
9.      Pipet tetes                                    
10.  Statif dan klem                            
b.  Pembuatan Minyak Sulfat
1.      Neraca analitik
2.      Gelas beker
3.      Mixer, pengaduk dan wadahnya
4.      Termometer  
5.      Corong pemisah
6.      Pipet tetes
7.      Pipet volum dan propipet
8.      Statifdan klem

c. Pengujian Emulsi, Pengujian Kadar Air Dan Pengujian Kadar SO3 Terikat
1)      Neraca analitik
2)      Gelas arloji
3)      Erlenmeyer
4)      Tabung reaksi dan rak tabung reaksi
5)      Pipet tetes
6)      Gelas ukur
7)      Gelas beker
8)      Pengaduk
9)      Termometer
10)  Kompor listrik
11)  Oven
12)  Desikator
13)  Corong pemisah
14)  Pipet volum
15)  Buret
16)  Statif dan klem
17)  Corong

d. Aplikasi Fatliquor Pada Penyamakan
1)      Ember
2)      Neraca analitik
3)      Timbangan kasar
4)      Gelas arloji
5)      Gelas beker
6)      Gelas ukur
7)      Pipet tetes
8)      Pengaduk
9)      Kompor pemanas
10)  Thermometer
11)  Sarung tangan

e. Pengujian Kulit Samak
1)      Penggaris dan Gunting
2)      Neraca analitik
3)      Gelas arloji
4)      Oven dan desikator
5)      Digital Force gouge
6)      Moisture tester
7)      Ticknes strenght
8)      Crough meter
B.     BAHAN
Bahan yang di gunakan dalam praktikum yaitu :
a. Analisis Bahan Baku Minyak (analisa bilangan asam, penyabunan dan angka iod)
1.      Minyak Sawit Tropical
2.      Minyak sulfat sawit tropical
3.      Alkohol 95% netral
4.      NaOH 0.1N
5.      Indikator PP
6.      Larutan KOH alkoholis
7.      Larutan HCl standar 0,5 N
8.      Khloroform
9.      Hanus iodin
10.  Akuades
11.  Asam asetat glasial
12.  Natrium thiosulfat 0.1N
13.  Larutan pati/indikator amilum

b.       Pembuatan minyak sulfat
1.      Minyak Sawit tropical
2.      Es batu
3.      Akuades
4.      H2SO4
5.      Larutan Garam Jenuh
6.      NaOH

c.  Pengujian Emulsi, Pengujian Kadar Air dan Pengujian SO3 terikat
1.      Minyak sulfat sawit topical
2.      Akuades
3.      Asam formiat
4.      Eter
5.      NaCl jenuh
6.      H2SO4 1 N
7.      Kertas pH
8.      Indikator PP
9.      NaOH 0,5 N

d.      Aplikasi fatliquor pada penyamakan
1.      Kulit kambing pickle
2.      Air garam
3.      FA
4.      H2SO4
5.      Altan MS
6.      Cromosal B
7.      Sodium format
8.      Soda kue
9.      Air kran
10.  Soda ASH
11.  Tergotan RAP
12.  Tamol
13.  Sintan DLE
14.  Dyestuff blue
15.  Minyak sulfat sawit tropical
16.  Minyak SAF
17.  indikator BCG
18.  kertas pH
19.  Pigment biru
20.  Binder
21.  Wax
22.  Filler 415
23.  Lak
24.  Thinner
e. pengujian kulit
1.      Kulit kambing tersamak
2.      Aquadest
3.      Air keringat buatan
4.      Kain putih
C.    CARA KERJA
a.Analisis Bahan Baku Minyak
Penentuan Bilangan Asam
1.      Ditimbang minyak sawit tropical sebanyak 5,002 gram dalam erlenmeyer.
2.      Ditambahkan larutan alkohol netral 95% sebanyak 50 ml ke dalam erlenmeyer yang telah berisi minyak sawit tropical
3.      Pendingin balik dirangkai pada statif di hubungkan dengan selang kemudian erlenmeyer ditutup dengan pendingin balik, ditempatkan diatas pemanas listrik.
4.      Campuran dipanaskan hingga mendidih selama kurang lebih 60 menit
5.      Setelah dingin ditetesi indikator PP sebanyak 3 tetes, lalu titrasi dengan larutan NaOH 0,1N sampai warna berubah menjadi merah muda yang tidak hilang selama 30detik. Di amati dan dicatat perubahan yang terjadi.

