Laporan Praktikum Kimia Analisis, Kimia Organik, Analisis Bahan Kulit, Analisis Karet

Rabu, 28 Desember 2011

PEMBUATAN ADHESIVE BERBAHAN DASAR PATI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Adhesive atau lem atau juga sering disebut perekat merupakan suatu bahan yang digunakan untuk menyatukan dua benda yang sejenis, maupun yang tidak sejenis bersama dengan aksi permukaan, sehingga kedua benda tersebut bisa bertahan terhadap aksi pemisahan.
Konon lem sudah ada sejak tahun 4000 SM. Pada situs dari zaman prasejarah ditemukan jenazah bersama makanan dalam tempat keramik pecah, yang direkatkan kembali dengan resin dari getah pohon. Di kuil Babilonia pun ditemukan sejumlah patung dengan biji mata dari gading yang ditempelkan dengan tar di rongga mata. Ini bukti, "lem" tar mampu bertahan selama 6000 tahun.
Namun, referensi tertulis pertama tentang cara membuat dan memakai lem baru muncul tahun +2000 SM. Sejumlah lukisan dinding menampilkan secara mendetail proses pemakaian lem pada kayu. Berbagai benda seni dan perabot dari makam para Firaun Mesir menampilkan peran lem binatang sebagai perekat atau pelapis.
Di tahun 1 - 500, semenjak Romawi dan Yunani mengembangkan seni pernis dan pelapisan kayu, makin berkembang pembuatan lem dari binatang dan ikan. Bangsa Romawilah yang pertama kali memanfaatkan tar dan lilin lebah untuk mendempul papan di perahu dan kapal. Pada masa ini pula ditemukan lem baru, yakni "lem" putih telur. Lucunya, lem ini mengandung bahan alamiah "aneh" seperti darah, tulang, kulit, susu, keju, sayuran, dan biji-bijian.
Selain untuk merekatkan, lem juga ampuh membuat orang jadi tersohor. Konon, Jenghis Khan bisa mengalahkan musuh-musuhnya karena kekuatan senjata pasukannya. Busur mereka dibuat dari kayu jeruk lemon yang sudah dilapisi zat tertentu, lalu dengan lem batang itu disatukan dengan tanduk kerbau. Sayangnya, ramuan lem itu tak tercatat baik.
Demikian pula formula lem untuk melapis kayu yang sudah diproses khusus untuk membuat biola ajaib Antonio Stradivari. Meski sudah dicari dengan alat paling canggih pun, formula itu belum juga tersingkap. Perubahan fenomenal sejarah lem terjadi tahun 1700-an, saat berdiri pabrik lem komersial pertama di Belanda yang memproduksi lem binatang. Setengah abad kemudian paten pertama dikeluarkan di Inggris untuk lem dari ikan. Dengan cepat disusul terbitnya sejumlah paten untuk lem berbahan karet alam, tulang hewan, ikan, kanji, dan kasein. Sedangkan pabrik pengolahan lem berbahan itu mulai banyak berdiri di AS tahun 1900-an.
Pengaruh Revolusi Industri tampak dengan ditemukannya bahan dasar baru lem, yakni plastik. Tahun 1920 - 1940-an plastik dan karet sintetis mulai diproduksi. Maka, lem pun menjadi lebih kuat, lentur, cepat menempel, tahan terhadap suhu dan bahan kimia. (sumber: www.intisari.com/usutasal-lem)
Salah satu jenis lem yang banyak digunakan atau diaplikasikan adalah lem dari jenis bahan dasar karbohidrat. Rata-rata lem ini digunakan untuk aplikasi sederhana, seperti untuk merekakan kertas, atau label. Walaupun aplikasinya sederhana lem atau perekat ini banyak memiliki keunggulan, seperti murah, bahan dasarnya melimpah, maupun pembuatannya relatif sederhana.
Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting. Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau..
Pati terdapat berlimpah di alam, terlebih lagi selulosa sebagai komponen organik alami. Pati tersimpan dalam sel penyimpanan dengan dikelilingi oleh protein dan komponen lainnya. Pati tersedia dalam bentuk yang berlainan, semikristalin yang disebut dengan granula pati. Ukuran, bentuk dan struktur granula pati sangat bervariasi pada komoditi pertanian. Diameter granula pati berkisar antara 1µm hingga 200µm. Bentuk granulanya bervariasi dari ellips/lonjong hingga kotak. Pati merupakan bahan perekat yang menjaga kesatuan makanan yang tidak mengandung gluten. Prosedur mengekstrak dan dalam menghasilkan pati dari tanaman hasil panen berbeda tergantung dari jenis pati yang ada di dalamnya.
Pati murni berwarna putih, padat, dapat dicerna dengan baik oleh enzim amilase, dan mengandung sedikit protein dan lemak yang merupakan bagian dari granula. Kebanyakan tanaman menyimpan energi dalam bentuk pati, yang tersusun atas amilosa dan amilopektin. Amilosa memberikan sifat keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket.
Amilosa merupakan polimer linear yang terdiri dari D-glukopiranosa yang berikatan alfa-1-4. Amilosa biasanya membentuk struktur rantai lurus, tapi biasanya tersedia dalam bentuk helix, yang membentuk kompleks dengan asam lemak bebas, mono dan digliserida, alkohol linear dan iodin. Sedangkan amilopektin merupakan polimer bercabang yang ukurannya lebih besar daripada amilosa, mempunyai cabang ikatan alfa-1-6 selain ikatan glukosa mayoritas alfa-1-4. Pasta amilopektin secara signifikan lebih lengket daripada pasta yang mengandung amilosa.
Formasi dan integritas struktur dari kompleks amilosa-lemak dipengaruhi oleh suhu, pH, campuran dari polimer amilosa dengan molekul lain(tamu) dan struktur dari asam lemak atau gliserida. Adanya komplek mempengaruhi properties dari pati. Amilosa mono dan digliserida mempengaruhi suhu gelatinisasi pati, tektur, dan viskositas dan membatasi retrogradasi.
Perbandingan antara amilosa dan amilopektin akan memberikan efek pati secara fungsional dalam penggunaannya pada makanan. Contohnya dalam pemasakan dan kualitas makan dari tepung beras. Tepung beras yang terdiri dari 99% amilopektin sangat cocok untuk membuat biscuit dengan tekstur yang ringan dan lembut. Sedangkan tepung beras dengan rasio amilosa yang lebih tinggi, akan menghasilkan produk biscuit dengan tekstur yang lebih kokoh dan lebih renyah, serta cocok digunakan dalam pembuatan mie.
Granula pati adalah komponen utama yang tidak dapat pecah dalam air dingin, dan ketika ditambahkan ke air pada suhu ruang, hanya sedikit terjadi pemecahan sampai dilakukan pemanasan. Struktur granula pati yang terdiri dari kristal (kristalit, micelles, area yang terorganisir) dan bukan kristal (tidak berbentuk, bukan kristal, fase gel). Area yang tidak terbentuk dari granula pati adalah akibat adanya air yang masuk dan enzim serta aktivitas asam. Kristal merupakan perubahan sejumlah besar rantai glukosa yang mengalami pengikatan hidrogen untuk membentuk area yang sulit bagi air dan enzim untuk menembus. Granula pati asli tidak dapat larut dalam air dingin, tetapi mengembang secara reversible ketika diletakkan dalam air dingin.
Berdasarkan karakteristik pati diatas, bahwa pati memiliki dua kandungan bahan yakni amilosa dan amilopektin. Amilosa memberikan sifat keras dan amilopektin memberikan sifat lengket. Kandungan amilopektin dalam pati inilah yang melatar belakangi kami dalam praktikum pembuatan adhesive berbahan dasar pati, untuk menguji tinjauan pustaka yang di uraiakan diatas tentang amilopektin yang ada dalam pati memiliki sifat lengket. Sehingga dengan adanya praktikum pembuatan adhesive berbahan pati ini kami dapat mendapatkan jawaban setelah kami melakukan praktikum.




B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum pembuatan adhesive/lem dari bahan dasar adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bahan-bahan dalam pembuatan adhesive.
2. Untuk mengetahui cara pembuatan adhesive dari pati dan menentukan substrat yang cocok untuk lem yang dihasilkan.
3. Untuk membandingkan adhesive dari berbagai macam bahan dasar pati yang berbeda.

C. Manfaat
Setelah melakukan praktikum ini, diharapkan mahasiswa mampu:
1. Mengetahui bahan-bahan dalam pembuatan adhesive.
2. Mengetahui cara pembuatan adhesive dari pati.
































BAB II
DASAR TEORI

A. Pengertian Perekat (Adhesive)
Adhesive merupakan bahan yang digunakan untuk merekatkan dua bahan yang berbeda. Berdasarkan asalnya, adhesive dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu adhesive alami dan adhesive sintetis. Adhesive alami merupakan adhesive yang berasal dari bahan alam, seperti tumbuhan, kulit hewan, maupun resin alam. Sedangkan adhesive sintetis merupakan adhesive yang berasal dari bahan kimia seperti termoset, termoplastik, serta elastomer.
Definisi perekat menurut beberapa ahli :
1. Shield (1970) mendefinisikan perekat sebagai suatu bahan yang dapat menyatukan bahan-bahan lainnya melalui ikatan permukaan.
2. Kennedy et all (1984) mendefinisikan perekat sebagai unsur yang mampu menyatukan bahan secara bersama melalui ikatan secara kimia atau secara mekanik.
3. Salomon & Schonlau (1951) mendefinisikan perekat sebagai bahan yg mampu menyambungkan atau menyatukan kedua permukaan benda yg terpisah sehingga mempunyai kekuatan yg memadai saat dikenai beban tertentu.
4. Wake (1976) & Ruhendi (1986) mendefinisikan perekat sebagai bahan yang mampu menyatukan benda sejenis atau tidak sejenis melalui ikatan atau sentuhan permukaan & menjadikan benda tsb memiliki sifat tahan terhadap usaha pemisahan.

Istilah yang ada dalam Adhesive
1. Adheren (substrat) adalah bahan yang akan direkatkan.
2. Bonding adalah proses perekatan
3. Adhesi adalah gaya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis.
4. Kohesi adalah gaya tarik menarik antara molekul yang sejenis.
5. Tackifier adalah bahan untuk menambah daya rekat adhesive.
6. Open tack time adalah daya rekat awal yang terbentuk ketika perekat mulai ditempelkan.




B. Kegunaan Perekat (Adhesive)
Secara umum Perekat digunakan untuk mengikat aneka komponen struktur tertentu secara efektif dan mudah, terlebih bila pemakaian teknik penyambungan (solder, paku, sekrup) mengakibatkan distorsi, korosi serta kerusakan lainnya.

C. Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Perekat Dari Metode Penyambungan Lainnya
1. Keuntungannya antara lain :
a. Memudahkan penyambungan bentuk yang rumit.
b. Dapat menyambung beberapa komponen sekaligus.
c. Menyambungkan bahan dengan ketebalan berbeda.
d. Meminimumkan penambahan bobot bahan-bahan yang disatukan.
e. Menyeragamkan distribusi tekanan pada bahan-bahan yang direkatkan.
f. Perekat juga memungkinkan terjadinya produk akhir yang memuaskan, hasil perekatan rapi.
g. Kekuatan perekat sering amat tinggi, biayanya ekonomis dibandingkan cara lainnya.
2. Kerugiannya antara lain :
a. Proses perekatannya terkadang rumit agar hasilnya baik. Karena perlu persiapan permukaan yg akan direkatkan, dsb.
b. Kuat ikatan optimalnya tidak seketika tercapai sebagaimana pada teknik las.
c. Perekat kebanyakan berdaya hantar listrik dan termal kurang baik. Kecuali bila diisi oleh filler tertentu.
d. Perekat tidak 100% tahan panas, dingin, kerusakan organisme, bahan kimia, radiasi dan kondisi pemakaian ekstrim.
Adhesive merupakan suatu komponen kompleks yang berfungsi menyambung 2 benda atau lebih. Adapun komponen penyusun adhesive adalah sebagi berikut:
a. Pengencer
Merupakan pelarut bagi komponen perekat yang lain disamping untuk mengatur viskositas agar perekat dapat disebarkan merata pada permukaan yang hendak direkatkan.



b. Katalis
Merupakan zat curing bagi sistem perekat dan resin termoset. Meningkatkan ikatan silang polimernya. Katalis dapat berupa asam, basa, garam, senyawa belerang dan peroksida, kuantitas pemakaiannya sedikit.
c. Pengeras
Bergabung secara kimia dengan rekatannya. Pengeras dapat berupa monomer, polimer, atau senyawa campuran. Jumlah pemakaiannya tertentu.
d. Akselerator, inhibitor dan retarder
Digunakan untuk mengatur laju curing, akselerator mempercepat, inhibitor menghambat drastis, sedangkan retarder untuk memperlambat sehingga dapat memperlama masa simpan dan pemakaiannya.
e. Modifier
Meliputi, filler ( pengisi ) zat bukan perekat yang memperbaiki sifat kerja, keawetan dan kekuatan rekatan. Bahan yang lazim dipakai adalah tepung kanji, silika dan aluminium.
f. Ekstender
Zat yang bersifat perekat yang ditambahkan dalam rekatan untuk mengencerkan, mengurangi kadar komponen lain agar lebih ekonomis.
g. Pelarut
Cairan atsir yang ditambahkan ke perekat untuk meningkatkan konsistensi berbagai sifatnya.
h. Penstabil
Ditambahkan untuk meningkatkan ketahanan kerja perekat, misalnya terhadap pengaruh cahaya, panas, radiasi, dan sebagainya, pembasah meningkatkan kontak antar permukaan perekat dan benda yang akan direkatkan.