Penentuan Bilangan Penyabunan
1)        Di timbang minyak sawit tropical sebanyak 5.002 gram lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer lalu ditambahkan 50ml larutan KOH alkoholis kedalam erlenmeyer yang berisi minyak sawit tropical
2)        Di refluks dengan pendingin balik selama 1,5 jam setelah itu larutan didinginkan dan ditetesi 3tetes indikator PP
3)        Di titrasi dengan larutan HCl 0.5N
4)        Untuk mengetahui kelebihan KOH dibut larutan blanko dengan prosedur yang sama tanpa bahan minyak sawit tropical. Akhir titrasi ditandai dengan berubahnya warna larutan dari ungu menjadi bening.

Penentuan Bilangan Iod
1.        Ditimbang minyak sawit tropical sebanyak 0.253gram dimasukkan kedalam erlenmeyer tertutup, ditambahkan 10ml khloroform dan 25ml hanus iodin dibiarkan ditempat gelap selama 30menit dan kadang kala digojok.
2.        Ditambahkan 100ml akuades dengan suhu 50°C diambil 25ml sebanyak 3kali lalu dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat 0.1N sampai berwarna kuning pucat lalu ditambahkan 3tetes larutan pati lalu dititrasi kembali sampai warna biiru hilang(bening).
3.        Larutan blanko dibuat dari 25ml hanus iodin dan diencerkan dengan 100ml akuades hangat dan dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat sampai bening.
4.        Di amati dan dicatat hasil pengamatan yang dilakukan.

b.       Pembuatan Minyak Sulfat
1.      Minyak sawit tropical ditimbang 100gram dan dimasukkan dalam gelas beker, kemudian gelas beker tersebut dimasukkan ke dalam wadah yang berisi pecahan es batu.
2.      Ditambahkan asam sulfat pekat sebanyak 40gram/23,18ml di tambahkan tetes demi tetes sambil diaduk dengan mixer suhu dijaga dibawah 20°C
3.      Setelah penambahan asam sulfat selesai larutan kemudian didiamkan selama 1 malam. Keesokan harinya minyak dipisah dengan air menggunakan corong pemisah hasil pemisahan kemudian dicuci dengan air garam sebanyak 300ml, dan dilakukan sebanyak 2kali dan dicuci lagi dengan air garam sebanyak 150ml lalu didiamkan lagi selama 1 malam.
4.      Keesokan harinya proses dilanjutkan dengan proses penetralan. Ditambahkan NaOH 0.1N sampai pH larutan antara 6,5-7.
5.      Di amati dan dicatat perubahan yang terjadi.

c. Pengujian Emulsi, Pengujian Kadar Air Dan Pengujian Kadar SO3 Terikat
Pengujian emulsi sederhana
1.    Dimasukkan 10 ml akuades ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes minyak sulfat dan digokok hingga homogen.
2.    Didiamkan dan dicatat waktu pecahnya emulsi (larutan menjadi 2 fase kembali).
Pengujian emulsi dengan pemanasan
1.    Ditambahkan 50 Ml akuades ke dalam gelas beker dan ditambahkan 15 tetes minyak sulfat ke dalam gelas beker dan diaduk hingga homogen.
2.    Dipanaskan diatas kompor listrik dan diamati suhu pecahnya minyak sulfat.



Pengujian emulsi dengan asam formiat
1.    Dimasukkan 50 ml akuades ke dalam gelas beker lalu dipanaskan di atas kompor listrik hingga suhu maksimal 50 C
2.    Di masukkan minyak sulfat sebanyak 15 tetes ke dalam gelas beker yang lain, kemudian ditambahkan akuades yang telah dipanaskan tadi denan suhu 50 C dan diaduk hingga homogen.
3.    Ditambahkan asam formiat sebanyak 3 tetes kedalam gelas beker tadi sambil dipanaskan pada suhu kurang lebih 50 C.
4.    Diamati pecahnya minyak sulfat