D. Karbohidrat
Karbohidrat secara harfiah berarti karbon yang terhidrasi. Nama ini berasal dari hasil percobaan, bila gula didalm tabung reaksi yang terbuka dibakar untuk waktu yang lama memberikan sisa karbon hitam dan tetesan air yang mengembun pada dinding tabung. Karbohirat merupakan kostituen utama kebanyakan tumbuhan, berkisar 60-90% dari berat kering. Molekul karbohidrat terdiri atas atom-atom karbon, hidrogen dan oksigen. Jumlah atom hidrogen dan oksigen merupakan perbandingan 2: 1 seperti pada molekul air. Pada glukosa tampak bahwa jumlah atom hidrogen berbanding jumlah atom oksigen ialah 12 : 6 atau 2 : 1. Berdasarkan gugus yang ada. pada molekul karbohidrat, maka karbohidrat dapat didefinisikan sebagai polihidroksialdehida atau polihidroksiketon serta, senyawa yang menghasilkannya pada proses hidrolisis.
Berbagai senyawa yang termasuk kelompok karbohidrat mempunyai molekul yang berbeda-beda ukurannya, yaitu dari senyawa yang sederhana yang mernpunyai berat molekul 90 hingga senyawa yang mempunyai berat molekul 500.000 bahkan lebih. Berbagai senyawa itu dibagi dalam tiga golongan, Tumbuhan memanfaatkan karbohidrat sebagai sumber energi maupun jaringan penunjang yang berfungsi seperti protein pada binatang. Selain berfungsi sebagai bahan makanan, karbohidrat dapat berfungsi sebagai perekat.

E. Pati atau Amillum
Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting.
Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi. Penjelasan untuk gejala ini belum pernah bisa tuntas dijelaskan.

F. Terminologi
Dalam bahasa sehari-hari (bahkan kadang-kadang di khazanah ilmiah), istilah "pati" kerap dicampuradukkan dengan "tepung" serta "kanji". "Pati" (bahasa Inggris starch) adalah penyusun (utama) tepung. Tepung bisa jadi tidak murni hanya mengandung pati, karena ter-/dicampur dengan protein, pengawet, dan sebagainya. Tepung beras mengandung pati beras, protein, vitamin, dan lain-lain bahan yang terkandung pada butir beras. Orang bisa juga mendapatkan tepung yang merupakan campuran dua atau lebih pati. Kata 'tepung lebih berkaitan dengan komoditas ekonomis. Kerancuan penyebutan pati dengan kanji tampaknya terjadi karena penerjemahan. Kata 'to starch' dari bahasa Inggris memang berarti 'menganji' ('memberi kanji') dalam bahasa Melayu/Indonesia, karena yang digunakan memang tepung kanji.

G. Kegunaan
Pati digunakan sebagai bahan yang digunakan untuk memekatkan makanan cair seperti sup dan sebagainya. Dalam industri, pati dipakai sebagai komponen perekat, campuran kertas dan tekstil, dan pada industri kosmetika. Biasanya kanji dijual dalam bentuk tepung serbuk berwarna putih yang dibuat dari ubi kayu sebelum dicampurkan dengan air hangat untuk digunakan. Kanji juga digunakan sebagai pengeras pakaian dengan menyemburkan larutan kanji cair ke atas pakaian sebelum disetrika. Kanji juga digunakan sebagai bahan perekat atau lem. Selain itu, serbuk kanji juga digunakan sebagai penyerap kelembapan, sebagai contoh, serbuk kanji disapukan pada bagian kelangkang bayi untuk mengurangi gatal-gatal. Kanji lebih efektif dibandingkan bedak bayi karena kanji menyerap kelembapan dan menjaga agar pelapis senantiasa kering. Tes kanji dilakukan untuk mengetes adanya iodin.
Identifikasi
Nomor CAS : 9005-25-8
Nomor EC : 232-679-6
Nomor RTECS : GM5090000
Sifat
Rumus molekul : (C6H10O5)n
Penampilan : bubuk putih
Densitas : 1.5 g/cm3
Titik leleh : decomp.
Kelarutan dalam air : tidak
Bahaya
MSDS : ICSC 1553
Indeks : EU not listed
Suhu nyala : 410 °C

Pati tersusun dari dua macam karbohidrat yaitu amilosa dan amilopektin dalam komposisis yang berbeda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) serta mempunyai rantai yang lurus, amilosa yang menyusun 20 - 50 % pati alam dibentuk dari kesatuan glukosa yang bergabung melalui ikatan α-1,4, massa molekulnya sangat beragam bergantung pada sumbernya.
Amilosa merupakan polisakarida, polimer yang tersusun dari glukosa sebagai monomernya. Tiap-tiap monomer terhubung dengan ikatan 1,6-glikosidik. Amilosa merupakan polimer tidak bercabang yang bersama-sama dengan amilopektin menjadi komponen penyusun pati. Dalam masakan, amilosa memberi efek "keras" atau "pera" bagi pati atau tepung.

Gambar 1.Struktur Amilosa
Amilopektin merupakan polisakarida yang tersusun dari monomer α-glukosa ( baca: alfa glukosa). Amilopektin merupakan molekul raksasa dan mudah ditemukan karena menjadi satu dari dua senyawa penyusun pati, bersama-sama dengan amilosa. Walaupun tersusun dari monomer yang sama, amilopektin berbeda dengan amilosa, yang terlihat dari karakteristik fisiknya. Secara struktural, amilopektin terbentuk dari rantai glukosa yang terikat dengan ikatan 1,6-glikosidik, sama dengan amilosa. Namun demikian, pada amilopektin terbentuk cabang-cabang (sekitar tiap 20 mata rantai glukosa) dengan ikatan 1,4-glikosidik. Amilopektin tidak larut dalam air.
Glikogen (disebut juga 'pati otot') yang dipakai oleh hewan sebagai penyimpan energi memiliki struktur mirip dengan amilopektin. Perbedaannya, percabangan pada glikogen lebih rapat/sering.


Gambar 2.Struktur Kimia Amilopektin

Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodine saedangkan amilopektin tidak bereaksi, sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket dengan rantai bercabang yang mempunyai ikatan likosida α-1,6 di samping α-1,4.
Tepung Terigu
Tepung terigu relatif lebih mudah terdispersi dan tidak mempunyai daya serap yang terlalu tinggi.Tepung merupakan komponen paling banyak dalam pembuatan makanan. Tepung terigu berfungsi sebagai bahan dasar untuk pembentukan adonan pada makanan (Matz dan Matz 1978 dalam Soliha I 2008). Berdasarkan kandungan proteinnya tepung dapat dibedakan menjadi tiga jenis, terigu keras (kadar protein minimal 12%), terigu sedang (kadar protein sebesar 10-11%), dan terigu lunak (kadar protein sebesar (7-9%). Komponen terbesar tepung terigu adalah pati. Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas. Fraksi terlarut disebut amilosa dan fraksi tidak terlarut disebut dengan amilopektin (Winarno 1997 dalam Azizah 2009).
Kandungan tepung terigu
a. Protein : 13 %
b. Air : 13 %
c. Pati : 72 %
d. Lemak : 0,5 %
e. Abu : 0,5 %
http://makara393.blogspot.com/2010/01/komposisi-tepung-terigu.html#axzz1hYN3851G

Tepung tapioca
Tapioka, tepung singkong, tepung kanji, atau aci adalah tepung yang diperoleh dari umbi akar ketela pohon atau dalam bahasa indonesia yaitu singkong. Tapioka memiliki sifat-sifat fisik yang serupa dengan tepung sagu, sehingga penggunaan keduanya dapat dipertukarkan.
Tepung tapioka yang dibuat dari ubi kayu mempunyai banyak kegunaan, antara lain sebagai bahan pembantu dalam berbagai industri. Dibandingkan dengan tepung jagung, kentang, dan gandum atau terigu, komposisi zat gizi tepung tapioka cukup baik sehingga mengurangi kerusakan tenun, juga digunakan sebagai bahan bantu pewarna putih.
Tapioka yang diolah menjadi sirup glukosa dan destrin sangat diperlukan oleh berbagai industri, antara lain industri kembang gula, penggalengan buah-buahan, pengolahan es krim, minuman dan industri peragian. Tapioka juga banyak digunakan sebagai bahan pengental, bahan pengisi dan bahan pengikat dalam industri makanan, seperti dalam pembuatan puding, sop, makanan bayi, es krim, pengolahan sosis daging, industri farmasi, dan lain-lain.

Kandungan pada tepung tapioca

Energy :358 kkl
Protein :0,19 g
Lemak total :0,02 g
Karbohidrat :88,69 g
Serat pangan :0,9 g
Kalsium :20 mg
Besi :1,58 mg
Magnesium :1 mg
Fosfor :7 mg
Kalium :11 mg
Natrium :1 mg
Seng :0,12 mg
Tembaga :0,02 mg
Mangan :0,11 mg
Selenium :0,8 mg
Asam folat :4 mg


http://aagos.ristek.go.id/pangan/Seralia%20dan%20Umbi/tepung_tapioka.pdf
Tepung beras
Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut 'palea' (bagian yang ditutupi) dan 'lemma' (bagian yang menutupi).
Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air.
Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:
1. amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang.
2. amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket.
Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

Tepung sagu
Sagu adalah butiran atau tepung yang diperoleh dari teras batang pohon sagu atau rumbia (Metroxylon sago Rottb.). Tepung sagu memiliki ciri fisik yang mirip dengan tepung tapioka. Dalam resep masakan, tepung sagu yang relatif sulit diperoleh sering diganti dengan tepung tapioka, meskipun keduanya sebenarnya berbeda.
Sagu merupakan makanan pokok bagi masyarakat di Maluku dan Papua yang tinggal di pesisir. Sagu dimakan dalam bentuk papeda, semacam bubur, atau dalam bentuk-bentuk yang lain. Sagu sendiri dijual sebagai tepung curah maupun yang dipadatkan dan dikemas dengan daun pisang. Selain itu, saat ini sagu juga diolah menjadi mi dan mutiara.
Sebagai sumber karbohidrat, sagu memiliki keunikan karena diproduksi di daerah rawa-rawa (habitat alami rumbia). Kondisi ini memiliki keuntungan ekologis tersendiri, walaupun secara ekonomis kurang menguntungkan (menyulitkan distribusi).
Tepung sagu kaya dengan karbohidrat (pati) namun sangat miskin gizi lainnya. Ini terjadi akibat kandungan tinggi pati di dalam teras batang maupun proses pemanenannya.

Tepung jagung
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.
Seratus gram sagu kering setara dengan 355 kalori. Di dalamnya rata-rata terkandung 94 gram karbohidrat, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10mg kalsium, 1,2 mg besi, dan lemak, karoten, tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah sangat kecil.
Kandungan gizi
Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis diketahui mengandung amilopektin lebih rendah tetapi mengalami peningkatan fitoglikogen dan sukrosa.
Kandungan gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:
a. Kalori : 355 Kalori
b. Protein : 9,2 gr
c. Lemak : 3,9 gr
d. Karbohidrat : 73,7 gr
e. Kalsium : 10 mg
f. Fosfor : 256 mg
g. Ferrum : 2,4 mg
h. Vitamin A : 510 SI
i. Vitamin B1 : 0,38 mg
j. Air : 12 gr
Dan bagian yang dapat dimakan 90 %. Untuk ukuran yang sama, meski jagung mempunyai kandungan karbohidrat yang lebih rendah, namum mempunyai kandungan protein yang lebih banyak. Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari.
Tepung kacang hijau
Tepung hunkwe merupakan tepung dari kacang hijau. Tepung ini berwarna putih dan biasanya dikemas dengan kertas berbentuk silender sekitar 18 cm. Jika dimasak tepung ini aromanya harum dan berwarna bening dan kenyal teksturnya. Biasanya diolah menjadi cendol, kue pisang atau puding. Karena agak unik aromanya maka tepung ini sulit diganti dengan tepung lain. Meskipun bisa juga diganti dengan tepung kanji dengan hasil sedikit berbeda.
Kandungan Gizi Kacang Hijau
Kacang hijau, biji matang, mentah.
Nilai Kandungan Gizi Kacang Hijau per 100 g (3.5 oz)
1. Energi 1.452 kJ (347 kcal)
2. Karbohidrat 62,62 g
3. Gula 6,60 g
4. Dietary fiber 16.3 g
5. Lemak 1,15 g
6. Protein 23,86 g
7. Vitamin C 4.8 mg (8%)
8. Kalsium 132 mg (13%)
9. Magnesium 189 mg (51%)
10. Fosfor 367 mg (52%)
11. Kalium 1246 mg (27%)
12. Sodium 15 mg (1%)

Tepung ketan
Tepung ketan merupakan bahan pokok pembuatan kue-kue Indonesia yang banyak digunakan sebagaimana juga hal dengan tepung beras.
Tepung ketan saat ini sangat mudah untuk mendapatkannnya karena banyak dijual dipasaran dalam bentuk tepung yang halus dan kering.
Tepung ketan memiliki amilopektin yang lebih besar dibandingkan dengan tepung-tepung lainnya. Amilopektin inilah yang menyebabkan tepung ketan (beras ketan) lebih pulen dibandingkan dengan tepung lainnya. Makin tinggi kandungan amilopektin pada pati maka makin pulen pati tersebut.
http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/06/tepung-ketan.html

BAB III
MATERI DAN METODE

A. Alat dan Bahan
a. Alat yang digunakan dalam pembuatan adhesive adalah sebagai berikut:
1. Neraca analitik
2. Pengaduk
3. Gelas beker 250 ml dan 100 ml
4. Pipet tetes
5. Gelas ukur
6. Kaca arloji
7. Oven
b. Bahan yang digunakan dalam pembuatan adhesive adalah sebagai berikut:
1. Pati (dari beberapa macam jenis tepung diantara tepung tapioca,beras,kacang hijau, terigu, kanji, maizena)
2. Natriun karbonat
3. Aquadest
4. Formaldehid
5. Natrium hidroksida