 Pengujian Kadar Air
1.    Di timbang gelas beker kosong yang telah di oven.
2.    Ditimbang minyak sulfat menggunakan gelas arloji pada neraca analitik.
3.    Minyak yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam oven dengan wadah gelas arloji pada suhu 100 c selama 3 jam.
4.    Pada setiap 1 jam sekali gelas arloji yang berisi minyak ditimbang kemudian di oven kembali, penimbangan dilakukan setiap satu jam sekali selama 3 jam.
Pengujian kadar SO3 terikat
1.    Ditimbang minyak sulfat sebanyak 5 gram dengan gelas arloji pada neraca analitikDimasukkan dalam corong pemisah.
2.    Ditambahkan 50 ml eter dan 50 ml NaCL jenuh. Digojok selama 5 menit dan dibuang larutan garam jenuhnya. Dan ditambahkan 3 tetes H2SO4 1N dan 25 ml eter dan digojok kembali selama 5menit
3.    Larutan kemudian dipisah antara eter +  minyak dan larutan garam nya. Kemudian ditambahkan lagi 25ml eter dan digojok selama 5menit.
4.    Ke dalam corong pemisah ditambahkan NaCL jenuh + digojok sampai pH nya netral ( bebas asam). Larutan kemudian disaring kembali, sisa saringan (eter+minyak) dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan dipanaskan selama 90 menit.
5.    Sebelum pemanasan dilakukan ke dalam erlenmeyer yang berisi eter + minyak ditambahkan 25 ml H2SO4 1N, kemudian dipanaskan selama 90 menit.
6.    Setelah waktu tercapai larutan didinginkan dan ditambahkan 25 ml eter, 30 gram NaCL, dan 3 tetes indikator pp dan digojok.
7.    Larutan kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0,5N, diamati dan dicatat perubahan yang terjadi selama percobaan.

Keterangan: Untuk Langkah Kerja Pada Uji Bilangan Penyabunan Dan Bilangan Iod pada Minyak Tersulfatasi Minyak Sawit Tropical sama seperti Uji Bilangan Penyabunan Dan Bilangan Iod Pada Minyak Sawit Tropical hanya saja yang membedakannya yaitu pada bahan baku minyak yang digunakan.

d.      Aplikasi Fatliquor Pada Penyamakan
1.      Ditimbang kulit pickle, lalu ditambahkan air garam 80BE.
2.      Repickle
v  diambil 80% larutan garam 8BE dimasukkan dalam ember yang berisi kulit kemudian diremas-remas selama 20 menit.
v  Ditambah 1% FA diencerkan 10 X dengan  aquadest lalu diremas-remas selama 45 menit.
v  Dilakukan pengecekan pH (pH 3) dengan cek BCG  bila tercapai akan berwarna kuning, bila belum ditambahkan 0,5 % H2SO4 remas selama 3 X 15 menit.
3.      Pre Tanning
v  Ditambahkan 1% Altan MS diencerkan sebanyak 10X dengan aquadest diremas selama 1 jam
4.      Tanning
v  Ditambahkan 8% chromosal sebanyak 21 gram dimasukkan dalam ember yang berisi kulit kemudian diremas-remas selama jam.
v  Lalu di over night selama 1 malam. Lalu cairan tanning dibuang.
5.      Ageing
v  Kulit di kering anginkan pada pentangan kayu, dengan bagian rajah kulit diatas. Penjemuran dilakukan tanpa sinar matahari.
6.      Netralisasi
v  Ditambahkan 150% air dimasukkan dalam ember yang berisi kulit.
v  Ditambah 1,5soda kue kemudian diremas-remas selama 30 menit. Cek pH (4,5-5,50) dan cek BCG warna biru.
v  Ditambahkan 0,5 % soda ASH dan diremas selama 20 menit.
7.      Retanning
v  Diambil 100% air dimasukkan dalam ember yang berisi kulit.
v  Ditambahkan 2 % Tergotan RAP dan 2%  Basintan DLE  diremas selama 1 jam.
8.      Dyeing
v  Ditambah 1,5Dyestuff warna biru kemudian diremas-remas selama 30 menit.
v  Ditambahkan 3% Tamol sebanyak  gram diremas selama 30 menit.
v  Lalu di ageing kembali
9.      Fatliquoring
v  Ditambahkan 100% air kran dengan suhu 75ยบ C kemudian diremas-remas selama 15 menit..
v  Ditambah 15% minyak sulfat sawit tropical dan 5% SAF diremas selama 90 menit.
v  Ditambah 1,5FA dilakukan pengenceran sebanyak 5X, lalu diremas selama 2X20 menit.
10.  Hanging
v  Kulit dibentang atau dijemur tanpa ada sinar matahari hingga kering atau tidak mengandung air lagi.
11.  Steaking
v  Dilakukan steaking dengan mesin steaking, agar kulit lebih lebar dan lemas.
12.  Toggling
v  Dilakukan toggling pada papan kayu, menggunakan paku
13.  Finishing
v  Membuat larutan untuk finishing dengan diambil 1 bagian pigment biru, ditambah 2,5 bagian binder, ditambah 0,3 bagian wax, dan 6,2 bagian aquadest, kemudian diaduk-aduk hingga homogen.
v  Larutan dimasukkan dalam alat yang dihubungkan dengan compressor kemudian disemprotkan pada kulit yang telah dibentangkan pada kayu ( base coat ).
v  Penyemprotan dilakukan dengan arah silang agar pengecatan bisa merata, kemudian dikeringkan.
v  Setelah kering kulit disemprot lagi ( middle coat ), kemudian dikeringkan.
v  Penyemprotan diulang sekali lagi ( top coat )  lalu dikeringkan.
v  Setelah kering kulit disemprot dengan campuran lak dan thinner.
14.  Flatting
Flatting dilakukan di pabrik Fajar Makmur agar kulit lebih mengkilap.