B. Cara Kerja
Adapun cara kerja pembuatan lem bahan dasar pati adalah sebagai berikut:
1. Dicuci gelas beker, lalu dikeringkan dalam oven.
2. Di timbang gelas beker kosong yang telah bersih dan kering kemudian di beri label 1.
3. Ditimbang 35 gram pati, masukkan ke dalam gelas beker tersebut (label 1).
4. Diambil gelas beker lain dan diberi label 2.
5. Dilarutkan 0,01 gram natrium karbonat kedalam 25 ml dalam gelas beker label 2.
6. Dituangkan isi gelas II ke dalam gelas beker Isedikit demi sedikit sambil di aduk terus menerus dengan pengaduk kayu hingga tercampur homogen.
7. Dilarutkan 8 gram natriun hidroksida dengan aquadest 25 ml.
8. Dimasukan larutan natrium hidroksida tersebut ke dalam gelas beker I sedikit demi sedikit sambil di aduk terus menerus dengan pengaduk kayu hingga tercampur homogen.
9. Dimasukan 0,6 ml formaldehid ke dalam gelas beker I sambil di aduk terus menerus dengan pengaduk kayu hingga tercampur merata atau sampai lem terbentuk.
10. Ditimbang gelas beker I dan dihitung berat lem yang dihasilkan.
11. Dicatat waktu reaksi, suhu glutinasi pada saat proses.
12. Diaplikasikan lem yang di peroleh dengan subtrat yang telah di tentukan.
13. Dilakukan pengujian kekuatan terhadap lem yang diperoleh dengan cara sebagai berikut :
 Dibuat beberapa lembaran potonga substrat (kertas karton dan kulit tersamak) dengan ukuran 2x10 cm,masing- masinng 2 lembar.
 Diambil salah satu contoh substrat, diolesi salah satu ujungnya denngan lem yang di peroleh dan akan diuji.
 Dibiarkan selama 5 menit, lalu kedua ujung contoh substrat yang telah diolesi lem direkatkan kemudian ditekan dengan menggunakan suatu alat pengepress/ lainnya.
 Dilakukan mengujian kuat rekat dengan alat ttensile strength tester, di catat bebannya.
 Diulangi percobaan dengan berbagai variasi waktu yaitu 10, dan 15 menit sebelum substrat tersebut direkatkan

C. Analisa Data dan Perhitungan
1. Data Analisa
Data bahan yang digunakan dalam pembuatan adhesive dari bahan dasar pati yaitu sebagai berikut :
 Tepung terigu
Berat tepung terigu : 35,015 gram
Berat gelas beker kosong : 128,279 gram
Volume Na2CO¬¬3 : 25 ml
Volume NaOH : 25 ml
Lama pengadukan : ± 1 jam 45 menit
Volume formaldehide : 0,6 ml
Suhu glutinasi : 38°C
Berat gelas beker + adhesive : 211,709 gram
Berat lem : 83,43 gram

 Tepung maizena
Berat tepung maizena : 35,005 gram
Berat gelas beker kosong : 124,60 gram
Volume Na2CO¬¬3 : 25 ml
Volume NaOH : 25 ml
Lama pengadukan : ± 2 jam 4 menit
Volume formaldehide : 0,6 ml
Suhu glutinasi : 38°C
Berat gelas beker + adhesive : 202,227 gram
Berat lem : 77,547 gram

 Tepung ketan
Berat tepung ketan : 35,009 gram
Berat gelas beker kosong : 109,049 gram
Volume Na2CO¬¬3 : 25 ml
Volume NaOH : 25 ml
Lama pengadukan : ± 2 jam 30 menit
Volume formaldehide : 0,6 ml
Suhu glutinasi : 35°C
Berat gelas beker + adhesive : 282,350 gram
Berat lem : 78,301 gram

 Tepung sagu
Berat tepung sagu : 17,509 gram
Berat gelas beker kosong : 114,964 gram
Volume Na2CO¬¬3 : 12,5 ml
Volume NaOH : 12,5 ml
Lama pengadukan : ± 1 jam 45 menit
Volume formaldehide : 0,3 ml
Suhu glutinasi : 31°C
Berat gelas beker + adhesive : 150,569 gram
Berat lem : 35,605 gram


 Tepung tapioca
Berat tepung tapioca : 35,052 gram
Berat gelas beker kosong : 108,842 gram
Volume Na2CO¬¬3 : 25 ml
Volume NaOH : 25 ml
Lama pengadukan : ± 2 jam 5 menit
Volume formaldehide : 0,6 ml
Suhu glutinasi : 36°C
Berat gelas beker + adhesive : 185,941 gram
Berat lem : 77,099 gram

 Tepung beras
Berat tepungrerigu : 35,000 gram
Berat gelas beker kosong : 108,447 gram
Volume Na2CO¬¬3 : 25 ml
Volume NaOH : 25 ml
Lama pengadukan : ± 2 jam 15 menit
Volume formaldehide : 0,6 ml
Suhu glutinasi : 36,9°C
Berat gelas beker + adhesive : 191,535 gram
Berat lem : 83,535 gram

 Tepung kacang hijau
Berat tepungrerigu : 35,013 gram
Berat gelas beker kosong : 105,624 gram
Volume Na2CO¬¬3 : 25 ml
Volume NaOH : 25 ml
Lama pengadukan : ± 1 jam 43 menit
Volume formaldehide : 0,6 ml
Suhu glutinasi : 37°C
Berat gelas beker + adhesive : 192,050 gram
Berat lem : 86,426 gram


2. Perubahan warna yang terjadi pada saat terglutinasi
 Tepung terigu : coklat tua
 Tepung maizena : kuning muda
 Tepung ketan : coklat muda
 Tepung sagu : coklat muda
 Tepung tapioca : coklat muda
 Tepung beras : kuning muda
 Tepung hungkue : coklat pekat

3. Perhitungan
Adapun perhitungan yang digunakan untuk menentuan berat lem yang di hasilkan yaitu dengan rumus sebagai berikut :
Rumus :
Berat adhesive yang dihasilkan = (Berat gelas beker + lem) – (berat gelas beker kosong)

Tabel.1. Lem yang dihasilkan dari beberapa bahan dasar pati
No Nama Bahan Berat Awal (gelas beker kosong)(gram) Berat Akhir (gelas beker + lem)(gram) Berat Bersih Lem (gram)
(B.akhir- B.awal)
1 Tepung Tapioka 108,842 185,941 77,099
2 Tepung Terigu 128,279 211,709 83,43
3 Tepung Hangkwe 105,624 192,050 86,426
4 Tepung Jagung 124,60 202,227 77,547
5 Tepung Beras 108,447 191,535 83,535
6 Tepung Ketan 109,049 282,350 78,301
7 Tepung Sagu 114,964 150,569 35,605





4. Data pengujian
Tabel.2. hasil pengujian lem yang dihasilkan dari beberapa bahan dasar pati
No Nama Tepung Kertas
Kulit
5’ 10’ 15’ 5’ 10’ 15’
1 Tepung Tapioca 0,5 0,7 0,6 0,2 0,3 0,2
2 Tepung Beras 0,8 1 0,8 0,1 0,6 0
3 Tepung Kacanng Hijau 0 0 0,4 0,7 0,5 0,5
4 Tepung Terigu 0 0,2 0,1 0,4 0,5 0
5 Tepung Maizena 0,1 o,3 0 0,6 0,7 0
6 Tepung Sagu 0,1 0,1 0 1,4 0,8 0
7 Tepung Tapioca 0,5 0,7 0,6 0,2 0,3 0,2





















BAB IV
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini yaitu pembutan lem dari bahan dasar pati, pada pembuatan lem ini terdapat dua perlakuan yaitu : perlakuan secara fisik atau mekanik yaitu pengadukan manual dengan menggunakan alat pengadukan seperti kayu, dan perlakuan secara kimia yaitu menambahkan bahan - bahan kimia yang dapat bereaksi dengan bahan dasar.
Pada awal praktikum, gelas beker yang akan digunakan dicuci hingga bersih untuk menghilangka kotoran yang dapat menggangu dalam proses dan dikeringkan dengan oven hingga kering yang bertujuan untuk menguapkan air yang masih tersisa dalam gelas beker. Kemudian gelas beker kosong tersebut ditimbang dan di beri label I dan II, penimbangan ini bertujuan untuk mengetahui berat awal gelas beker sehingga dapat di hitung berapa berat lem yang dihasilkan.
Perlakuan pertama yaitu perlakuan fisik atau mekanis yaitu dengan cara pengadukan manual menggunakan pengaduk dari kayu yang bertujuan untuk melarutkan atau menghomogenkan bahan dasar dengan bahan - bahan kimia yang ditambahkan sehingga lebih cepat terjadinya reaksi antara bahan dasar dengan bahan kimia karena sifat dari bahan kimia yang ditambahkan pada praktikum ini seperti natrium karbonat, NaOH dan formaldehid tidak dapat bereaksi secara sempurna tanpa dibantu dengan perlakuan mekanis yaitu pengadukan. Proses pengadukan ini sangat mempengaruhi hasil dari proses ini karena apabila pengadukan tidak dilakukan dengan sempurna dan bahan tidak terhomogenkan maka reaksi antara bahan dasar dengan bahan kimia tidak akan sempurna, dan berdasarkan hasil praktikum pembuatan lem dari pati didapatkan hasil yang sempurna setelah dilakukan pengadukan yang cukup lama dimana setiap bahan dasar yanng dibuat lem membutuhkan waktu pengadukan yang berbeda (berkisar antara 1,5– 2,5 jam ) dan suhu terglutinasinya yang berbeda pula.
Perlakuan kedua yaitu perlakuan kimia yang terjadi dalam praktikum ini adalah dengan penambahan beberapa bahan kimia yaitu penambahan natrium karbonat sebanyak 0,01 gram dilarutkan dengan 25 ml aquades. Setelah homogen, larutan natrium karbonat tersebut di teteskan sedikit demi sedikit ke dalam gelas beker label I yang di dalamnya telah berisi bahan dasar (pati) sambil diaduk-aduk hingga larutan natrium karbonat habis. Perubahan yang terjadi adalah pada awalnya bahan dasar (pati) berbentuk serbuk, setelah ditambahkan dengan natrium karbonat, bahan dasar (pati) menjadi gumpalan kental sedikit lengket. larutan Natrium Karbonat yang berfungsi sebagai pelarut bahan dasar dan sebagai bahan pembantu dalam proses pembentukan lem, hal ini dikarenakan bentuk fisik dari bahan dasar berbentuk bubuk halus sehingga perlu dilarutkan terlebih dahulu agar dapat mudah bereaksi dengan bahan pereaksi karena dengan dilarutkan terlebih dahulu struktur penyusun bahan dasar akan terbuka sehingga dapat mudah bereaksi dengan bahan pereaksinya selain itu juga sebagai bahan pengecer sekaligus nantinya untuk menjadi bahan pengembang karena pada saat proses pencampuran terjadi pengikatan CO2 yang dibuktikan dengan adanya gelembung-gelembung udara pada lem yang dibuat.
Perlakuan kimia yang selanjutnya pada gelas beker label II adalah dengan penambahan NaOH sebanyak 8 gram NaOH dilarutkan dengan 25 ml aquades hingga homogen. Pada penambahan larutan NaOH ini adalah bertujuan sebagai bahan pereaksi bagi bahan dasar hal ini dengan memanfaatkan panas pada larutan NaOH karena dengan adanya panas dari NaOH struktur bahan dasar yang telah terbuka oleh natrium karbonat tadi akan berikatan kembali sehingga terjadi proses glutinasi (lengket) pada bahan dasar sehingga menjadi sebuah lem, selain itu juga panas NaOH ini bersifat stabil sehingga tidak merusak struktur bahan dasar. Pencampuran ini, terjadi reaksi eksoterm yang ditandai dengan meningkatnya suhu larutan pada saat melarutkan NaOH. Setelah homogen, larutan NaOH tersebut di teteskan sedikit demi sedikit kedalam gelas beker label I sambil diaduk-aduk hingga larutan NaOH habis. Perubahan yang terjadi adalah pada awalnya bahan dasar (pati) berbentuk gumpalan kental sedikit lengket, setelah ditambahkan dengan larutan NaOH tepung dari bahan dasar pati menjadi gumpalan yang lebih lembut dari sebelumnya dan lebih lengket. Pada saat proses pencampuran antara larutan NaOH dengan bahan dasar pati yang sudah diencerkan, maka terjadi proses glutinasi atau pembentukan gel akibat reaksi kimia dan eksotermis dari larutan NaOH yang menyebabkan tepung menjadi masak dan terglutinasi. Larutan NaOH digunakan sebagai pemasak lem karena dalam air dingin granula pati terdispersi dan membentuk larutan berviskositas rendah. Viskositas larutan pati meningkat drastis bila mengalami pemanasan hingga mencapai suhu ±80 ̊C yang disertai dengan pengadukan. Suhu saat larutan pati mulai mengental disebut dengan suhu glutinasi. Glutinasi pati merupakan proses endoterm yang terjadi karena adanya air. Suhu glutinasi pada setiap bahan dasar pati berbeda, hal ini disebabkan oleh perbandingan kadar amilosa dan amilopektin pada setiap bahan dasar pati yang berbeda.
Perlakuan kimia yang terakhir adalah penambahan larutan formaldehid sebanyak 0,6 ml. Larutan formaldehid berfungsi sebagai bahan penstabil reaksi antara NaOH dengan bahan dasar sehingga adhesive yang dihasilkan tidak dapat lagi bereaksi dengan bahan-bahan kimia lain, selain itu formaldehid juga berfungsi sebagai pengawet agar lem tidak mudah rusak oleh serangan bakteri atau mikrobia yang tidak diinginkan sehingga lem yang dihasilkan menjadi tahan lama.
Terakhir, adhesive dan gelas beker tersebut ditimbang, untuk menentukan berat adhesive yang dihasilkan. Kemudian Berat tersebut dikurangi dengan berat gelas beker kosong sehingga berat adhesive yang dihasilkan dapat diketahui.
Pada praktikum pembuatan lem karbohidrat, zat aktif yang terkandung dalam masing-masing bahan yang dapat bereaksi menjadi perekat adalah amilopektin. Amilopektin merupakan polisakarida yang tersusun dari monomer α-glukosa. Amilopektin merupakan molekul raksasa dan mudah ditemukan karena menjadi satu dari dua senyawa penyusun pati bersama-sama dengan amilosa. Walaupun tersusun dari monomer yang sama, amilopektin berbeda dengan amilosa, yang terlihat dari karakteristik fisiknya. Secara struktural, amilopektin terbentuk dari rantai glukosa yang terikat dengan ikatan 1,6-glikosidik, sama dengan amilosa. Namun demikian, pada amilopektin terbentuk cabang-cabang (sekitar tiap 20 mata rantai glukosa) dengan ikatan 1,4-glikosidik.
Dari hasil praktikkum yang mengunakan bahan dasar pati yang berbeda di peroleh hasil pengamatan sebagai berikut :
Perubahan warna yang terjadi pada saat terglutinasi
 Tepung terigu : coklat tua
 Tepung maizena : kuning muda
 Tepung ketan : coklat muda
 Tepung sagu : coklat muda
 Tepung tapioca : coklat muda
 Tepung beras : kuning muda
 Tepung hungkue : coklat pekat
Perbedaan warna ini terjadi karena perbedaan dari masing- masing bahan dasar pati yang digunakan dan juga pada saat terglutinasi. Dimana suhu terglutinasi masing- masing lem berbeda yang menyebabkan perbedaan waktu terbentuknya lem. Pada data yang dihasilkan, bahwasannya glutinasi terjadi antara pada suhu 35 °C – 38 °C. Akan tetapi mayoritas lem terglutinasi pada suhu 38°C.
Menurut data hasil pengujian pada setiap lem yang telah diaplikasikan terhadap beberapa subtract yaitu kulit dan kertas karton, didapatkan lem yang memiliki daya rekat yang paling kuat yaitu lem dari bahan dasar tepung beras. Pengujian ini dilakukan dengan cara membuat lembaran potongan dari masing- masing subtract dengan ukuran 2x10 cm, kemudian subtract di olesi pada salah satu ujungnnya dengan lem yang telah dihasilkan. Kemudian di diamkan dalam rentang waktu yang berbeda yang telah di tentukan dengan berbagai variasi yaitu 5,10,dan 15 menit yang bertujuan untuk membandingan kekuatan daya rekat lem pada masing- masing subtrat yang telah di hasilkan.
Berdasarkan hasil praktikum dari pembuatan lem berbahan dasar pati di dapatkan hasil lem yang paling banyak yaitu pada tepung hungkue/ kacang hijau sebanyak 86,426 gram dan lem yang paling sedikit di hasilkan oleh lem berbahan dasar dari tepung sagu yaitu sebanyak 35,605 gram hal ini dikarekan pada saat proses pembuatan bahan dasar yang digunakan hanya dari setenngah dari berat yang di tentukan.
Dan setelah dilakukan pengujian dengan alat tensille strength guna untuk mengetahui kekuatan daya tarik sehingga dapat diketahui berapa kekuatan daya tarik dari masing- masing lem yang di hasilkan dari beberapa bahan dasar pati yang berbeda yaitu seperti halnya tabel.I pada hasil pengamatan. Didapatkan hasil kekuatan daya tarik lem yang paling kuat yaitu lem yang berbahan dasar tepung beras karena pada tepung tersebut mengandung kadar amilopektin yang lebih tinggi di banding tepung yang lainnya, dan pada dasarnya amilopektin menyebabkan sifat lengket dengan rantai bercabang yang mempunyai ikatan likosida α-1,6 di samping α-1,4. Sehingga memberikan daya rekat yang kuat.


















BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang kami lakukan maka dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut.
1. Pada praktikum pembuatan adhesive dengan bahan dasar tepung dari bahan dasar pati yang kami lakukan dengan cara diaduk manual, diperlukan tenaga yang cukup maksimal.
2. Warna lem yang dihasilkan dari masing-masing lem yang dihasilkan berbeda
3. Fungsi Natrium karbonat adalah sebagai bahan pengembang lem
4. Fungsi Natrium hidroksida adalah sebagai bahan pemasak lem, sehingga lem dapat terglutinasi
5. Fungsi formalin adalah sebagai bahan pengawet lem, sehingga lem tidak mudah rusak.
6. Berat lem yang terbesar adalah lem dari tepung hungkue/ kacang hijau, sedangkan berat lem yang paling kecil adalah lem dari tepung sagu
7. Kekuatan daya tarik lem yang paling kuat yaitu lem yang berbahan dasar tepung beras
















DAFTAR PUSTAKA

Jumat, 02 Desember 2011

PENENTUAN PANJANG GELOMBANG


PENENTUAN PANJANG GELOMBANG

I.       Tujuan
  1. dapat mengoperasionalkan alat spketrofotometer HACH DR/2400
  2. dapat mencari panjang gelombang maximum (λ max)
  3. dapat menghitung konsentrasi dengan menggunakan spektrofotometer

II.    Dasar Teori
Spektrum cahaya dari matahari dapat dilihat secara alamiah yaitu dalam bentuk pelangi. Dalam tahun 1672 Newton dapat menunjukkan bahwa pemecahan radiasi terlihat dari sinar matahari menjadi komponen – komponen yang berwarna dapat dilakukan dengan menggunakan  prisma geles disamping atmosfer yang berair. Dengan menggunakan serangkaian lensa dan prisma maka sinar matahari dapat terpecah menjadi beberapa komponen yang berwarna dan dapat terlihat pada layar spectrum. Ternyata spektrum terlihat dapat juga diperoleh dari lain sumber disamping sinar matahari. Sebagai misal pengaliran arus listrik melalui filament yang terbuat dari bahan seperti tungsten menghasilkan suatu sumber yang berpijar dan memancarkan radiasi terlihat. ( Sastrohamidjojo,2001)
Gelombang elektromagnetik mempunyai komponen listrik dan komponen magnetik. Dua komponen bergetar dalam bidang – bidang yang tegak lurus satu sama lain dan tegak lurus pada arah perjalanan radiasi. Hanya komponen listrik yang aktif dalam interaksinya dengan benda. Panjang gelombang (λ) adalah jarak antara dua puncak pada gelombang . Kuadrat dari amplitudo(A) dari gelombang adalah merupakan ukuran dari intensitas gelombang. Sifat lain dari gelombang elektromagnetik adalah frekuensinya,υ,jumlah satuan yang terjadi perstuan waktu (per detik) atau hertz.
Terdapat pertalian antara panjang gelombang, frekuensi, dan kecepatan cahaya yang dinyatakan oleh persamaan:

λ υ = c / n  

dimana C = kecepatan cahaya dalam hampa dan n adalah indeks bias (perbandingan kecepatan cahaya dalam hampa dan kecepatanya dalam media). Frekuensi radiasi adalah sama dalam setiap media. Hanya kecepatan dan panjang gelombang radiasi yang berubah dari dengan benda, adalah perlu memikirkan berkas sinar sebagai foton. Tenaga setiap foton berbanding langsung dengan frekuensi radiasi dan hal ini dinyatakan dalam persamaan:

E = h υ = h c / n λ

Foton yang memiliki frekuensi yang tinggi (panjang gelombang pendek) mempunyai tenaga yang lebih tinggi dari pada foton yang berfrekuensi rendah (panjang gelombang panjang). Intensitas berkas sinar sebanding dengan jumlah foton dan tak tergantung pada tenaga setiap foton. Radiasi kosmos mempunyai tenaga yang lebih besar dari pada sinar infra merah. Kebanyakan tenaga dinyatakan dalam Joule (J),tetapi dalam spektroskopi massa tenaga dinyatakan dalam electron volt ; 1 elektron volt, 1 ev = 1,6021 x 10-19J, hingga sinar ultraviolet yang mempunyai panjang gelombang 100 nm memiliki tenaga kira – kira  12 ev.
Untuk menyatakan tenaga dalam J mol-1,perumusan E = h υ harus dikalikan dengan tetapan Avogadro NA, (60,02 x 10 23 mol-1).
Bila cahaya jatuh pada senyawa , maka sebagian dari cahaya diserap oleh molekul –molekul sesuai dengan struktur dari molekul. Setiap senyawa mempunyai tingkatan tenaga yang spesifik. Bila cahaya mempunyai tenaga yang sama dengan perbedaan tenaga antara tingkatan dasar (G) dan tenaga tingkatan tereksistasi (E,E2……….) jatuh pada senyawa,maka electron pada tingkatan dasar dieksistensikan ke tingkatan tereksistasi,dan sebagian tenaga cahaya yang sesuai dengan panjang gelombang akan diserap. Elektron yang tereksistasikan melepaskan tenaga dengan proses radiasi panas dan kembali ketingkatan dasar (G) asal.
Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spectrum ultraviolet dan terlihat tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra ultraviolet dan terlihat dari senyawa organic berkaitan erat transisi – transisi diantara tingkatan tenaga elektronik. Disebabkan karena hal ini, maka serapan radiasi ultraviolet/terlihat sering dikenal sebagai spektroskopi elektronik. Transisi tersebut biasanya antara orbital ikatan antara orbital ikatan atau orbital pasangan bebas dan orbital non ikatan tak jenuh atau orbital anti ikatan.
Kekuatan cahaya dari radiasi yang dipancarkan menggambarkan kekuatan cahaya yang masuk dikurangi dengan yang hilang oleh penghamburan, pemantulan, dan serapan oleh konstituen lain (biasanya sangat kecil). Jadi hilangnya tenaga cahaya ini sebagai Io. Jadi hilangnya tenaga cahaya berbanding langsung dengan N (jumlah spesies penyerap) dan I (jumlah foton per luas penampang per detik). Untuk lapisan db,jumlah spesies penyerap adalah:
N = (6,02 x 1020 spesies / m mol) (C m mol/ml) (db x X xxY ml) dimana db, X dan Y
Adalah dimensi linear dari lapisan (anggap 1cc = 1 ml). Karena X dan Y konstan maka
N = kcdb
Dimana k = (6,02 x 10 20) (X x Y) spesies –Cm2 / m mol.
Jumlah tumbukan adalah sebanding dengan hasil kali N x I atau
d I α N I = kI c d b
hingga d I =-k I c d b
dimana k adalah tetapan penyebanding,tanda negative digunakan karena menyatakan penurunan kekuatan cahaya sebagai kenaikan db.
Apabila Seberkas sinar melewati suatu larutan yang konsentrasinya c, maka sinar tersebut akan diserap oleh larutan dan sebagian hilang diserap oleh larutan dan sebagian akan diteruskan. Jumlah sinar yang diserap larutan berbanding langsung dengan konsentrasi larutan dan tebal sel/ wadah. Hubungan ini dirumuskan oleh Beer Lambert_Bougner.  Hingga diperoleh persamaan sebagai berikut:
Log T = -ε b c atau – log T = ε b c
-log T didefinisikan sebagai absorbansi atau kerapatan optic.
- log T = A = ε b c
       A    = ε b c
Dimana:
T = transmitasi
A = absorbansi
ε= koefisien ekstingsi molar
b = tebal sel
c = konsentrasi larutan
Berikut disajikan tabel perbandingan system kerja AAS dan Spectofotometer dengan data sebagai berikut:


Tabel.1.Perbandingan Sistem kerja AAS dan spectofotometer.
No.
Parameter
AAS
Spektrofotometer
1.
Pereaksi / Reagent yang digunakan
Lebih sedikit, pereaksi digunakan hanya pada preparasi awal saja, yaitu K2Cr2O7 dan asam kuat konsentrasi rendah
Lebih banyak, karena masing-masing parameter menggunakan peraksi yang berbeda
2.
Mekanisme Analisis
Lebih cepat dan mudah dalam pengerjaan
Jauh lebih lama dan rumit dalam pengerjaan
3.
Harga / cost Analisis
Lebih murah karena sedikitnya pereaksi yang digunakan walaupun banyak parameter yang akan dianalisis
Lebih mahal karena banyaknya pereaksi yang digunakan untuk semua paramater
4.
Preparasi awal
Lebih mudah dan hanya melakukan sekali preparasi untuk semua parameter analisis
Lebih rumit dan preparasi untuk masing-masing parameter berbeda
5.
Mekanisme alat / panjang gelombang
Tidak mengatur panjang gelombang, hanya mengganti lampu katoda sesuai dengan parameter analisa
Masing-masing parameter harus dilakukan pengesetan panjang gelombang terlebih dahulu
6.
Volume sampel
Lebih sedikit karena sekali preparasi hanya berjumlah + 50 mL
Lebih banyak karena masing-masing parameter volume sampelnya berbeda




III. Alat:

  1. Neraca analitik
  2. Kaca arloji
  3. Beker gelas
  4. Labu takar 250 ml, 100 ml, 50 ml
  5. Pengaduk kaca
  6. Spektrofotometer HACH DHR/2400
  7. Cuvet

IV. Bahan:
  1. Aseton
  2. Diphenil Karbazid
  3. H2SO10%
  4. Larutan standar K2Cr2O7

V.    Cara Kerja:
  1. pembuatan larutan diphenil karbazid
a.       ditimbang 0,25 mgr diphenil karbazid dengan kaca arloji
b.      dilarurkan dengan asam aseton dalam gelas beker, lalu dituang ke dalam labu takar 50 ml. Kemudian gelas beker dibilas dengan aseton, dituang ke dalam labu takar samapi tanda batas kemudian dihomogenkan.
  1. pembuatan larutan H2SO4 10%
a.       dipipet H2SO4 pekat sebanyak 10 ml
b.      dimasukkan dalam labu takar 100 ml yang sudah diisi aquades dan ditera sampai tanda batas, kemudian dihomogenkan.
  1. Pembuatan larutan standar K2Cr2O7 (larutan induk)
a.       Ditmbang 1,413 gram K2Cr2O7 denan kaca arloji
b.      Dilarutkan dalam labu takar 250 ml dengan aquades
c.       Dituang ke dalam labu takar 250 ml
d.      Beker gelas dibilas sampai bersih, bilasan dituang ke dalam labu takar
e.       Ditambahkan aquades, ditera sampai tanda kemudian dihomogenkan.
  1. Pembuatan deret standar
Dibuat standar K2Cr2O7 sebesar 0,5 ppm, 1 ppm sebanyak 50 ml dalam labu takar dengan mengencerkan larutan induk.
  1. Pengukuran panjang gelombang
a.       Diambil salah satu deret standar
b.      Ditambahkan H3PO4 10% 3-5 tetes
c.       Ditambahka larutan diphenil karbazid 3-5ml
d.      Dihomogenkan
e.       Dipipet larutan standar yang sudah ditambahkan H3PO4 10% dan karbazid 10 ml, lalu dimasukkan dalam cuvet.
f.       Dinyalakan spketrofotometer HACH DR/2400
g.      Ditekan single wavelength, lalu dimasukkan blanko
h.      Tekan λ
i.        Pilih λ yang akan diisi dengan menekan tombol angka
j.        Zero ditekan, muncul 0.0000, kemudian dikeluarkan blanko
k.      Dimasukkan standar
l.        Ditekan read, lalu hasilnya dibaca. Diulangi berkali-kali hingga didapat λ max
iklan banner
iklan banner