e.  Pengujian kulit
1.      Uji Shear Stress Dan Uji Tensile Strength
·         Uji Shear Stress
a.    Kulit yang sudah dipersiapkan, kemudian dipasangkan pada mesin uji Tensile Strength Tester.
b.    Jarak dijaga agar tetap 5 cm di antara dua jepitan tersebut.
c.    Mesin dihidupkan sampai kulit tertarik sampai putus.
d.   Beban dicatat dan penambahan panjang dicatat untuk evaluasi.
e.    Kekuatan tarik dihitung, demikian juga kemuluran.
·         Ujian Tensile Strength
a.       Kulit yang sudah dipersiapkan, kemudian dipasangkan pada mesin uji Tensile Strength Tester.
b.      Jarak dijaga agar tetap 5 cm di antara dua jepitan tersebut.
c.       Mesin dihidupkan sampai kulit tertarik sampai putus.
d.      Beban dicatat dan penambahan panjang dicatat untuk evaluasi.
e.       Kekuatan tarik dihitung, demikian juga kemuluran.
f.       Tebal kulit diukur dengan Gauge Thicknes.
2.      Uji Kadar Air
a.       kulit yang sudah dipotong sekecil-kecil mungkin, kemudian ditimbang, dan berat di catat.
b.      Dinyalakan alat moisture tester, atur suhu dan waktu.
c.       dimasukkan kulit yang sudah dipotong pada alat.
d.      Tunggu hingga wakrtu yang telah ditentukan.
e.       Dicatat hasil yang telah diperoleh.
f.       Dihitung kadar air dan kadar solid.

3.      Uji Kelunturan Warna
a.       Kulit yang sudah dipotong sesuai pola, kemudian dipasang pada pesawat Crock meter.
b.      Ambil kain, satu basah dan satunya lagi kering, pasang pada pesawat uji Crock meter.
c.       Tempelkan kain pada kulit, baik kain kering maupun basah.
d.      Hidupkan mesin sehingga kulit akan tergosok maju mundur 10 kali selama 10 detik.
e.       Mesin dimatikan
f.       Ambil kain yang sudah ternoda tadi, untuk kain basah dikeringkan dengan Hair Dryer.
g.      Data dicatat untuk dievaluasi.

4.    Uji Ketebalan Kulit
1.    Kulit diletakkan pada meja datar.
2.    Dari tepi kulit / garis punggung 15 cm.
3.    Kemudian diukur tiga titik pada bagian punggung.
4.    Bagian perut diukur dua titik
5.    Kemudian hasil dirata-rata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

iklan banner
iklan banner